Akurat

Ribuan Warga dan Pelajar Turun ke Jalan Tolak Operasi Imigrasi Trump

Kumoro Damarjati | 31 Januari 2026, 11:22 WIB
Ribuan Warga dan Pelajar Turun ke Jalan Tolak Operasi Imigrasi Trump

AKURAT.CO Gelombang protes meluas di Amerika Serikat menyusul pengerahan besar-besaran aparat imigrasi federal di Minnesota. Ribuan demonstran turun ke jalan di Minneapolis pada Jumat (30/1) waktu setempat, sementara pelajar dan tenaga pendidik di berbagai negara bagian melakukan aksi mogok belajar sebagai bentuk penolakan terhadap kehadiran agen imigrasi federal.

Aksi ini dipicu oleh penembakan fatal terhadap dua warga negara AS oleh agen imigrasi federal awal bulan ini. Para pengunjuk rasa menuntut penarikan aparat Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) dari Minnesota serta penghentian operasi penegakan imigrasi berskala besar.

Di bawah kebijakan pengetatan imigrasi nasional, Presiden Donald Trump mengerahkan sekitar 3.000 petugas federal ke wilayah Minneapolis. Jumlah tersebut disebut mencapai lima kali lipat dari kekuatan Kepolisian Minneapolis. Para petugas terlihat berpatroli dengan perlengkapan taktis di sejumlah kawasan kota.

Ribuan warga berkumpul di pusat kota Minneapolis meski suhu berada di bawah nol derajat Celsius. Aksi diikuti berbagai kalangan, mulai dari keluarga dengan anak kecil, warga lanjut usia, hingga aktivis muda. Mereka memprotes metode operasi ICE yang dinilai represif dan memicu ketakutan di masyarakat.

Sejumlah pelajar dan guru juga menggelar aksi jalan keluar kelas (walkout) secara serentak dari California hingga New York dalam hari protes nasional. Aksi ini berlangsung di tengah sinyal yang dinilai tidak konsisten dari pemerintahan Trump terkait kemungkinan meredakan Operasi Metro Surge.

Di lingkungan Minneapolis yang berdekatan dengan lokasi penembakan Alex Pretti dan Renee Good, sekitar 50 guru dan staf sekolah setempat ikut berbaris menyuarakan penolakan terhadap kehadiran aparat federal bersenjata.

Dukungan terhadap aksi protes juga datang dari musisi Bruce Springsteen. Ia tampil dalam acara penggalangan dana untuk keluarga korban di Minneapolis dan membawakan lagu terbarunya berjudul Streets of Minneapolis.

Aksi serupa tidak hanya terjadi di Minnesota. Penyelenggara menyebut sedikitnya 250 demonstrasi digelar di 46 negara bagian, termasuk di kota-kota besar seperti New York, Los Angeles, Chicago, dan Washington. Aksi tersebut mengusung slogan, “No work. No school. No shopping. Stop funding ICE.”

Di sisi lain, dinamika politik turut berkembang di tingkat federal. Kepala sementara kantor FBI Minneapolis, Jarrad Smith, dilaporkan dicopot dari jabatannya dan dipindahkan ke markas FBI di Washington. Kantor FBI Minneapolis diketahui terlibat dalam operasi federal serta penyelidikan terkait penembakan dan sejumlah aksi protes lainnya.

Sementara itu, mantan pembawa acara CNN Don Lemon ditangkap FBI dan didakwa melanggar hukum federal terkait aksi protes di sebuah gereja di St Paul, Minnesota. Lemon membantah tuduhan tersebut dan menyebut kasus itu sebagai serangan terhadap kebebasan pers.

Kebijakan imigrasi pemerintahan Trump juga menuai kritik di Kongres. Penolakan Partai Demokrat terhadap pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri, yang membawahi ICE, memunculkan ancaman penutupan sebagian pemerintahan federal.

Tekanan publik kian meningkat setelah beredar luas video-video operasi ICE di Minneapolis yang menampilkan agen bersenjata dan bertopeng. Jajak pendapat Reuters/Ipsos terbaru menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap kebijakan imigrasi Trump berada di titik terendah selama masa jabatan keduanya.

Menanggapi situasi tersebut, pejabat pengawas perbatasan AS, Tom Homan, dikirim ke Minneapolis dan menyatakan operasi akan diarahkan lebih spesifik, bukan lagi razia besar-besaran di jalanan. Namun, Gubernur Minnesota dari Partai Demokrat, Tim Walz, meragukan perubahan tersebut dan mendesak penarikan pasukan federal.

Presiden Trump sebelumnya menyatakan ingin meredakan ketegangan, tetapi pada Jumat kembali menuding para pengunjuk rasa sebagai kelompok pemberontak. Ia bahkan mengulangi ancamannya untuk menerapkan Undang-Undang Pemberontakan yang memungkinkan pengerahan militer.

Aksi protes juga berdampak pada dunia pendidikan di sejumlah wilayah. Sekolah-sekolah di Aurora, Colorado, dan Tucson, Arizona, terpaksa meliburkan kegiatan belajar karena tingginya jumlah guru dan siswa yang absen. Di Chicago, New York, dan California, pelajar menggelar aksi jalan kaki sambil membawa poster penolakan terhadap ICE dan kebijakan imigrasi federal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.