Akurat

Es Laut Antartika Capai Titik Terendah Ketiga dalam 47 Tahun, Bukti Nyata Dampak Perubahan Iklim

Fitra Iskandar | 1 Oktober 2025, 13:13 WIB
Es Laut Antartika Capai Titik Terendah Ketiga dalam 47 Tahun, Bukti Nyata Dampak Perubahan Iklim

 

AKURAT.CO Es laut di sekitar benua Antartika kembali mencatat rekor buruk. Pada musim dingin tahun 2025, luas maksimum es laut hanya mencapai 17,81 juta kilometer persegi pada 17 September lalu. Angka ini menempati peringkat terendah ketiga dalam catatan satelit selama hampir setengah abad, menurut data awal dari Pusat Data Salju dan Es Nasional AS (NSIDC), Universitas Colorado Boulder.

Capaian tahun ini hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan rekor terendah sepanjang masa pada 2023 dan terendah kedua pada 2024, namun tetap jauh di bawah rata-rata historis.

Dampak Perubahan Iklim Mulai Nyata di Kutub Selatan
Peneliti senior CU Boulder, Ted Scambos, menjelaskan bahwa hingga tahun 2016, tren es laut Antartika sempat menunjukkan peningkatan kecil namun tidak stabil. Namun kini, pola itu berubah drastis.

“Yang terjadi adalah kehangatan dari lautan global kini bercampur dengan air di sekitar Antartika. Ini berarti perubahan iklim akhirnya mulai menyusul lautan beku di selatan,” kata Scambos kepada AFP.

Fungsi Penting Es Laut bagi Bumi

Meskipun mencairnya es laut tidak langsung menaikkan permukaan laut, dampaknya tetap sangat signifikan bagi iklim global. Hilangnya es laut berarti permukaan putih yang biasanya memantulkan panas matahari digantikan oleh air laut biru tua yang justru menyerap energi panas lebih banyak. Kondisi ini mempercepat pemanasan di kawasan kutub.

Selain itu, es laut juga berfungsi sebagai penyangga yang melindungi Lapisan Es Antartika. Dengan keberadaan es laut, gelombang besar dan hembusan angin kencang tidak langsung menghantam lapisan es daratan. Jika perlindungan ini hilang, risiko masuknya es daratan ke laut akan semakin besar dan berpotensi mempercepat kenaikan muka air laut.

Lebih jauh lagi, es laut membantu menstabilkan iklim di wilayah kutub. Tanpa lapisan pelindung ini, badai dan angin di sekitar Antartika akan semakin ganas, memperparah kerusakan lapisan es sekaligus mempercepat pencairannya.

Risiko Jangka Panjang

Scambos menambahkan, mencairnya es laut justru dapat memicu peningkatan curah salju di Antartika. Hal ini terjadi karena udara lembap dari lautan yang terbuka bergerak ke daratan dan menghasilkan lebih banyak hujan salju.

Namun, ia menekankan bahwa meskipun fenomena ini bisa menjadi "penyeimbang" sementara terhadap kenaikan permukaan laut, dalam jangka panjang catatan sejarah menunjukkan tren sebaliknya: lapisan es akan terus menyusut ketika iklim global tetap hangat.

Lapisan Es Antartika sendiri menyimpan cukup banyak es daratan untuk menaikkan permukaan laut global hingga menenggelamkan sebagian besar garis pantai rendah di dunia. Meski proses ini bisa memakan waktu berabad-abad, para ilmuwan mengingatkan dampaknya akan bersifat katastrofik jika tidak ada tindakan serius terhadap pemanasan global.

Lahan Laut Menyerap Panas Global

Fakta lain yang mengkhawatirkan, sekitar 90 persen panas berlebih akibat emisi manusia terserap oleh lautan. Hal ini menjadikan kawasan kutub, termasuk Antartika, sebagai garis depan krisis iklim yang akan menentukan masa depan stabilitas Bumi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.