Daun Ubi Jalar, Sayur Murah Kaya Protein: Alternatif Pangan Lokal yang Terlupakan

AKURAT.CO Di balik kesederhanaannya, daun ubi jalar ternyata menyimpan potensi besar sebagai sumber protein nabati lokal. Sayuran berdaun hijau ini kerap hanya dianggap pelengkap lalapan atau pakan ternak.
Padahal, menurut penelitian, daun ubi jalar mengandung protein cukup tinggi untuk ukuran sayuran, bahkan bisa menjadi alternatif sumber protein nabati masyarakat Indonesia. Di saat harga daging dan produk hewani kian tinggi, daun ubi jalar bisa menjadi “daging hijau” yang terjangkau.
Peneliti pangan dari Food and Agriculture Organization (FAO), James A. Woolfe, dalam bukunya Sweet Potato: An Untapped Food Resource (1992), menyebutkan bahwa daun ubi jalar segar mengandung protein sekitar 2,7 hingga 5,2 gram per 100 gram, tergantung varietas dan kondisi lingkungan.
Sementara itu, dalam bentuk kering, kandungan proteinnya melonjak hingga 20–30 gram per 100 gram. “Daun ini tidak hanya kaya protein, tapi juga sumber vitamin A, C, zat besi, dan antioksidan yang penting untuk kesehatan,” tulis Woolfe.
Hal senada disampaikan oleh Giami dan Alu (1994) dalam Journal of the Science of Food and Agriculture, yang meneliti varietas lokal Afrika dan menemukan potensi daun ubi jalar sebagai bahan pangan bergizi tinggi yang murah dan mudah dibudidayakan.
Nilai Tambah Kesehatan dan Keamanan Pangan Lokal
Menurut laporan World Health Organization (WHO), peningkatan konsumsi sayuran berdaun hijau yang kaya protein, seperti daun ubi jalar, dapat berkontribusi dalam mengurangi malnutrisi mikro (hidden hunger) di negara berkembang. Kandungan zat besi, kalsium, magnesium, serta vitamin C dan A di dalamnya menjadikan daun ini bukan sekadar bahan pangan, tapi juga penunjang daya tahan tubuh.
Selain itu, kandungan senyawa fenolik dan flavonoid dalam daun ubi jalar menunjukkan potensi antioksidan, anti-inflamasi, dan bahkan antidiabetes, sebagaimana dilaporkan dalam studi oleh Islam, S. (2006) di Journal of Medicinal Food.
Mudah Diolah, Tidak Kalah dengan Bayam
Daun ubi jalar mudah diolah menjadi berbagai hidangan. Ahli gizi komunitas dari IPB, Dr. Lilis Nuraida, mengatakan bahwa untuk mempertahankan kandungan proteinnya, sebaiknya daun ubi jalar dikukus atau ditumis ringan. “Proses perebusan lama bisa menghilangkan sebagian nutrisi, terutama vitamin C yang larut air,” ujarnya dalam seminar pangan lokal di Bogor, 2023.
Dalam konteks ketahanan pangan dan gizi keluarga, daun ubi jalar berpotensi sebagai solusi murah, sehat, dan ramah lingkungan. Sebagaimana ditekankan oleh Kementerian Kesehatan RI dalam Pedoman Gizi Seimbang (2021), keberagaman sumber pangan nabati lokal harus digalakkan untuk mendukung pola makan sehat dan mandiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Trump Akui AS Kembali Serang Iran, Sistem Pertahanan Udara Dihancurkan dalam Hitungan Menit
- 2Moto3 Qatar, Hiroshi Aoyama Terima Penalti Veda Ega Pratama, Tegaskan 'Feeling' Pembalap Bagus
- 3Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 4Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 5Kalender Jawa 6 November 2026: Weton Jumat Pahing, Wataknya Dikenal Gigih dan Ambisius
- 6KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 7Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar








