AS Lancarkan Serangan Militer Besar-besaran ke Venezuela dan Menangkap Presiden Nicolas Maduro

AKURAT.CO Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro dalam sebuah operasi berskala besar yang berlangsung cepat pada Sabtu (3/1) waktu setempat. Presiden AS Donald Trump disebut telah memberi lampu hijau beberapa hari sebelumnya untuk penangkapan Maduro, yang kemudian dieksekusi oleh pasukan elite Delta Force.
Menurut sumber yang mengetahui operasi tersebut, lokasi Maduro dilacak oleh Badan Intelijen Pusat AS (CIA), yang telah mendapat otorisasi dari Trump untuk melakukan operasi rahasia di wilayah Venezuela sejak beberapa bulan lalu. Maduro ditangkap untuk kemudian dibawa ke Amerika Serikat guna menjalani proses hukum. Hingga Sabtu pagi, lokasi penahanan Maduro belum diumumkan secara resmi.
Serangan AS memicu ledakan dan kebakaran di sejumlah titik strategis di Caracas. Data NASA melalui sistem Fire Information for Resource Management System (FIRMS) mendeteksi dua anomali panas di sekitar Fort Tiuna, kompleks militer terbesar Venezuela, pada pukul 02.33 waktu setempat. Rekaman video yang diverifikasi menunjukkan ledakan besar dan kobaran api di kawasan tersebut, disertai pemadaman listrik di sebagian ibu kota.
Foto-foto dari lokasi kejadian memperlihatkan asap tebal membubung di dekat Fort Tiuna, bandara La Carlota, serta area sekitar Istana Kepresidenan Miraflores. Warga terlihat berlarian menyelamatkan diri setelah mendengar ledakan dan aktivitas pesawat terbang rendah. Aparat keamanan Venezuela tampak memperketat penjagaan di sejumlah titik vital.
Trump mengklaim operasi tersebut berhasil dan menyatakan Maduro telah ditangkap serta dikeluarkan dari Venezuela. Hingga kini, pemerintah Venezuela belum memberikan pernyataan resmi terkait status Maduro. Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez mengatakan pemerintah belum mengetahui keberadaan presiden maupun ibu negara Cilia Flores.
Situasi politik Venezuela pascaserangan masih diliputi ketidakpastian. Berdasarkan konstitusi, jika terjadi “ketiadaan mutlak” presiden, kekuasaan sementara berada di tangan wakil presiden yang wajib menggelar pemilihan umum dalam 30 hari. Namun, skenario lain juga terbuka, termasuk runtuhnya rezim atau pengambilalihan kekuasaan oleh militer.
Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López mengecam keras serangan AS dan menyebutnya sebagai invasi asing. Ia menegaskan Venezuela akan melawan kehadiran pasukan asing di wilayahnya dan menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran terbesar terhadap kedaulatan negara.
Pengamat militer menilai operasi AS dilakukan dengan kecepatan dan presisi tinggi serta kemungkinan besar melibatkan pasukan operasi khusus dengan dukungan udara intensif. Meski Caracas memiliki sistem pertahanan udara, lemahnya kesiapan dan faktor internal dinilai mempermudah keberhasilan operasi tersebut.
Serangan ini berpotensi memperburuk ketegangan regional dan memicu eskalasi konflik di Amerika Latin, sementara masa depan pemerintahan Venezuela kini berada di titik kritis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









