Akurat

Hampir 6.000 Tahanan ISIS Dipindahkan dari Suriah ke Irak, AS Cegah Potensi Kebangkitan Kelompok Teroris

Fitra Iskandar | 19 Februari 2026, 10:40 WIB
Hampir 6.000 Tahanan ISIS Dipindahkan dari Suriah ke Irak, AS Cegah Potensi Kebangkitan Kelompok Teroris

AKURAT.CO Hampir 6.000 tahanan ISIS yang ditahan di Suriah utara dipindahkan ke Irak dalam operasi lintas lembaga yang berlangsung selama beberapa pekan. Langkah ini dilakukan Amerika Serikat untuk mencegah potensi pelarian massal yang dikhawatirkan dapat memicu kebangkitan kembali kelompok teroris tersebut.

Seorang pejabat senior intelijen AS menyebut para tahanan itu sebagai “yang paling berbahaya dari yang paling berbahaya.” Mereka sebelumnya dijaga oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi, di tengah situasi keamanan yang semakin tidak stabil akibat bentrokan bersenjata di berbagai wilayah Suriah.

Pejabat tersebut mengatakan, jika penjara-penjara itu runtuh dalam kekacauan, dampaknya akan langsung terasa.

“Jika sekitar 6.000 orang ini lolos dan kembali ke medan perang, itu pada dasarnya akan menjadi kebangkitan instan ISIS,” ujarnya kepada Fox News Digital.

Ancaman Sudah Tercium Sejak Oktober

Menurut pejabat itu, risiko pelarian massal telah terdeteksi sejak akhir Oktober. Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, saat itu menilai masa transisi Suriah berpotensi berubah menjadi kekacauan yang membuka peluang terjadinya pelarian besar-besaran.

Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) kemudian mengirim pejabat tersebut ke Suriah dan Irak untuk memulai pembicaraan awal dengan SDF dan pemerintah Irak. Tujuannya adalah memindahkan para tahanan yang dianggap paling berbahaya sebelum situasi memburuk.

Kekhawatiran meningkat pada awal Januari ketika pertempuran pecah di Aleppo dan meluas ke wilayah timur. “Kami melihat situasi krisis yang sangat serius,” kata pejabat tersebut.

ODNI disebut menggelar koordinasi harian lintas lembaga ketika situasi semakin memanas. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menangani pertimbangan kebijakan harian, sementara ODNI memimpin kelompok kerja yang menyelaraskan Komando Pusat AS (CENTCOM), diplomat, dan pejabat intelijen untuk memastikan ribuan tahanan ISIS tidak lepas di tengah kabut perang.

Irak Bergerak Cepat

Pemerintah Irak, menurut pejabat tersebut, memahami besarnya risiko. Baghdad khawatir pelarian massal akan membuat ribuan militan menyeberang perbatasan dan menghidupkan kembali ancaman seperti yang pernah terjadi pada 2014, ketika ISIS menguasai wilayah luas di Irak.

Kedutaan Besar AS di Baghdad berperan penting dalam memuluskan jalur diplomatik untuk pelaksanaan operasi logistik besar tersebut.

Operasi Angkut Udara

Tahap pemindahan dilakukan dengan dukungan sumber daya tambahan dari CENTCOM, termasuk penggunaan helikopter dan aset militer lainnya. Operasi berlangsung dalam waktu singkat.

“Berkat upaya pengerahan helikopter dan tambahan sumber daya, serta kerja logistik yang intensif, kami mampu memindahkan hampir 6.000 orang itu hanya dalam beberapa pekan,” kata pejabat tersebut.

Para tahanan kini ditahan di fasilitas dekat Bandara Internasional Baghdad di bawah otoritas Irak.

Tahap Identifikasi dan Proses Hukum

Tahap berikutnya difokuskan pada identifikasi dan pertanggungjawaban hukum. Tim FBI telah berada di Irak untuk melakukan perekaman biometrik para tahanan. Pejabat AS dan Irak juga menelaah informasi intelijen yang dapat dideklasifikasi guna mendukung proses penuntutan.

“Yang mereka minta dari kami pada dasarnya adalah sebanyak mungkin intelijen dan informasi mengenai individu-individu ini,” ujarnya. “Prioritas saat ini adalah identifikasi biometrik.”

Departemen Luar Negeri AS juga mendorong negara-negara asal para tahanan untuk mengambil kembali warganya.

“Departemen Luar Negeri saat ini melakukan pendekatan dan mendorong berbagai negara untuk menjemput para pejuangnya,” kata pejabat itu.

Tantangan Kamp al-Hol

Operasi ini hanya mencakup para pejuang ISIS, tidak termasuk keluarga mereka yang berada di kamp-kamp pengungsian seperti al-Hol. Kamp tersebut menampung ribuan perempuan dan anak-anak yang terkait ISIS.

Menurut pejabat tersebut, SDF dan pemerintah Suriah telah mencapai kesepahaman bahwa Damaskus akan mengambil alih pengelolaan kamp al-Hol. Ia mengungkapkan bahwa kamp itu kini dilaporkan mulai dikosongkan.

“Dari yang terlihat di media sosial, kamp al-Hol hampir sepenuhnya dikosongkan. Tampaknya pemerintah Suriah memutuskan untuk membebaskan mereka,” ujarnya. “Itu sangat mengkhawatirkan.”

Nasib keluarga ISIS selama ini dianggap sebagai salah satu persoalan paling kompleks dalam sistem penahanan pascakejatuhan ISIS. Banyak anak tumbuh besar di kamp setelah ISIS kehilangan wilayah kekuasaannya, dan sebagian kini mendekati usia tempur, memicu kekhawatiran soal radikalisasi dan rekrutmen ulang.

“Kabar Baik Langka dari Suriah”

Untuk saat ini, badan-badan intelijen AS disebut terus memantau perkembangan pascaoperasi tersebut. Pejabat itu menilai langkah cepat ini berhasil mencegah ribuan militan berpengalaman kembali ke medan tempur secara bersamaan.

“Ini adalah kabar baik yang jarang datang dari Suriah,” pungkasnya.

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.