Akurat

Jejak Perlawanan Perempuan Iran: Dari Mahsa Amini hingga Aksi Jalanan Ekstrem

Kumoro Damarjati | 10 Januari 2026, 14:51 WIB
Jejak Perlawanan Perempuan Iran: Dari Mahsa Amini hingga Aksi Jalanan Ekstrem

AKURAT.CO Perlawanan perempuan Iran terhadap sistem otoriter negara itu terus mengalami eskalasi. Jika sebelumnya aksi protes identik dengan memotong rambut dan membakar hijab, kini bentuk perlawanan bergerak ke arah yang lebih berani, terbuka, dan simbolis menantang kekuasaan politik sekaligus norma sosial.

Awal Aksi Ekstrem: Membakar Foto Pemimpin Tertinggi

Pada September 2021, seorang penyair kritis asal Iran bernama Qasem Bahrami ditangkap di Mashhad setelah membakar foto Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ia kemudian dibawa ke lokasi yang tidak diketahui dan selama dua bulan tidak ada kabar mengenai nasibnya. Penangkapan ini menjadi salah satu sinyal awal betapa kerasnya respons negara terhadap aksi simbolik semacam itu.

November 2025: Aksi Berujung Kematian

Ketegangan meningkat tajam pada November 2025. Seorang pria muda bernama Omid Sarlak, yang tinggal di wilayah barat Iran, mengunggah video ke media sosial yang memperlihatkan dirinya membakar foto Ayatollah Khamenei. Hanya beberapa jam setelah video itu beredar, tubuh Omid ditemukan di dalam mobilnya dengan luka tembak di kepala.

Masih di bulan yang sama, Samad Pourshah, mantan tahanan politik, melakukan aksi serupa sebagai bentuk protes atas kematian Omid Sarlak. Tak lama kemudian, aparat keamanan menyerbu rumahnya di kota Yasuj. Namun Samad tidak berada di rumah saat penggerebekan dan sejak itu hidup dalam persembunyian.

Aksi Perempuan Iran Kian Terbuka dan Simbolis

Alih-alih meredam perlawanan, tindakan represif justru mendorong perempuan Iran mengambil langkah yang lebih radikal. Dalam beberapa waktu terakhir, di tengah gelombang protes nasional akibat krisis ekonomi dan memburuknya kondisi hidup, beredar luas video perempuan muda Iran yang membakar foto Ali Khamenei lalu menggunakan api tersebut untuk menyalakan rokok.

Merokok sendiri merupakan aktivitas yang selama ini distigmatisasi dan dibatasi bagi perempuan Iran. Dengan menggabungkan dua simbol ini, para demonstran secara terang-terangan menolak otoritas politik-religius negara sekaligus aturan sosial ketat terhadap perempuan. Video-video tersebut telah dibagikan ribuan kali di media sosial global, membuatnya sulit dibendung oleh otoritas Iran.

Dari Mahsa Amini hingga Aksi Jalanan Ekstrem

Perlawanan perempuan Iran sebelumnya telah menyita perhatian dunia setelah kematian Mahsa Amini pada 2022. Mahsa, 22 tahun, meninggal dalam tahanan setelah ditangkap polisi moral karena dianggap tidak mengenakan hijab sesuai aturan. Banyak pihak meyakini ia tewas akibat kekerasan.

Kematian Mahsa memicu gerakan “Woman, Life, Freedom” yang berlangsung selama berbulan-bulan. Pemerintah Iran merespons dengan represi brutal: lebih dari 500 orang tewas dan 19.400 orang ditangkap. Meski demonstrasi massal berhasil dipukul mundur dari jalanan, perlawanan tidak pernah benar-benar berhenti.

Bentuk protes kemudian berubah menjadi aksi simbolik yang terus berevolusi:

  • perempuan tampil tanpa hijab di kampus dan ruang publik
  • menjatuhkan sorban ulama di jalanan
  • mengikuti lomba olahraga tanpa penutup kepala
  • hingga aksi telanjang di ruang publik, termasuk kasus Ahou Daryaei di Universitas Azad Tehran dan seorang perempuan yang berdiri tanpa busana di atas mobil polisi

Protes Pelajar Perempuan dan Teror di Sekolah

Perlawanan juga merambah ke kalangan usia muda. Selama gelombang protes, pelajar perempuan di sekolah-sekolah Iran ikut turun menyuarakan slogan anti-pemerintah. Fenomena ini dianggap belum pernah terjadi sejak Revolusi Islam 1979.

Respons pemerintah sangat keras. Banyak pelajar ditangkap. Tak lama kemudian, muncul laporan mengerikan tentang peracunan massal di sekolah perempuan. Pada 2023, lebih dari 800 siswi di sedikitnya 15 kota dilaporkan mengalami gejala seperti sesak napas, pingsan, jantung berdebar, dan mati rasa.

Kementerian Kesehatan Iran akhirnya mengakui adanya “racun sangat ringan”, bahkan seorang wakil menteri kesehatan sempat menyatakan bahwa ada pihak yang ingin menutup sekolah, khususnya sekolah perempuan—pernyataan yang kemudian ia tarik kembali. Pemerintah Iran membantah keterlibatan negara, dan hingga kini pelaku peracunan tidak pernah ditemukan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.