Hubungan Peru dan Meksiko Memanas, Claudia Sheinbaum Dinyatakan Persona Non Grata

AKURAT.CO Ketegangan diplomatik antara Peru dan Meksiko kembali memuncak. Setelah memutuskan hubungan diplomatik beberapa hari lalu, Kongres Peru kini menyatakan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum sebagai persona non grata — sebuah langkah simbolik yang menandai memburuknya relasi kedua negara Amerika Latin itu.
Langkah tersebut merupakan respons keras terhadap keputusan pemerintah Meksiko yang memberikan suaka politik kepada mantan Perdana Menteri Peru, Betssy Chavez, yang tengah menghadapi proses hukum terkait dugaan keterlibatan dalam upaya kudeta tahun 2022.
Peru Marah atas Suaka Politik Meksiko
Betssy Chavez saat ini masih berlindung di Kedutaan Besar Meksiko di Lima, sementara pemerintah Peru menuduh langkah Meksiko sebagai bentuk campur tangan terhadap urusan dalam negeri mereka.
Meksiko, di sisi lain, menegaskan bahwa pemberian suaka tersebut dilakukan sesuai hukum internasional, termasuk Konvensi Caracas 1954 tentang suaka diplomatik.
“Kami hanya menjalankan prinsip kemanusiaan yang diakui secara global,” ujar perwakilan Kementerian Luar Negeri Meksiko menanggapi keputusan Peru.
Namun, kemarahan publik dan elite politik di Lima tak terbendung. Dalam sidang yang digelar pada Kamis (6/11/2025), 63 anggota Kongres Peru menyetujui resolusi untuk menyatakan Claudia Sheinbaum tidak diterima di wilayah mereka, sementara 33 lainnya menolak.
Sheinbaum Dituduh Tanpa Bukti
Beberapa anggota parlemen Peru bahkan menuding Sheinbaum memiliki keterkaitan dengan perdagangan narkoba — tuduhan yang tidak disertai bukti kuat dan langsung ditolak oleh kubu pendukung pemerintah.
Pengamat politik di kawasan menilai tuduhan tersebut mencerminkan meningkatnya ketegangan ideologis antara pemerintah berhaluan kiri di Meksiko dan pemerintahan konservatif di Peru.
Kasus Betssy Chavez, Akar Masalah Diplomatik
Chavez sebelumnya menjabat sebagai Perdana Menteri Peru pada masa Presiden Pedro Castillo, yang mencoba membubarkan kongres pada Desember 2022. Upaya itu berujung pada penangkapan Castillo dan gejolak politik nasional.
Chavez dituduh ikut dalam rencana kudeta tersebut dan menghadapi tuntutan hukuman 25 tahun penjara atas dakwaan pemberontakan dan konspirasi.
Ia sempat ditahan pada Juni 2023 dan dibebaskan dengan jaminan tiga bulan kemudian, tetap bersikeras tidak bersalah.
Kini, dengan perlindungan diplomatik dari Meksiko, kasus Chavez menjadi simbol perpecahan diplomatik antara dua negara tersebut.
Jejak Panjang Ketegangan Peru–Meksiko
Hubungan dingin antara kedua negara bukan hal baru. Pada 2022, pemerintah Peru juga mengusir duta besar Meksiko setelah Meksiko memberikan suaka kepada istri dan anak-anak Pedro Castillo.
Kini, dengan keputusan terbaru terhadap Sheinbaum, hubungan bilateral itu tampak semakin sulit dipulihkan dalam waktu dekat.
Menteri Luar Negeri Peru, Hugo de Zela, menyebut bahwa Meksiko berupaya menggambarkan “para pelaku kudeta sebagai korban,” dan menegaskan bahwa rakyat Peru berkomitmen mempertahankan demokrasi.
“Kenyataannya, rakyat Peru hidup dan ingin terus hidup dalam demokrasi, diakui oleh seluruh dunia, kecuali Meksiko,” kata de Zela kepada Reuters.
Dampak Regional
Langkah Peru ini berpotensi memperdalam perpecahan politik di kawasan Amerika Latin, di mana beberapa negara kini terbelah antara pemerintahan progresif berhaluan kiri dan rezim konservatif yang menentangnya.
Para analis memperkirakan, Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) atau PBB dapat menjadi arena berikutnya untuk mediasi jika konflik ini terus berlanjut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









