Akurat

Tragedi Razia Imigrasi Korea Selatan, Mahasiswi asal Vietnam Tewas Jatuh dari Pabrik

Kumoro Damarjati | 19 Desember 2025, 14:42 WIB
Tragedi Razia Imigrasi Korea Selatan, Mahasiswi asal Vietnam Tewas Jatuh dari Pabrik

AKURAT.CO Seorang perempuan asal Vietnam meninggal dunia setelah terjatuh dari lantai tiga sebuah pabrik suku cadang mobil di Daegu, Korea Selatan, saat berusaha bersembunyi dari razia imigrasi. Insiden ini memicu gelombang kritik terhadap kebijakan visa Korea Selatan, khususnya bagi mahasiswa dan lulusan asing.

Korban diketahui bernama Vu Tu Anh (25), lulusan Universitas Keimyung di Daegu. Berdasarkan laporan media setempat, Anh terjatuh dari balik unit pendingin udara (AC) ketika petugas imigrasi menggelar operasi penertiban pekerja ilegal pada 28 Oktober lalu. Ia disebut telah bekerja di pabrik tersebut selama sekitar dua pekan.

Menurut laporan The Korea Herald, Anh berada di Korea Selatan dengan visa D-10, yakni visa pencari kerja bagi lulusan asing. Visa ini memberikan izin terbatas untuk mencari pekerjaan, namun melarang pemegangnya melakukan pekerjaan manual, termasuk bekerja di pabrik. Untuk dapat bekerja penuh waktu, lulusan asing diwajibkan memperoleh visa E-7 yang diperuntukkan bagi tenaga kerja terampil.

Demi memenuhi kebutuhan hidup, Anh dilaporkan nekat bekerja di sektor manufaktur di tengah meningkatnya operasi penertiban imigrasi yang digencarkan Kementerian Kehakiman Korea Selatan menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC pada akhir Oktober. Pemerintah menyatakan razia tersebut menyasar warga asing yang dianggap “mengganggu peluang kerja warga Korea” dan “berpotensi mengancam keselamatan publik”.

Kementerian Kehakiman Korea Selatan membantah bertanggung jawab atas kematian Anh. Dalam pernyataannya, otoritas menyebut korban terjatuh setelah operasi penertiban selesai dilakukan.

Namun, kematian Anh menuai reaksi keras dari kelompok masyarakat sipil. Sejumlah aktivis buruh mengajukan petisi kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Korea Selatan untuk menuntut penyelidikan menyeluruh. Mereka menilai insiden ini tidak dapat dilepaskan dari tekanan psikologis akibat kebijakan imigrasi yang ketat.

Seorang aktivis buruh di Daegu, Kim Hee Jeong, menyebut Anh kemungkinan diliputi ketakutan akan deportasi atau kehilangan kesempatan melanjutkan studi pascasarjana di Korea Selatan. Pengalaman menghadapi razia imigrasi sebelumnya diduga memperparah rasa takut korban.

Data Korean Educational Development Institute menunjukkan bahwa pada 2023 hanya 10 persen lulusan sarjana asing dan 36,3 persen lulusan doktor dari universitas Korea Selatan yang berhasil memperoleh visa E-7. Survei Federasi Usaha Kecil dan Menengah Korea menyebut keterbatasan posisi kerja yang memenuhi syarat serta klasifikasi visa yang sempit menjadi penyebab utama rendahnya angka tersebut.

Kondisi ini mendorong banyak lulusan asing yang ingin bertahan di Korea Selatan beralih ke sektor manufaktur atau pekerjaan manual yang lebih mudah diakses, meski berisiko melanggar ketentuan visa.

Survei lain menunjukkan bahwa 90 persen perusahaan lokal yang mempekerjakan pekerja asing melakukannya karena kesulitan merekrut tenaga kerja warga Korea.

Sementara itu, jumlah mahasiswa asing di Korea Selatan terus meningkat dan telah melampaui 305.000 orang per Agustus lalu, mencapai target pemerintah untuk 2027. Mahasiswa asal Vietnam tercatat sebagai kelompok terbesar, disusul China, Uzbekistan, Mongolia, dan Nepal, berdasarkan data Layanan Imigrasi Korea.

Profesor sosiologi Universitas Nasional Jeonbuk, Seol Dong Hoon, menilai besarnya jumlah mahasiswa asing memang berdampak pada pasar kerja domestik, namun sistem visa tetap perlu dievaluasi. Ia menyebut fleksibilitas izin kerja di sektor-sektor dasar dapat menjadi salah satu langkah pencegahan tragedi serupa.

Ketua Serikat Buruh Migran Korea, Udaya Rai, menyebut kematian Anh mencerminkan kegagalan kebijakan visa yang tidak memberi ruang bagi warga asing untuk bertahan hidup dalam kondisi mendesak. Ia memperingatkan, jika kasus ini dianggap sebagai kesalahan individu semata, insiden serupa berpotensi terulang.

Ayah korban, Vu Van Sung, turut menyuarakan tuntutan tersebut saat menghadiri peringatan kematian putrinya di Seoul. Ia berharap pemerintah Korea Selatan melakukan penyelidikan menyeluruh dan memastikan mahasiswa asing serta imigran tidak lagi dirugikan oleh kebijakan visa yang ketat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.