Akurat

Rembesan Metana Ditemukan di Dasar Laut Antartika, Ilmuwan Peringatkan Dampak Serius bagi Iklim Dunia

Kumoro Damarjati | 10 Oktober 2025, 23:50 WIB
Rembesan Metana Ditemukan di Dasar Laut Antartika, Ilmuwan Peringatkan Dampak Serius bagi Iklim Dunia

 

AKURAT.CO Para ilmuwan menemukan rembesan gas metana baru di dasar laut Antartika dengan laju yang mengejutkan. Temuan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa prediksi tentang pemanasan global selama ini mungkin masih terlalu rendah.

Metana adalah gas rumah kaca kuat yang mampu memerangkap panas hingga 80 kali lebih besar dari karbon dioksida (CO₂) dalam dua dekade pertama berada di atmosfer. Gas ini tersimpan dalam jumlah besar di bawah dasar laut dunia selama ribuan tahun, dan dapat keluar melalui celah atau retakan di permukaan laut dalam bentuk gelembung.

Namun, hingga kini ilmuwan masih minim pengetahuan tentang seberapa sering rembesan metana terjadi, berapa besar jumlah gas yang sampai ke atmosfer, serta seberapa banyak yang justru dimakan oleh mikroba pemakan metana di laut dalam.

Riset Internasional Ungkap 40 Titik Rembesan Baru di Laut Ross

Sebuah tim ilmuwan internasional melakukan penelitian di Laut Ross, wilayah Samudra Selatan, menggunakan kapal survei akustik, kendaraan bawah laut remote control, dan penyelam profesional. Mereka meneliti area pada kedalaman antara 5 hingga 240 meter.

Hasilnya mengejutkan: mereka menemukan lebih dari 40 rembesan metana baru, menurut laporan yang diterbitkan di jurnal Nature Communications.

“Banyak rembesan muncul di lokasi yang sebelumnya sudah diteliti, artinya rembesan ini baru terbentuk,” ujar Sarah Seabrook, ilmuwan kelautan dari Earth Sciences New Zealand.

“Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya perubahan mendasar dalam pelepasan metana di wilayah Antartika.”

Sebelum penelitian ini, hanya satu rembesan aktif yang pernah terkonfirmasi di Antartika. “Sesuatu yang dulu dianggap langka, kini tampak mulai meluas,” tambah Seabrook.

Ancaman Baru bagi Iklim dan Kehidupan Laut

Para peneliti mengaku sempat merasakan “kegembiraan” saat menemukan rembesan pertama, namun perasaan itu segera berubah menjadi kekhawatiran. Pasalnya, jika gas metana dari bawah laut berhasil mencapai atmosfer dalam jumlah besar, maka pemanasan global bisa meningkat lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Selain itu, kehidupan laut juga bisa terdampak. Gas metana yang naik dari dasar laut dapat mengubah keseimbangan ekosistem dan memengaruhi mikroorganisme yang menjadi dasar rantai makanan di laut.

Apakah Ini Akibat Perubahan Iklim?

Para ilmuwan masih menyelidiki penyebab munculnya rembesan tersebut. Salah satu dugaan kuat adalah perubahan suhu laut akibat pemanasan global.

Di wilayah Arktik, fenomena serupa telah terjadi. Meningkatnya suhu, naiknya permukaan laut, dan perubahan tekanan tanah akibat mencairnya gletser telah memicu pelepasan metana bawah tanah di wilayah kutub utara.

Menurut Seabrook, hal ini bisa menciptakan siklus umpan balik berbahaya — ketika pemanasan global memicu pelepasan metana, dan pelepasan metana mempercepat pemanasan global.

Penelitian Lanjutan di Antartika

Tim ilmuwan berencana kembali ke Antartika minggu depan untuk melakukan penelitian lanjutan selama dua bulan. Mereka akan memantau laju pelepasan metana dan dampaknya terhadap atmosfer serta kehidupan laut.

“Metana masih menjadi misteri besar,” kata Andrew Thurber, profesor biologi kelautan dari University of California, Santa Barbara, sekaligus penulis utama studi tersebut.

Thurber menegaskan bahwa Antartika menyimpan cadangan metana yang sangat besar. Jika suhu global terus meningkat, wilayah ini bisa berubah dari “laboratorium alami menjadi sumber bahaya besar bagi iklim dunia.”

“Rembesan metana ini seperti hewan berbahaya,” ujar Thurber. “Menakjubkan untuk dipelajari, tetapi berpotensi mematikan jika diremehkan.”

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.