Serangan Paramotor di Myanmar Saat Festival Hari Raya Buddha Tewaskan 24 Orang

AKURAT.CO Sedikitnya 24 orang tewas dan 47 lainnya luka-luka dalam serangan paramotor di tengah festival dan aksi protes di Myanmar tengah, Senin malam (6/10). Insiden ini terjadi di kota Chaung U, wilayah Sagaing, saat warga berkumpul untuk merayakan festival Thadingyut, hari raya besar umat Buddha.
Menurut laporan BBC Burmese, serangan terjadi ketika sebuah paralayang bermotor menjatuhkan dua bom ke arah kerumunan yang tengah menyalakan lilin sebagai bentuk protes terhadap kebijakan junta militer. Festival yang seharusnya berlangsung damai berubah menjadi tragedi berdarah.
Seorang pejabat lokal dari Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF), kelompok anti-junta, mengatakan sekitar 100 orang hadir dalam acara tersebut. “Kami menerima informasi tentang kemungkinan serangan udara dan mencoba membubarkan acara lebih cepat. Namun, paramotor datang lebih cepat dari perkiraan,” ujarnya.
“Mereka tiba dan menjatuhkan bom hanya dalam tujuh menit. Bom pertama membuat saya terjatuh, dan saya melihat orang-orang tewas di samping saya,” tambahnya.
Jenazah Sulit Dikenali, Korban Termasuk Anak-Anak
Penduduk setempat menyebutkan bahwa ledakan membuat banyak jenazah sulit diidentifikasi. Seorang perempuan yang turut mengorganisir acara itu mengatakan kepada AFP bahwa korban termasuk anak-anak.
“Anak-anak benar-benar hancur. Kami masih mengumpulkan potongan tubuh dari tanah,” ujarnya saat menghadiri pemakaman korban keesokan harinya.
Amnesty International: Serangan Paramotor Jadi Tren Baru
Dalam pernyataan resminya, Amnesty International mengecam serangan tersebut dan menyebut penggunaan paramotor oleh junta Myanmar sebagai bagian dari “tren yang meresahkan” dalam strategi militer mereka.
Peneliti Amnesty, Joe Freeman, mengatakan bahwa insiden ini menjadi “peringatan mengerikan” bagi komunitas internasional bahwa warga sipil Myanmar membutuhkan perlindungan segera.
Ia juga menyerukan agar ASEAN meningkatkan tekanan terhadap junta militer dan meninjau ulang pendekatan yang selama ini dinilai gagal melindungi rakyat Myanmar.
Laporan BBC Burmese menyebut, junta mulai menggunakan paramotor karena kekurangan pesawat dan helikopter, imbas dari sanksi internasional yang membatasi akses terhadap peralatan militer.
Konteks Konflik dan Pemilu Myanmar
Myanmar telah dilanda perang saudara sejak militer merebut kekuasaan dalam kudeta tahun 2021. Menurut data PBB, lebih dari 5.000 warga sipil telah tewas akibat konflik tersebut.
Serangan paramotor ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan Desember 2025, pemungutan suara pertama sejak kudeta. Namun, banyak pihak menilai pemilu tersebut tidak akan bebas dan adil, melainkan menjadi sarana bagi junta militer untuk mempertahankan kekuasaan.
Acara menyalakan lilin yang menjadi sasaran serangan pada Senin malam juga bertujuan memprotes wajib militer, menolak pemilu yang dianggap tidak sah, serta menyerukan pembebasan Aung San Suu Kyi dan tahanan politik lainnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









