Akurat

Banyak Orang Tua Rela Bikin Menu Spesial Demi Anak yang Pilih-pilih Makanan

Ratu Tiara | 29 April 2024, 18:35 WIB
Banyak Orang Tua Rela Bikin Menu Spesial Demi Anak yang Pilih-pilih Makanan

AKURAT.CO Sebuah survei baru menemukan bahwa orang tua memilih untuk menyerah ketika harus mengurus anak yang pilih-pilih makanan.

Tiga dari lima orang tua mengatakan, mereka bersedia memasak makanan khusus (spesial) dan menyiapkan makanan terpisah untuk anak yang menolak keras makan malam keluarga, menurut jajak pendapat nasional dari Universitas Michigan.

Kebiasaan pilih-pilih makanan menyebabkan anak-anak dapat mengunyah sesuatu yang kurang sehat, kata Dr. Susan Woolford, dokter anak di Rumah Sakit Anak C.S. Mott Universitas Michigan Health.

“Daripada membiarkan anak memilih menu yang sembarangan, orang tua harusnya tetap memberikan makanan yang seimbang dengan setidaknya satu pilihan yang biasanya disukai anak mereka,” kata Woolford dalam rilis berita rumah sakit.

“Kemudian jika anak mereka memilih untuk tidak makan, orang tua tidak perlu khawatir karena hal ini tidak akan membahayakan kesehatan anak mereka dan mereka akan lebih cenderung memakan pilihan yang disajikan pada waktu makan berikutnya,” tambah Woolford.

Baca Juga: Waspada, Makanan Rendah Nutrisi Bisa dengan Mudah Diakses si Kecil

Tantangan terbesar orang tua adalah menerapkan pola makan yang sehat kepada anak yang pilih-pilih makanan, menurut hasil Jajak Pendapat Nasional tentang Kesehatan Anak dari University of Michigan Health C.S. Mott Children’s Hospital.

Namun keinginan untuk memastikan anak usia prasekolah atau sekolah dasar mengonsumsi makanan bergizi seimbang seringkali mengarah pada strategi yang menjadi bumerang, menurut hasil jajak pendapat.

“Usia prasekolah dan sekolah dasar adalah waktu yang penting untuk membentuk pola makan yang sehat,” kata Woolford, yang ikut memimpin jajak pendapat tersebut. “Namun kekhawatiran orang tua mengenai apakah anak mereka cukup makan atau apakah mereka mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan dapat mengarahkan mereka untuk melakukan praktik yang justru menyabotase upaya mereka untuk membuat anak memiliki kebiasaan makan yang sehat dalam jangka pendek dan panjang. ”

Misalnya, satu dari delapan orang tua melakukan hal sebaliknya dan mengharuskan anak-anak mereka makan semua yang ada di piring mereka, menurut jajak pendapat tersebut.

Setengah lainnya mengatakan anak-anak mereka harus mencoba segala sesuatu, dan kurang dari sepertiganya menahan makanan penutup jika makanan belum habis.

Taktik seperti itu dapat mendorong anak-anak untuk makan lebih banyak daripada makan sampai mereka merasa kenyang, kata Woolford.

“Mewajibkan anak-anak untuk makan semua yang ada di piringnya, atau tidak memberikan makanan penutup kecuali semua makanan lain sudah dimakan, dapat menyebabkan konsumsi berlebihan, terutama jika ukuran porsinya terlalu besar untuk usia anak,” kata Woolford.

Ukuran porsi adalah kunci untuk menurunkan risiko obesitas pada masa kanak-kanak, namun sulit bagi orang tua untuk “menetapkan” porsi anak, menurut hasil jajak pendapat.

Baca Juga: Indra Sjafri Bebaskan Pemain Timnas Indonesia U-20 Nikmati Makanan Khas LebaranWoolford merekomendasikan pendekatan “orang tua menyediakan, dan anak memutuskan.”

Orang tua bertanggung jawab untuk menyediakan pilihan yang sehat, dan kemudian anak memilih makanan apa yang akan mereka makan dan jumlah yang ingin mereka konsumsi.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.