Akurat

Bioskop Kuno di Kabul Akhirnya Dihancurkan Oleh Buldoser Taliban

Kumoro Damarjati | 24 Desember 2025, 14:17 WIB
Bioskop Kuno di Kabul Akhirnya Dihancurkan Oleh Buldoser Taliban

AKURAT.CO Sebuah gedung bioskop yang menjadi saksi perjalanan sejarah modern Afghanistan—mulai dari masa kosmopolitan Kabul pada 1960-an hingga periode pembungkaman dan represi di bawah dua kali kekuasaan Taliban—kini diratakan dengan tanah untuk digantikan pusat perbelanjaan.

Bioskop Ariana yang terletak di pusat kota Kabul praktis telah berhenti beroperasi sejak 2021, ketika Taliban kembali merebut kekuasaan. Sejak itu, gedung tersebut hanya sesekali digunakan untuk pemutaran film propaganda. Meski demikian, Ariana Cinema tetap berdiri sebagai ikon kota dan pengingat akan masa ketika seni, budaya, dan hiburan pernah hidup di tengah masyarakat Afghanistan.

Pekan lalu, sebuah buldoser mulai membongkar bangunan bersejarah tersebut. Di lokasi itu, pemerintah kota Kabul berencana membangun pusat perbelanjaan senilai 3,5 juta dolar AS yang akan menampung lebih dari 300 toko, restoran, hotel, serta masjid dalam bangunan delapan lantai. Hal itu disampaikan juru bicara pemerintah kota Kabul, Nematullah Barakzai.

Penghancuran bioskop ini mencerminkan prioritas ideologis sekaligus ekonomi pemerintahan Taliban, yang tengah berupaya mencari sumber pendanaan baru di tengah sanksi Barat dan terhentinya bantuan asing.

Meski ekonomi Afghanistan tercatat tumbuh 4,3 persen tahun ini menurut Bank Dunia, pendapatan per kapita justru menyusut akibat meningkatnya jumlah penduduk seiring kembalinya para pengungsi. Namun, arus pendatang tersebut turut memicu maraknya pembangunan, yang kini dimanfaatkan Taliban dengan menjual lahan untuk proyek-proyek komersial guna mendongkrak pemasukan.

Barakzai menyatakan bahwa peralatan dan arsip Ariana Cinema akan disimpan dengan aman dan berpotensi digunakan kembali di masa depan. “Karena bioskop saat ini tidak aktif di negara ini, kami tidak bisa membiarkan bangunan tersebut terbengkalai,” ujarnya.

Namun, berbagai pembatasan ketat yang diberlakukan Taliban dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kebangkitan kembali dunia perfilman hampir mustahil terjadi selama kelompok tersebut masih berkuasa.

Taliban melarang stasiun televisi nasional menayangkan serial asing dan, belakangan, juga melarang penayangan gambar makhluk hidup, termasuk manusia dan hewan—sebuah tafsir ketat atas hukum Islam. Pemerintah juga memerintahkan warga Afghanistan untuk menghentikan unggahan video ke platform seperti YouTube.

Bioskop-bioskop lain di Kabul hingga kini tetap tertutup.
Awal bulan ini, petugas dari Kementerian Amar Makruf Nahi Munkar Taliban menahan empat pemuda di kota Herat karena mengenakan kostum karakter serial televisi Inggris Peaky Blinders. Mereka dituduh mempromosikan nilai-nilai Barat melalui penampilan tersebut.

Ariana Cinema dibuka pada awal 1960-an dan menjadi tempat favorit warga Kabul untuk menonton film Bollywood dari India maupun sinema Iran. Pada masa itu, Kabul dijuluki “Paris-nya Asia Tengah” dan menjadi tujuan para hippies serta wisatawan dari berbagai negara. Kalangan elite perkotaan rutin berkumpul di Hotel Intercontinental yang dibuka pada 1969, terkenal dengan hidangan mewah dan pesta-pesta eksklusif.

Bioskop Ariana mengalami kerusakan parah selama perang saudara pada 1990-an dan ditutup sepenuhnya pada masa pemerintahan Taliban pertama (1996–2001). Gedung itu kemudian dipugar pada 2004 dan kembali menjadi pusat aktivitas sosial masyarakat.

Bahkan berbagai kendala teknis, seperti gangguan pemutaran film yang memaksa penonton kembali di hari lain, justru menjadi bagian dari daya tariknya. Hal itu diungkapkan Mohammad Naeem Jabarkhel, mantan pemilik toko roti di sekitar lokasi bioskop.

Ia mengaku rutin menonton film hampir setiap pekan. “Harga tiket bioskop saat itu setara dengan enam atau delapan potong roti kering. Sebenarnya uang itu tidak seharusnya saya habiskan untuk menonton film,” ujar Jabarkhel (38). “Namun keinginan untuk pergi ke bioskop selalu hidup di hati saya.”

Aktor dan sutradara ternama Afghanistan, Basir Mujahid, menyebut Ariana Cinema sebagai salah satu simbol terakhir masa penuh harapan di Kabul. Ia mengenang momen gencatan senjata antara Taliban dan pemerintah Afghanistan yang didukung Amerika Serikat saat Idul Fitri 2018, ketika sejumlah anggota Taliban datang ke bioskop membawa bendera dan senjata untuk menonton salah satu film karyanya.

“Kami sangat berharap mereka akan menghargai seni dan budaya. Namun harapan itu tidak terwujud,” kata Mujahid. Setelah Taliban kembali berkuasa, bioskop tersebut kembali ditutup.

“Penghancuran Ariana Cinema bukan sekadar proyek pembangunan, tetapi penanda berakhirnya satu era dalam kehidupan budaya ibu kota Afghanistan,” tambahnya.

Meski bagi banyak warga Ariana merupakan simbol sejarah budaya modern Afghanistan, Barakzai berpendapat bahwa gedung tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai situs bersejarah karena bersifat komersial. “Bahkan saat masih beroperasi sebagai bioskop, tempat itu adalah usaha bisnis karena menjual tiket,” ujarnya.

Dalam proyek pembangunan baru ini, pemerintah kota Kabul akan memiliki 45 persen saham selama kontrak 12 tahun, sementara sisanya dikuasai perusahaan swasta. Pembangunan pusat perbelanjaan tersebut diperkirakan memakan waktu sekitar satu tahun.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.