Warga India Panik, China Diduga Perluas Aktivitas di Perbatasan Himalaya

AKURAT.CO Kekhawatiran melanda sejumlah desa terpencil di perbatasan India-China di Arunachal Pradesh. Warga setempat mengaku mulai kehilangan akses ke lahan leluhur untuk menggembalakan yak dan berburu akibat dugaan meningkatnya aktivitas militer China.
Citra satelit yang diperoleh The Independent menunjukkan pembangunan sejumlah bangunan, jalan dan helipad di beberapa titik sepanjang perbatasan yang disengketakan. Analisis Janes menyebut sebagian infrastruktur tersebut berada di wilayah yang diklaim oleh kedua negara dan beberapa di antaranya berpotensi digunakan untuk kepentingan militer.
Takok Mra, warga desa Gelemo yang berjarak sekitar 20 kilometer dari perbatasan, mengatakan masyarakat setempat merasa wilayah leluhur mereka semakin terdesak.
“China saat ini merambah tanah leluhur kami. Kami makan, bertahan hidup dan mencari nafkah dari sini. Ini tanah kami. Mereka sudah masuk cukup jauh ke wilayah India,” kata Mra.
Baca Juga: Tak Kunjung Akur, Tentara India-China Kembali Berperang di Perbatasan
Kekhawatiran tersebut diperkuat laporan dua kelompok pencari fakta yang mengunjungi Gelemo dan Taksing pada Agustus 2026. Mereka melaporkan adanya dugaan kehadiran pasukan China di sejumlah lokasi yang selama ini digunakan warga untuk berburu dan menggembalakan yak. Akses masyarakat ke beberapa kawasan tersebut kini disebut dibatasi.
Tadak Pakba dari All Tagin Students' Union mengatakan kondisi tersebut belum pernah terjadi sebelumnya. “Bukan hanya kepanikan di desa-desa perbatasan, ini adalah kenyataan di lapangan. Tentara India mundur, sementara tentara China bergerak maju,” ujarnya.
Di sisi lain, militer India membantah laporan mengenai penerobosan China dan menyebutnya “tidak benar dan tidak berdasar”. China juga tidak mengonfirmasi adanya ketegangan baru. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan, “Situasi perbatasan China-India secara umum saat ini stabil.”
Persoalan ini muncul menjelang kunjungan Presiden China Xi Jinping ke India untuk bertemu Perdana Menteri Narendra Modi. Hubungan kedua negara sebelumnya memburuk setelah bentrokan di Lembah Galwan pada 2020 yang menewaskan sedikitnya 20 tentara India.
Profesor kajian China dari Jawaharlal Nehru University, Srikanth Kondapalli, menilai aktivitas tersebut dapat dikaitkan dengan strategi “salami slicing”, yakni memperluas pengaruh secara bertahap melalui pembangunan dan penguasaan titik-titik strategis.
“Ketika tidak ada perlawanan, mereka membangun struktur kecil, kemudian menjadikannya bangunan permanen. Jika tetap tidak mendapat perlawanan, mereka membangun satu kompi militer,” kata Kondapalli.
Sumber: Independent
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit








