Siapa Rob Jetten, PM Termuda Belanda yang Baru Terpilih

AKURAT.CO Rob Jetten resmi terpilih menjadi Perdana Menteri (PM) Belanda, menjadikannya pemimpin termuda dalam sejarah negeri kincir angin tersebut. Politikus berusia 38 tahun dari Partai Demokrat 66 (D66) itu berhasil mengungguli pesaing utamanya, Geert Wilders, dalam pemilu nasional yang digelar akhir Oktober 2025.
Menang Tipis atas Geert Wilders
Dikutip dari AFP, Jumat (7/11/2025), Dewan Pemilihan Umum Belanda mengumumkan Jetten sebagai pemenang dengan perolehan 29.668 suara, unggul tipis atas Wilders yang dikenal dengan pandangan politik anti-Islam dan anti-imigrasi.
“Saya pikir kita telah menunjukkan kepada Eropa dan dunia bahwa gerakan populis bisa dikalahkan dengan kampanye positif untuk masa depan negara,” ujar Jetten usai pengumuman hasil pemilu.
Kemenangan Jetten dianggap sebagai titik balik politik Belanda setelah beberapa tahun terakhir dikuasai oleh narasi populis. Ia membawa pesan kampanye positif dengan slogan “Het kan wel” yang berarti “Ya, kita bisa”, terinspirasi dari kampanye mantan Presiden AS Barack Obama.
Harus Bentuk Koalisi Pemerintahan
Meski unggul dalam pemilu, Jetten belum bisa langsung memimpin pemerintahan. Seperti tradisi politik di Belanda, pembentukan koalisi menjadi langkah penting berikutnya.
Dalam sistem parlementer Belanda, tidak ada partai yang mampu memperoleh mayoritas dari 150 kursi parlemen, sehingga kompromi antarpartai menjadi kunci.
Partai D66 pimpinan Jetten meraih 26 kursi, jumlah yang sama dengan partai sayap kanan ekstrem Partij voor de Vrijheid (PVV) milik Wilders. Total ada 15 partai yang berhasil masuk parlemen, termasuk partai yang memperjuangkan hak-hak hewan serta kelompok yang mewakili warga berusia di atas 50 tahun.
Walaupun Wilders kehilangan 11 kursi dibandingkan pemilu 2023, partai-partai kanan ekstrem seperti Forum for Democracy (FvD) dan JA21 justru mengalami kenaikan jumlah kursi, menandakan sayap kanan tetap kuat di lanskap politik Belanda.
Rob Jetten, PM Termuda dan Politisi Gay Pertama
Kemenangan Rob Jetten tidak hanya bersejarah karena usianya yang muda, tetapi juga karena ia menjadi perdana menteri Belanda pertama yang secara terbuka menyatakan diri sebagai gay.
Dalam wawancara pasca-kemenangan, Jetten menyampaikan rasa syukur atas hasil pemilu yang disebutnya “bersejarah” untuk D66.
“Saya sangat senang kami menjadi partai terbesar dalam pemilihan ini. Namun di saat yang sama, saya merasa bertanggung jawab untuk membawa perubahan bagi seluruh rakyat Belanda,” katanya kepada media.
Profil dan Latar Belakang Rob Jetten
Rob Jetten lahir dan besar di Uden, sebuah kota kecil di bagian tenggara Belanda. Ia menempuh pendidikan Administrasi Publik di Universitas Radboud, Nijmegen.
Sejak muda, Jetten dikenal aktif dalam dunia olahraga, terutama sepak bola dan atletik. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru, yang disebutnya memberi pengaruh besar dalam membentuk karakter dan pandangannya terhadap pendidikan.
Dalam wawancara dengan situs universitasnya, Jetten pernah mengatakan,
“Saya ingin membuat dunia menjadi tempat yang sedikit lebih baik.”
Sebelum terjun ke politik, Jetten sempat bercita-cita memiliki restoran di negara tropis. Namun takdir membawanya ke dunia politik. “Saya sekarang memiliki pekerjaan terindah di Belanda,” ujarnya.
Kehidupan Pribadi dan Rencana Pernikahan
Dalam kehidupan pribadinya, Rob Jetten diketahui bertunangan dengan atlet hoki pria asal Argentina, Nicolas Keenan. Pasangan ini berencana melangsungkan pernikahan di Spanyol tahun depan. Di Belanda, ini dianggap sebagai sebuah kemajuan dalam keterbukaan.
Ia juga dikenal vokal dalam isu hak asasi manusia, keberlanjutan energi, dan integrasi Eropa.
Visi Rob Jetten untuk Belanda
Sebagai pemimpin baru, Rob Jetten berkomitmen untuk mengembalikan Belanda ke jantung kerja sama Eropa serta mengedepankan politik yang inklusif.
“Kami ingin menyingkirkan semua negativisme di Belanda selama beberapa tahun terakhir,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya kerja sama lintas negara di tengah tantangan global, dengan mengatakan,
“Tanpa kerja sama Eropa, kita tidak akan berada di mana pun.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









