Akurat

Setelah Venezuela, Trump "SOON" Ambil Alih Greendland, Denmark Resah

Fitra Iskandar | 5 Januari 2026, 09:59 WIB
Setelah Venezuela, Trump "SOON" Ambil Alih Greendland, Denmark Resah

AKURAT.CO Setelah Amerika Serikat melakukan operasi militer besar di Venezuela, Presiden AS Donald Trump kembali memicu ketegangan internasional. Kali ini, Trump kembali mengangkat wacana untuk mengambil alih Greenland, wilayah otonom yang berada di bawah Kerajaan Denmark.

Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, secara tegas meminta Trump menghentikan ancaman tersebut. Menurutnya, pembicaraan tentang Amerika Serikat mencaplok Greenland sama sekali tidak masuk akal dan melanggar hukum internasional.

“Amerika Serikat tidak memiliki hak untuk mencaplok negara atau wilayah mana pun dalam Kerajaan Denmark,” kata Frederiksen dalam pernyataan resminya yang dimuat di situs pemerintah Denmark.

Pernyataan keras ini muncul setelah Katie Miller, istri penasihat Trump Stephen Miller, mengunggah peta Greenland berwarna bendera Amerika Serikat dengan tulisan “SOON” (SEGERA). Unggahan itu memicu kemarahan pemerintah Denmark dan dianggap sebagai bentuk ancaman simbolik.

Trump sendiri memang berulang kali menyatakan ketertarikannya pada Greenland. Ia menyebut pulau besar di wilayah Arktik itu sangat strategis secara militer dan kaya akan mineral penting untuk industri teknologi tinggi.

Frederiksen menegaskan bahwa Denmark dan Greenland adalah bagian dari NATO, sehingga dilindungi oleh jaminan keamanan aliansi tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa Denmark sudah memiliki perjanjian pertahanan dengan AS yang memberi akses militer Amerika ke Greenland tanpa harus mengambil alih wilayah tersebut.

“Saya mendesak Amerika Serikat untuk menghentikan ancaman terhadap sekutu lama dan terhadap rakyat yang sudah jelas menyatakan bahwa mereka tidak untuk dijual,” tegas Frederiksen.

Duta Besar Denmark untuk AS juga ikut merespons unggahan Katie Miller dengan mengingatkan bahwa kedua negara adalah sekutu dan Denmark menuntut penghormatan atas kedaulatan wilayahnya.

Ketegangan ini terjadi tak lama setelah Amerika Serikat melakukan operasi militer terhadap Venezuela. Dalam operasi tersebut, Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya ditangkap dan dibawa ke New York. Trump bahkan menyatakan bahwa AS akan “mengelola” Venezuela dan perusahaan minyak Amerika akan mulai menghasilkan keuntungan dari negara tersebut.

Sebelumnya, Trump juga tidak pernah menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk menguasai Greenland, dengan alasan kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat.

Greenland sendiri memiliki sekitar 57 ribu penduduk dan telah menikmati pemerintahan sendiri sejak 1979, meskipun urusan pertahanan dan kebijakan luar negeri masih dipegang Denmark. Meski banyak warga Greenland mendukung kemerdekaan penuh dari Denmark, jajak pendapat menunjukkan mayoritas besar menolak bergabung dengan Amerika Serikat.

Isu “setelah Venezuela, trump siap caplok Greendland”, memunculkan kekhawatiran baru akan arah kebijakan luar negeri AS yang semakin agresif.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

O
Reporter
Oktaviani
F