Parlemen Jerman Mengesahkan Wajib Militer untuk Pemuda Mulai 18 Tahun

AKURAT.CO Bundestag, parlemen Jerman, pada Jumat (5/12) menyetujui rancangan undang-undang baru yang membuka jalan bagi sistem militer berbasis wajib militer kebutuhan (needs-based conscription), di tengah meningkatnya kekhawatiran keamanan di Eropa akibat ketegangan dengan Rusia.
RUU tersebut disahkan dengan hasil 323 suara mendukung, 272 menolak, dan satu abstain.
Target Kekuatan Militer 2035
Melalui kebijakan ini, pemerintah Jerman menargetkan peningkatan jumlah personel militer aktif dari sekitar 180.000 menjadi 260.000 tentara pada 2035. Selain itu, pemerintah juga berencana menambah hingga 200.000 personel cadangan.
Saat ini, aturan tidak langsung memberlakukan wajib militer penuh. RUU tersebut memprioritaskan pendaftaran sukarela, termasuk insentif melalui kenaikan gaji awal tentara menjadi €2.600 per bulan atau sekitar US$3.000, meningkat €450 dari nominal sebelumnya.
Namun, apabila target rekrutmen tidak terpenuhi, pemerintah tetap memiliki opsi untuk menerapkan sistem wajib militer berbasis kebutuhan melalui undang-undang tambahan yang harus kembali mendapat persetujuan parlemen.
Perubahan Sistem Rekrutmen Pemuda
Mulai tahun depan, seluruh warga berusia 18 tahun akan menerima kuesioner mengenai minat mereka bergabung dengan angkatan bersenjata. Menjawab kuesioner tersebut hanya wajib bagi laki-laki.
Kemudian mulai Juli 2027, laki-laki berusia 18 tahun juga diwajibkan mengikuti pemeriksaan militer sebagai bagian dari proses seleksi.
Penolakan Anak Muda
Sejumlah anak muda di Jerman menyatakan penolakan atau menunjukkan sikap skeptis terhadap aturan wajib militer yang baru. Dalam pernyataan di media sosial, penyelenggara aksi protes menulis bahwa mereka tidak ingin menghabiskan enam bulan hidup di barak militer, mengikuti latihan kedisiplinan, serta dilatih menggunakan senjata.
“Perang tidak memberi masa depan dan justru menghancurkan kehidupan kami,” tulis kelompok tersebut.
Di Hamburg, sekitar 1.500 orang diperkirakan mengikuti demonstrasi, sementara sejumlah kepala sekolah mengingatkan orang tua agar tidak menarik anak mereka dari kegiatan belajar hanya untuk ikut aksi.
Aksi kecil juga terjadi di depan Gedung Bundestag saat pemungutan suara berlangsung. Para demonstran membawa spanduk bertuliskan “Tidak untuk wajib militer.”
Dengan pengesahan Bundestag atas aturan wajib militer tersebut dengan hasil 323 suara setuju dan 272 menolak, Jerman menjadi salah satu negara Eropa yang kembali menerapkan bentuk baru wajib militer.
Bagian dari Tren Eropa Pasca-Perang Ukraina
Dengan langkah ini, Jerman bergabung dengan sejumlah negara Eropa lain yang memperkuat sistem militer setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Pada tahun 2024, Latvia kembali memberlakukan wajib militer bagi laki-laki, sementara Denmark memperluas layanan militer untuk perempuan pada Juli.
Bulan lalu, Prancis juga mengumumkan program pelatihan militer sukarela selama 10 bulan untuk pemuda berusia 18 hingga 19 tahun.
Latar Belakang: Jerman Hentikan Wajib Militer pada 2011
Jerman menghentikan wajib militer pada 2011 setelah era Perang Dingin dinilai telah berakhir dan ancaman keamanan di Eropa dianggap minim. Anggaran pertahanan pun turun hingga di bawah 2% dari PDB, sementara isu militer masih menjadi sensitivitas sosial setelah era Nazi.
Namun perang di Ukraina, serta ketergantungan Eropa pada keamanan NATO dan Amerika Serikat, mendorong kembali perdebatan mengenai kesiapan militer Jerman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









