Trump Serang Balik Partai Demokrat yang Mengkritik Serangan AS ke Venezuela

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan serangan balik terhadap Partai Demokrat yang mengkritik serangan AS ke Venezuela. Trump menegaskan bahwa penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro bukanlah kebijakan sepihak, karena pemerintahan Demokrat sebelumnya juga mengejar Maduro atas tuduhan perdagangan narkoba.
Pernyataan itu disampaikan Trump pada Selasa waktu setempat saat berbicara di hadapan pertemuan internal Partai Republik di Washington. Ia mengeluhkan sikap Demokrat yang, menurutnya, enggan mengakui keberhasilan operasi militer yang berujung pada penangkapan Maduro, meskipun selama ini terdapat kesepakatan lintas partai bahwa Maduro bukan pemimpin sah Venezuela.
“Selama bertahun-tahun mereka mengejar orang ini. Sekarang saat berhasil, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa,” kata Trump. Ia bahkan menyindir bahwa seharusnya Demokrat memberi apresiasi atas apa yang ia sebut sebagai operasi militer yang sukses.
Trump Singgung Peran Pemerintahan Biden
Trump juga mengingatkan bahwa pada 2020, Amerika Serikat secara resmi mendakwa Maduro atas dugaan keterlibatan dalam jaringan narkoterorisme dan perdagangan kokain internasional. Dakwaan tersebut dikeluarkan saat Joe Biden menjabat sebagai presiden.
Gedung Putih menyebut bahwa di penghujung masa jabatannya, pemerintahan Biden bahkan menaikkan hadiah bagi siapa pun yang memberikan informasi terkait penangkapan Maduro, setelah Maduro tetap menjabat untuk periode ketiga meski kalah dalam pemilu. Pemerintahan Trump kemudian menggandakan hadiah tersebut menjadi 50 juta dolar AS.
Menurut Trump, kritik Demokrat terhadap operasi di Venezuela bersifat politis dan tidak konsisten dengan kebijakan mereka sendiri di masa lalu.
Demokrat Nilai Trump Tak Transparan
Serangan Trump itu muncul setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan pejabat tinggi lainnya memberikan pengarahan tertutup kepada pimpinan Kongres terkait operasi militer di Venezuela. Sejumlah anggota Partai Demokrat menilai pengarahan tersebut minim kejelasan, terutama mengenai rencana jangka panjang AS di negara tersebut.
Ketua DPR AS dari Partai Republik, Mike Johnson, mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak berniat mengirim pasukan pendudukan dan menegaskan operasi tersebut bukan upaya pergantian rezim. Namun, Demokrat tetap mempertanyakan arah kebijakan Trump dan menilai Gedung Putih bertindak tanpa konsultasi yang memadai dengan Kongres.
Opini Publik AS Terbelah
Survei terbaru menunjukkan warga Amerika Serikat masih terbelah terkait penangkapan Maduro. Sekitar 40 persen mendukung operasi militer tersebut, sementara 40 persen lainnya menolak, dan sisanya belum menentukan sikap.
Namun, hampir 90 persen responden sepakat bahwa masa depan Venezuela seharusnya ditentukan oleh rakyatnya sendiri, bukan oleh campur tangan negara lain.
Maduro Ditahan, Dunia Ikut Cemas
Maduro telah menyatakan tidak bersalah atas dakwaan perdagangan narkoba di pengadilan federal AS. Ia ditangkap bersama istrinya dalam operasi militer AS pada Sabtu dini hari. Posisi presiden sementara Venezuela kini dijabat oleh Delcy Rodriguez.
Penangkapan Maduro juga memicu kekhawatiran global. Trump dan sejumlah pejabatnya dinilai menunjukkan arah kebijakan luar negeri AS yang lebih agresif, tidak hanya di Venezuela, tetapi juga terhadap Kolombia, Kuba, dan bahkan Greenland.
Negara-negara Eropa pun bereaksi keras terhadap pernyataan Trump soal Greenland. Prancis, Jerman, Inggris, Italia, Spanyol, dan Polandia menegaskan bahwa kedaulatan Greenland tidak dapat diganggu gugat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









