Akurat

Jurnalis Kamboja Hem Vanna Ditangkap Usai Ungkap Dugaan Pusat Penipuan Online

Fitra Iskandar | 25 Februari 2026, 13:41 WIB
Jurnalis Kamboja Hem Vanna Ditangkap Usai Ungkap Dugaan Pusat Penipuan Online
Jurnalis online Kamboja, Hem Vanna. Foto: Advox

AKURAT.CO Jurnalis online Kamboja, Hem Vanna, ditangkap pada 3 Februari 2025 setelah mempublikasikan laporan video tentang dugaan pusat penipuan online (scam center) di Poipet. Penangkapan ini memicu kritik dari kelompok masyarakat sipil dan organisasi pers internasional yang menilai pemerintah semakin menekan kebebasan media.

Hem Vanna adalah pendiri HVNN TV Online. Pada 30 Januari, ia mengunggah video investigasi mengenai sebuah bangunan yang diduga menjadi lokasi operasi penipuan daring dan disebut berada dekat kantor polisi di Poipet. Tiga hari kemudian, aparat memanggilnya ke kantor polisi dan menuduhnya mencemarkan nama baik institusi.

Rekan Vanna, Khun Dim, mengatakan aparat mempermasalahkan detail dalam laporan tersebut, terutama soal jarak bangunan dari kantor polisi militer. Menurut polisi, jaraknya 700 meter, bukan 100 meter seperti disebut dalam laporan.

Sebelum ditahan, Vanna meminta aparat tidak mengintimidasi jurnalis. Ia menegaskan bahwa pers berperan menyampaikan informasi kepada publik dan mengawasi kebijakan pemerintah.

Dijerat Pasal Pidana, Terancam 3 Tahun Penjara

Vanna didakwa berdasarkan Pasal 301 dan 495 KUHP Kamboja terkait dugaan perekaman percakapan pribadi dan hasutan. Jika terbukti bersalah, ia terancam hukuman maksimal tiga tahun penjara.

Sejumlah organisasi masyarakat sipil mengecam langkah tersebut. Mereka menilai aparat seharusnya menggunakan mekanisme Undang-Undang Pers untuk meminta klarifikasi atau koreksi, bukan langsung memproses secara pidana.

Direktur operasional kelompok HAM Licadho, Am Sam Ath, menyatakan ruang kebebasan pers di Kamboja semakin menyempit. Ia menilai hukum pidana kerap digunakan untuk menekan jurnalis yang melaporkan isu sensitif.

Isu Pusat Penipuan Online Jadi Sorotan

Kamboja selama beberapa tahun terakhir menjadi sorotan terkait maraknya pusat penipuan online. Jaringan kejahatan terorganisir diduga merekrut atau menipu pekerja migran untuk bekerja di kompleks penipuan daring. Banyak korban dilaporkan dipaksa bekerja di bawah ancaman kekerasan.

Sejak 2021, pemerintah Kamboja menyatakan meningkatkan operasi pemberantasan. Ribuan warga lokal dan asing telah diselamatkan dari lokasi yang diduga menjadi pusat scam.

Namun, data pemantau media menunjukkan tekanan terhadap jurnalis meningkat. Sepanjang 2025, sedikitnya lima jurnalis ditangkap terkait pemberitaan mereka. Dalam dua bulan terakhir, enam jurnalis didakwa setelah melaporkan isu perbatasan Thailand-Kamboja dan dugaan pusat penipuan online.

Dapat Sorotan Internasional

Penangkapan Hem Vanna menuai perhatian organisasi pers global. Committee to Protect Journalists (CPJ) mendesak pemerintah Kamboja fokus memberantas kejahatan siber, bukan membungkam peliputnya. Reporters Without Borders (RSF) juga menyatakan jurnalis tidak boleh dipidana karena melaporkan isu kepentingan publik.

Pada 11 Februari, kelompok HAM ADHOC mengajukan surat ke Pengadilan Provinsi Banteay Meanchey untuk meminta pembebasan Vanna.

Kasus ini menambah daftar panjang polemik antara upaya penegakan hukum terhadap penipuan online dan perlindungan kebebasan pers di Kamboja.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.