Akurat

32 Penambang Liar Tewas Akibat Jembatan di Tambang Kongo Ambruk

Kumoro Damarjati | 17 November 2025, 08:43 WIB
32 Penambang Liar Tewas  Akibat Jembatan di Tambang Kongo Ambruk


AKURAT.CO Sebuah insiden mematikan terjadi di tenggara Republik Demokratik Kongo (DRC) ketika jembatan di area tambang Kalando, Mulondo, provinsi Lualaba, ambruk dan menewaskan puluhan penambang liar.

Peristiwa yang berlangsung pada Sabtu (15/11) itu dipicu kepanikan massal yang membuat para penambang berdesakan menuju jembatan sebelum akhirnya struktur tersebut runtuh.

Menteri Dalam Negeri DRC, Roy Kaumba Mayonde, mengatakan bahwa para penambang tetap memaksa masuk ke wilayah tambang meski otoritas telah membatasi akses karena hujan deras dan risiko longsor.

“Meskipun akses sangat dibatasi akibat curah hujan tinggi, para penambang liar tetap memaksa masuk,” ujar Mayonde.

Menurut laporan Dinas Pendukung dan Pembinaan Pertambangan Skala Kecil dan Artisanal DRC (Saemape), situasi memburuk setelah seorang tentara melepaskan tembakan ke arah lokasi. Tembakan itu memicu kepanikan, membuat ratusan penambang berlarian menuju jembatan untuk melarikan diri.

Dalam kepanikan tersebut, para penambang saling dorong hingga jatuh bertumpukan di atas jembatan yang kemudian ambruk. “Bertumpuk satu sama lain, mengakibatkan kematian dan cedera,” kata Mayonde.

Mayonde menyebut 32 orang tewas dalam kejadian itu, sementara laporan Saemape menyatakan jumlah korban dapat mencapai sedikitnya 40 jiwa.

Tambang Kalando sejak lama menjadi titik konflik antara penambang liar, koperasi pengelola tambang, dan operator resmi. DRC merupakan produsen kobalt terbesar di dunia—komponen penting untuk baterai lithium-ion pada kendaraan listrik—dan sekitar 80% produksinya dikendalikan perusahaan-perusahaan China.

Industri pertambangan di negara tersebut kerap dikaitkan dengan tuduhan pekerja anak, keselamatan kerja yang buruk, dan masalah korupsi. Situasi ini diperburuk oleh konflik berkepanjangan di wilayah timur Kongo, yang melibatkan pasukan pemerintah serta kelompok bersenjata seperti M23 yang didukung Rwanda. Ketidakstabilan itu telah memperdalam krisis kemanusiaan yang terjadi selama puluhan tahun.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.