Akurat

McDonald’s Indonesia dan Tantangan Boikot Produk Amerika

Arief Rachman | 19 November 2024, 23:00 WIB
McDonald’s Indonesia dan Tantangan Boikot Produk Amerika

AKURAT.CO Dengan rata-rata 10 juta pelanggan setiap bulan, McDonald's (McD) adalah salah satu restoran cepat saji paling menguntungkan di Indonesia.

Namun, seperti merek ikonik Amerika lainnya seperti Starbucks dan KFC, McDonald's kini menghadapi ancaman serius terhadap kelangsungan bisnisnya di Indonesia.

Sejak satu tahun terakhir, gerakan boikot terhadap produk-produk yang terkait dengan Israel dan Amerika Serikat semakin meluas.

Hal ini dipicu oleh kebijakan Washington yang terus mendukung Israel, termasuk memberikan pendanaan, senjata, dan mesin perang.

Situasi ini diperburuk oleh bombardir Israel di Gaza yang menewaskan lebih dari 45.000 penduduk, sehingga memicu kemarahan publik di berbagai negara, khususnya negara-negara Muslim.

Baca Juga: Lepas Rafael Nadal Menuju Pensiun, Roger Federer Kenang Pertarungan Pertama Pada 2004

Gerakan Boikot dan Dampaknya di Indonesia

Perubahan sikap konsumen telah berdampak signifikan pada banyak gerai McDonald’s. Di beberapa negara Muslim, perusahaan terpaksa menutup gerainya untuk mengurangi kerugian.

Di Indonesia, beberapa gerai juga dilaporkan tutup, seperti McDonald's di Plaza Malioboro, Yogyakarta.

Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) Indonesia, bagian dari jaringan global BDS yang mendukung hak-hak rakyat Palestina, menyoroti dua alasan utama kenapa McDonald’s menjadi target boikot.

Dalam unggahannya di platform X (sebelumnya Twitter), BDS Indonesia menyatakan, McDonald’s memberikan layanan khusus untuk militer Israel, yang dianggap berkontribusi langsung pada genosida di Palestina.

"McDonald’s pusat membeli semua gerai di Israel menggunakan dana dari royalti yang dibayarkan oleh franchise di seluruh dunia," cuit BDS Indonesia.

Pemilik McDonald’s Indonesia

McDonald’s Indonesia dimiliki dan dioperasikan oleh Grup Sosro, konglomerasi bisnis yang terkenal dengan produk Teh Botol Sosro.

Sejak 2009, PT Rekso Nasional Food, anak usaha Grup Sosro, memegang hak penuh atas waralaba McDonald's di Indonesia.

Sebelumnya, waralaba McDonald's dikelola oleh pengusaha nasional Bambang Rachmadi hingga 97 cabangnya diambil alih oleh Grup Sosro.

Grup Sosro memanfaatkan hubungan antara McDonald’s dan Teh Botol Sosro melalui promosi bundling di lebih dari 300 gerai McDonald's Indonesia.

Namun, afiliasi ini kini menjadi tantangan tersendiri, karena sebagian konsumen menganggap uang yang mereka keluarkan untuk McDonald’s ikut mengalir ke Amerika Serikat dan mendukung kebijakan luar negeri Washington yang pro-Israel.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Hingga saat ini, belum ada data pasti mengenai penghasilan Grup Sosro dari pengoperasian McDonald’s di Indonesia.

Sebagai perbandingan, pada periode 1991-2007, saat masih dikelola oleh Bambang Rachmadi, pendapatan dari 97 gerai McDonald’s mencapai Rp8 triliun, dengan sebagian besar keuntungan dialirkan ke Amerika Serikat dalam bentuk royalti dan biaya waralaba.

Baca Juga: Kementerian ESDM Bakal Pangkas Izin Panas Bumi Jadi 5 Hari

Kini, tekanan dari gerakan boikot menjadi tantangan besar bagi McDonald’s Indonesia. Selain harus menghadapi kerugian finansial, perusahaan juga perlu mencari cara untuk memulihkan citra di tengah kritik konsumen yang semakin tajam.

Gerakan ini menunjukkan bagaimana isu global dapat berdampak signifikan pada bisnis lokal, terutama di negara dengan sensitivitas tinggi terhadap konflik internasional seperti Indonesia.

McDonald's Indonesia, bersama Grup Sosro, kini berada di persimpangan antara menjaga profitabilitas dan merespons tuntutan konsumen yang semakin kritis.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.