Warga dan Pemerintah Kuba Kompak Nyatakan Tak Takut Hadapi Ancaman Donald Trump

AKURAT.CO Warga Kuba menyatakan tidak gentar menghadapi ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut tidak akan ada lagi minyak maupun aliran dana dari Venezuela ke Kuba. Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Minggu (11/1), disertai dorongan agar Havana segera membuat kesepakatan dengan Washington.
Di Havana, sejumlah warga menilai ancaman tersebut tidak mengubah kondisi yang selama ini sudah sulit. Alberto Jimenez (45), pedagang hasil bumi, mengatakan rakyat Kuba telah terbiasa hidup di bawah tekanan. “Itu tidak menakutkan. Rakyat Kuba siap menghadapi apa pun,” ujarnya.
Ancaman Trump muncul di tengah krisis energi yang kian parah di Kuba. Pemerintah setempat kesulitan menjaga pasokan listrik, sehingga sebagian besar warga harus menjalani pemadaman listrik berjam-jam setiap hari. Kondisi tersebut turut melumpuhkan aktivitas ekonomi, termasuk di ibu kota Havana.
Kuba sangat bergantung pada impor minyak, terutama dari Venezuela. Namun, pengiriman minyak dari negara Amerika Selatan itu terhenti sejak Presiden Venezuela Nicolás Maduro ditangkap pasukan AS pada awal Januari, di tengah pemberlakuan blokade minyak ketat oleh Washington.
Meski demikian, sebagian warga menilai situasi saat ini sulit untuk menjadi lebih buruk. “Tidak ada listrik, tidak ada gas, bahkan gas elpiji pun tidak tersedia,” kata Maria Elena Sabina (58), warga Havana. Ia menilai penderitaan yang berkepanjangan membuat perubahan menjadi kebutuhan mendesak.
Kekurangan bahan bakar, pangan, dan obat-obatan telah memicu ketegangan sosial serta mendorong gelombang migrasi besar-besaran dari Kuba dalam beberapa tahun terakhir, terutama ke Amerika Serikat.
Sementara itu, pemerintah Kuba menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan AS. Presiden Miguel Díaz-Canel menyatakan negaranya merupakan negara merdeka dan berdaulat. Ia menegaskan Kuba siap mempertahankan kedaulatannya meski menghadapi tekanan ekonomi dan politik.
Trump sebelumnya menulis di platform Truth Social bahwa tidak akan ada lagi minyak atau dana yang mengalir ke Kuba dan menyarankan Havana segera membuat kesepakatan sebelum terlambat. Namun, hingga kini, Trump tidak merinci bentuk kesepakatan yang dimaksud.
Di tengah ketidakpastian pasokan energi, warga Kuba berupaya bertahan dengan kondisi serba terbatas. Bagi banyak dari mereka, ancaman terbaru dari Washington dipandang sebagai kelanjutan dari tekanan yang telah dirasakan selama puluhan tahun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 3ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 4Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 5Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 6Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 7Persija Terpaksa Jamu Java United di Bali, Terancam Pengurangan Poin Jika 4 Kali Musafir
- 8Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 9Prabowo Pimpin Sidang DEN di Istana, Instruksikan Persiapan E50 untuk Perkuat Kemandirian Energi
- 10Terungkap di Sidang Korupsi Kuota Haji: Anak Buah Bos Maktour Setor USD10 Ribu ke Pejabat Kemenag







