Kesepakatan Baru AS–Tiongkok: Akhiri Perang Dagang Lewat Isu Logam Tanah Jarang

AKURAT.CO Amerika Serikat dan Tiongkok akhirnya mencapai kesepakatan penting yang berfokus pada logam tanah jarang — bahan krusial bagi industri teknologi dunia.
Kesepakatan ini muncul setelah berbulan-bulan negosiasi yang diwarnai ketegangan akibat perang dagang antara kedua negara.
Dalam pertemuan di Korea Selatan, Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping sepakat bahwa Tiongkok akan mencabut sebagian pembatasan ekspor logam tanah jarang yang diberlakukan awal tahun ini. Meski begitu, aturan lama yang diterapkan sejak April masih tetap berlaku.
Apa Itu Logam Tanah Jarang?
Tidak Sebenarnya “Langka”
Istilah logam tanah jarang mengacu pada 17 unsur kimia dalam tabel periodik — termasuk skandium, itrium, dan lantanida. Meski disebut “jarang”, unsur-unsur ini sebenarnya banyak terdapat di kerak bumi, bahkan lebih melimpah dibanding emas.
Namun, proses penambangan dan pemisahannya sulit, mahal, dan mencemari lingkungan, sehingga membuatnya tetap bernilai tinggi.
Kegunaan Logam Tanah Jarang dalam Kehidupan
Ada di Ponsel Hingga Jet Tempur
Logam tanah jarang digunakan di berbagai perangkat modern, seperti ponsel pintar, TV layar datar, turbin angin, dan lampu LED.
Selain itu, logam ini juga menjadi komponen utama baterai kendaraan listrik, pemindai MRI, dan peralatan medis.
Di bidang pertahanan, peran logam tanah jarang tak kalah penting. Unsur ini digunakan dalam pesawat tempur F-35, rudal Tomahawk, kapal selam, satelit, hingga sistem laser militer.
Siapa Pengendali Utama Logam Tanah Jarang?
Tiongkok Punya Dominasi Global
Selama bertahun-tahun, Tiongkok berhasil menguasai rantai pasok logam tanah jarang dunia.
Sekitar 61% hasil tambangnya berasal dari Tiongkok, dan lebih dari 90% proses pemurniannya dilakukan di negara itu, menurut Badan Energi Internasional (IEA).
Sementara itu, Amerika Serikat hanya memiliki satu tambang aktif di California dan masih harus mengirim hasil tambang mentah ke Tiongkok untuk dipisahkan.Hal ini membuat AS sangat bergantung pada Beijing.
“Tiongkok sudah menunjukkan kesediaan untuk memanfaatkan ketergantungan ini sebagai senjata ekonomi,” kata Gracelin Baskaran, Direktur Program Keamanan Mineral di CSIS.
Logam Tanah Jarang Jadi Senjata dalam Perang Dagang
Pembatasan Ekspor Jadi Alat Tekanan
Tiongkok menjadikan logam tanah jarang sebagai alat tawar dalam perang dagang dengan AS.
Awal bulan ini, Beijing menambahkan lima unsur baru ke daftar logam yang membutuhkan lisensi ekspor, sehingga total ada 12 jenis logam tanah jarang yang dibatasi.
Kebijakan ini sempat membuat Presiden Trump marah dan menuduh Beijing melanggar gencatan senjata perdagangan. Ia menilai pembatasan ekspor tersebut sengaja dilakukan untuk menekan Amerika.
Ketergantungan AS pada Pasokan dari Tiongkok
Antara 2020 hingga 2023, sekitar 70% impor logam tanah jarang AS berasal dari Tiongkok, menurut laporan Survei Geologi AS. Artinya, setiap langkah pembatasan dari Beijing bisa langsung memengaruhi industri Amerika — mulai dari teknologi tinggi hingga pertahanan nasional.
Trump menilai kesepakatan terbaru ini adalah langkah awal menuju hubungan dagang yang lebih stabil, sekaligus mengurangi risiko ketergantungan strategis terhadap Tiongkok.
Harapan Setelah Kesepakatan Baru
Kesepakatan soal logam tanah jarang ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian global yang sempat goyah akibat perang tarif antara dua negara raksasa ekonomi tersebut.
Selain diharapkan menurunkan ketegangan perdagangan, kerja sama ini juga bisa mendorong kestabilan pasokan bahan penting untuk industri teknologi dan energi hijau di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









