Angin Kencang Memperburuk Situasi di Gaza, Sedikitnya Empat Orang Tewas

AKURAT.CO Angin kencang musim dingin merobohkan tembok ke atas tenda-tenda darurat warga Palestina yang mengungsi di Jalur Gaza, menewaskan sedikitnya empat orang. Otoritas rumah sakit setempat menyampaikan informasi tersebut pada Selasa (13/1).
Kondisi cuaca ekstrem kembali memperlihatkan rapuhnya kehidupan warga Gaza yang masih bertahan di tenda-tenda darurat di tengah keterbatasan bantuan kemanusiaan.
Kondisi Pengungsian Masih Berbahaya Meski Gencatan Senjata Berlaku
Situasi berbahaya masih dialami warga Gaza meski gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober. Lebih dari dua tahun pemboman Israel serta keterbatasan pasokan bantuan membuat mayoritas warga Palestina tidak memiliki tempat tinggal yang memadai untuk menghadapi badai musim dingin.
Kelompok kemanusiaan menilai kebutuhan dasar, terutama hunian sementara yang layak, masih jauh dari terpenuhi selama masa gencatan senjata.
Korban Tewas Akibat Tembok Runtuh dan Hipotermia
Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza melaporkan korban tewas akibat angin kencang terdiri dari dua perempuan, seorang anak perempuan, dan seorang laki-laki. Selain itu, Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan seorang bayi laki-laki berusia satu tahun meninggal dunia akibat hipotermia pada Selasa dini hari.
Kementerian mencatat korban tersebut merupakan kematian ketujuh akibat cuaca dingin sejak musim dingin dimulai, termasuk bayi berusia tujuh hari dan seorang anak perempuan berusia empat tahun.
Satu Keluarga Tewas Tertimpa Tembok di Pesisir Gaza
Tiga anggota satu keluarga tewas ketika tembok setinggi delapan meter roboh menimpa tenda mereka di kawasan pesisir Mediterania, Kota Gaza. Korban adalah Mohamed Hamouda (72), cucunya yang berusia 15 tahun, serta menantunya. Sedikitnya lima orang lainnya mengalami luka-luka.
Kerabat korban pada Selasa terlihat membersihkan puing-puing dan membangun kembali tenda darurat bagi para penyintas.
“Dunia membiarkan kami menyaksikan kematian dalam segala bentuk,” ujar Bassel Hamouda usai pemakaman keluarganya.
Ratusan Tenda Rusak, Bantuan Hunian Masih Terbatas
Kantor kemanusiaan PBB melaporkan ratusan tenda dan hunian darurat rusak berat atau tersapu angin kencang. PBB bersama mitra kemanusiaannya terus mendistribusikan tenda, terpal, selimut, pakaian, serta bantuan gizi dan kebersihan di berbagai wilayah Gaza.
Namun, kelompok bantuan menilai material hunian yang masuk ke Gaza selama gencatan senjata masih belum mencukupi kebutuhan jutaan pengungsi.
Aktivitas Militer Masih Terjadi Selama Gencatan Senjata
Di tengah krisis kemanusiaan, militer Israel menyatakan terjadi baku tembak dengan enam orang yang terdeteksi berada di dekat pasukan Israel di Gaza selatan. Sedikitnya dua orang dilaporkan tewas di wilayah Rafah barat.
Data Kementerian Kesehatan Gaza menyebut lebih dari 440 orang tewas akibat tembakan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan. Catatan korban tersebut dinilai umumnya dapat dipercaya oleh badan PBB dan pakar independen.
UNICEF: Lebih dari 100 Anak Tewas Sejak Gencatan Senjata
Juru bicara UNICEF, James Elder, mengatakan sedikitnya 100 anak di bawah usia 18 tahun—terdiri dari 60 anak laki-laki dan 40 anak perempuan—tewas akibat operasi militer sejak gencatan senjata, termasuk serangan drone, serangan udara, tembakan tank, dan peluru tajam.
“Pemboman dan penembakan memang melambat, tetapi belum sepenuhnya berhenti,” kata Elder dalam pengarahan PBB di Jenewa melalui sambungan video dari Kota Gaza.
Warga Bertahan di Tenda di Tengah Badai dan Kekurangan Bantuan
Di Gaza tengah, kota Zawaida, tenda-tenda dilaporkan terendam air akibat hujan dan angin kencang. Di wilayah pesisir Gaza selatan, sejumlah tenda terseret ke Laut Mediterania.
“Laut mengambil kasur kami, tenda kami, makanan kami, dan semua yang kami miliki,” ujar Shaban Abu Ishaq di kawasan Muwasi, Khan Younis.
Mohamed al-Sawalha (72), warga kamp pengungsi Jabaliya, menggambarkan kehidupan di tenda sebagai kondisi yang nyaris tidak layak huni. “Tidak cocok untuk musim panas maupun musim dingin. Bahkan hewan ternak tidak hidup seperti ini,” katanya.
Gaza Hadapi Musim Dingin Ketiga Sejak Perang Pecah
Dengan populasi lebih dari dua juta jiwa, Gaza masih berjuang menghadapi musim dingin di tengah kekurangan bantuan kemanusiaan dan minimnya hunian sementara yang layak.
Ini merupakan musim dingin ketiga sejak perang Israel-Hamas pecah pada 7 Oktober 2023, ketika kelompok militan menyerang Israel selatan, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya. Kementerian Kesehatan Gaza menyebut lebih dari 71.400 warga Palestina tewas dalam serangan balasan Israel sejak perang dimulai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









