Trump Beri Iran Waktu 10–15 Hari Soal Nuklir, Polandia Perintahkan Warganya Angkat Kaki

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran memiliki waktu 10 hingga 15 hari untuk mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Jika tidak, ia memperingatkan akan terjadi “hal-hal yang sangat buruk”. Pernyataan itu disampaikan di tengah spekulasi meningkatnya kemungkinan serangan militer AS terhadap Teheran.
Berbicara kepada wartawan di atas Air Force One, Kamis (19/2), Trump mengatakan tenggat tersebut dinilai cukup.
“Saya pikir itu cukup waktu. Kita akan mendapatkan kesepakatan atau itu akan menjadi sesuatu yang tidak menguntungkan bagi mereka,” ujar Trump.
Sebelumnya, dalam pertemuan perdana Board of Peace di Washington, Trump menyebut 10 hari ke depan akan menjadi penentu arah perundingan nuklir AS–Iran. Ia menyebut Iran sebagai “titik panas saat ini”.
“Sudah terbukti selama bertahun-tahun tidak mudah membuat kesepakatan yang bermakna dengan Iran. Dan kita harus membuat kesepakatan yang benar-benar bermakna. Jika tidak, hal buruk akan terjadi,” katanya.
Kapal Induk AS Bergerak, Spekulasi Serangan Menguat
Di tengah ketegangan diplomatik, laporan media menyebut kapal induk USS Gerald R. Ford mendekati Gibraltar dalam perjalanan dari Karibia untuk bergabung dengan USS Abraham Lincoln di perairan dekat Iran.
Axios melaporkan seorang penasihat Trump memperkirakan peluang 90 persen terjadinya serangan dalam beberapa pekan jika perundingan gagal. CNN juga melaporkan militer AS disebut siap melancarkan serangan terhadap Iran “secepat akhir pekan ini”, mengutip sumber yang mengetahui situasi tersebut.
Iran: Tak Ingin Perang, Tapi Siap Balas Tegas
Menanggapi pernyataan Trump, Iran mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Dalam surat itu, Teheran menegaskan tidak menginginkan perang, namun akan merespons secara tegas jika menjadi sasaran agresi militer.
Misi tetap Iran di PBB menyebut retorika Trump “menandakan risiko nyata agresi militer”. Iran juga memperingatkan bahwa pangkalan, fasilitas, dan aset milik “kekuatan musuh” di kawasan akan dianggap sebagai target sah jika terjadi serangan.
Sebagai sinyal kesiapan militer, angkatan laut Iran dan Rusia menggelar latihan bersama di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara. Latihan tersebut melibatkan kapal perusak Alvand, kapal perang peluncur rudal, helikopter, pasukan operasi khusus, hingga kapal cepat tempur.
Latihan itu menyusul manuver Garda Revolusi Iran (IRGC) di Selat Hormuz awal pekan ini yang sempat mencakup penutupan sementara jalur pelayaran strategis tersebut.
Israel Siap Hadapi Segala Skenario
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan negaranya siap menghadapi “segala skenario” terkait Iran. Ia memperingatkan bahwa jika Teheran menyerang, respons Israel akan sangat keras.
“Jika para ayatollah menyerang, mereka akan merasakan balasan yang bahkan tidak bisa mereka bayangkan,” ujar Netanyahu.
Ia juga mengatakan telah menyampaikan posisi Israel kepada Trump terkait prinsip-prinsip yang harus menjadi pedoman dalam negosiasi dengan Iran.
Inggris Tolak Permintaan AS Gunakan Pangkalan Militer
Pemerintah Inggris dilaporkan tidak memberikan izin kepada AS untuk menggunakan fasilitas militer Inggris, termasuk pangkalan di Diego Garcia dan RAF Fairford di Gloucestershire, untuk kemungkinan serangan terhadap Iran.
Sumber pemerintah Inggris yang dikutip media setempat menyebut London belum menyetujui penggunaan fasilitas tersebut. Seorang juru bicara pemerintah Inggris mengatakan pihaknya tidak mengomentari urusan operasional militer.
Sebelumnya, Trump sempat mengkritik kesepakatan Inggris terkait Kepulauan Chagos dan memberi isyarat kemungkinan penggunaan pangkalan militer AS di Diego Garcia untuk operasi terhadap Iran.
Polandia Minta Warganya Segera Tinggalkan Iran
Di tengah meningkatnya ketegangan, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menyerukan seluruh warga negaranya untuk segera meninggalkan Iran.
“Semua orang yang masih berada di Iran harus segera pergi, dan dalam keadaan apa pun jangan ada yang berencana bepergian ke negara itu,” kata Tusk dalam konferensi pers.
Ia memperingatkan bahwa kemungkinan konflik terbuka “sangat nyata” dan dalam hitungan jam evakuasi mungkin tidak lagi memungkinkan.
Seruan ini menjadi yang kedua dalam beberapa bulan terakhir dari pemerintah Polandia agar warganya meninggalkan Iran.
Ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir. Dengan tenggat 10–15 hari yang disampaikan Trump, perhatian dunia kini tertuju pada apakah jalur diplomasi masih bisa mencegah eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









