Akurat

Saudi dan UEA Tegang, Ratusan Wisatawan Terdampar di Pulau Socotra yang Indah Namun Tersembunyi

Fitra Iskandar | 7 Januari 2026, 08:06 WIB
Saudi dan UEA Tegang, Ratusan Wisatawan Terdampar di Pulau Socotra yang Indah Namun Tersembunyi

AKURAT.CO Konflik bersenjata yang kembali memanas di Yaman berdampak langsung pada sektor pariwisata. Sekitar 600 wisatawan dilaporkan terjebak di Pulau Socotra setelah penerbangan ke dan dari pulau terpencil tersebut dihentikan.

Penghentian penerbangan terjadi setelah Uni Emirat Arab (UEA) menarik pasukannya dari Socotra pekan lalu, menyusul tenggat waktu yang ditetapkan Arab Saudi. Langkah ini memicu perubahan kendali atas bandara Socotra di tengah meningkatnya ketegangan politik antara UEA dan Arab Saudi, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Pulau Socotra terletak sekitar 300 kilometer di selatan pesisir Yaman. Sejak 2018, pulau ini berada di bawah pengaruh UEA dan dibuka untuk wisatawan melalui maskapai-maskapai berbasis di negara tersebut. Kondisi itulah yang sebelumnya membuat Socotra relatif aman dikunjungi turis asing.

Salah satu wisatawan asal Lituania, Aurelija Krikstaponiene, mengatakan kepada Reuters bahwa ia tengah berlibur di Socotra saat perayaan Tahun Baru ketika penerbangan mendadak dihentikan.

Situasi keamanan yang memburuk turut diakui oleh pihak penyelenggara perjalanan. Dalam pernyataannya, Wewior menyebutkan bahwa Socotra berada di kawasan yang sangat tidak stabil, dengan konflik bersenjata yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Penutupan wilayah udara dilakukan setelah aktivitas militer kembali meningkat.

Meski demikian, Wewior menyatakan maskapai penerbangan akan segera kembali beroperasi sehingga wisatawan, termasuk warga Polandia, dapat dipulangkan ke negara masing-masing.

Socotra sendiri merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO yang terkenal dengan keindahan alamnya yang masih alami serta keanekaragaman hayati yang unik. Salah satu ikon pulau ini adalah pohon darah naga (dragon blood tree), yang dinamai berdasarkan bentuknya yang tidak biasa dan getah merah menyerupai darah.

Di tengah situasi tersebut, Dewan Transisi Selatan Yaman (Southern Transitional Council/STC) mengklaim telah menguasai sejumlah wilayah minyak strategis. Kelompok ini juga menyerukan kerja sama dengan Amerika Serikat untuk menghadapi kelompok Houthi yang didukung Iran.

Sementara itu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat kembali menetapkan Yaman dalam daftar Level 4: Do Not Travel atau larangan perjalanan total, karena risiko terorisme, konflik bersenjata, kejahatan, dan penculikan. Peringatan ini diperbarui pada 19 Desember lalu.

Dalam peringatan tersebut, pemerintah AS secara tegas melarang warganya bepergian ke Socotra maupun wilayah Yaman lainnya. Otoritas AS juga mengingatkan bahwa sejumlah perusahaan wisata di luar Yaman diduga menyesatkan wisatawan dengan mengklaim Socotra aman dan menawarkan visa yang tidak resmi.

“Pemerintah Amerika Serikat tidak dapat memberikan bantuan kepada warga negaranya di Socotra,” bunyi pernyataan resmi tersebut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.