Akurat

Para Relawan Global Sumud Flotilla yang Dibebaskan Khawatirkan Keselamatan Rekan Mereka yang Masih Ditahan Israel

Kumoro Damarjati | 7 Oktober 2025, 08:21 WIB
Para Relawan Global Sumud Flotilla yang Dibebaskan Khawatirkan Keselamatan Rekan Mereka yang Masih Ditahan Israel


AKURAT.CO Israel sempat menahan para aktivis Global Sumud Flotilla. Selain membatasi mereka dari akses terhadap bantuan hukum, Israel juga memperlakuan para aktivis dengan sangat buruk.

Seorang aktivis Italia Lorenzo D'Agostino yang tergabung dalam armada bantuan Gaza yang sempat ditahan oleh Israel menceritakan perlakuan buruk dan penghinaan yang dialaminya itu.

D’Agostino adalah salah satu dari sejumlah peserta armada yang dideportasi oleh Israel.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN, D’Agostino menceritakan pengalamannya dipaksa duduk atau berlutut di atas beton di depan bendera Israel selama berjam-jam, ditinggalkan dalam suhu dingin dengan sedikit pakaian, barang-barangnya disita, diejek, dan dihancurkan, serta pergelangan tangannya diikat erat.

“Kami terkejut dengan tingkat penghinaan dan kekejaman yang dilakukan orang-orang ini terhadap kami,” ujarnya.

"Cara kami diperlakukan adalah ... mendorong penganiayaan dan penghinaan hingga batas yang mereka mampu," kata D'Agostino. Ia mengatakan bahwa ia yakin karena ia berasal dari Italia – sekutu tradisional Israel – para penjaga Israel "tahu bahwa mereka tidak dapat menyakiti kami secara fisik" atau mereka akan menghadapi serangan balasan.

"Orang-orang yang datang dari negara-negara yang tidak bersekutu (dengan Israel) disakiti secara fisik," katanya. "Saya berbagi sel dengan seorang warga negara Turki (aktivis lain) yang lengannya patah dan ia dibiarkan tanpa obat penghilang rasa sakit selama dua hari."

Dalam sebuah unggahan media sosial pada hari Minggu, Kementerian Luar Negeri Israel menyangkal klaim mengenai penganiayaan terhadap para aktivis. Dia berdalih semua hak hukum para tahanan sepenuhnya ditegakkan.

D’Agostino adalah salah satu dari sekitar 450 aktivis, termasuk aktivis iklim Greta Thunberg, yang ditangkap pekan lalu di atas Global Sumud Flotilla, sebuah koalisi yang terdiri dari lebih dari 40 kapal bantuan kemanusiaan yang membawa makanan, air, dan obat-obatan menuju Gaza. Mereka yang ditahan antara Rabu dan Jumat dibawa ke Israel, di mana banyak di antaranya masih dipenjara.

Flotilla tersebut, yang berlayar pada akhir Agustus dan September, merupakan upaya terbaru para aktivis untuk mematahkan blokade Israel yang telah berlangsung bertahun-tahun atas wilayah Palestina melalui laut. Israel mengklaim bahwa blokade tersebut legal dan menyebut armada tersebut sebagai provokasi.

Thunberg, salah satu tokoh paling terkemuka di armada tersebut, diduga dipaksa berlutut di atas beton di depan bendera Israel, dan terus-menerus dikelilingi oleh bendera-bendera Israel lainnya selama ditahan, kata D’Agostino.

Polisi dan tentara sering memotretnya dengan bendera-bendera tersebut, tambahnya. Klaim ini diulangi oleh Lubna Tuma, penasihat hukum Adalah Legal Centre yang mewakili para aktivis, yang mengatakan bahwa Thunberg, bersama seorang tahanan lainnya, "dipisahkan dari yang lain dan dipaksa berfoto dengan bendera Israel sebagai tindakan penghinaan."

Pada Senin sore, Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan bahwa Thunberg juga telah dideportasi bersama 170 peserta armada lainnya.

Thunberg kemudian tiba di Bandara Internasional Athena, di mana ia mengatakan kepada kerumunan pendukungnya bahwa ia dapat "berbicara sangat, sangat lama tentang perlakuan buruk dan pelanggaran yang kami alami selama di penjara," sebelum menambahkan: "Tapi bukan itu ceritanya."

"Yang terjadi di sini adalah Israel, sambil terus memperburuk dan meningkatkan genosida dan penghancuran massal mereka ... mereka sekali lagi melanggar hukum internasional dengan mencegah bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza sementara orang-orang kelaparan," ujarnya.

Pemerintah Israel bersikeras bahwa mereka melancarkan perang di Gaza sesuai dengan hukum internasional, dan dengan tegas membantah tuduhan genosida.

Saat D’Agostino ditahan, ia mengatakan Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir, mengunjungi para peserta armada, dan menyebut mereka sebagai “teroris” dan “pendukung para pembunuh,” sebagaimana ditunjukkan dalam video.

Para penjaga perbatasan "merasa bersikap sangat kejam di depan menteri mereka," kata D'Agostino, seraya menambahkan bahwa tangannya diikat begitu erat saat Ben Gvir berkunjung sehingga rasanya seperti aliran darah mereka hampir terputus.

Pada hari yang sama, Ben Gvir mengkritik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu karena mendeportasi para aktivis armada.

"Keputusan Perdana Menteri untuk mengizinkan para pendukung teror di armada kembali ke negara mereka pada dasarnya keliru," ujarnya dalam sebuah unggahan di X.

"Saya yakin mereka harus ditahan di penjara Israel selama beberapa bulan, agar mereka dapat menghirup udara sayap teroris. Lagipula, tidak mungkin Perdana Menteri terus-menerus mengirim mereka kembali ke negara mereka - dan pembebasan inilah yang menyebabkan mereka kembali lagi dan lagi," lanjut Ben Gvir.

Aktivis lain yang dideportasi memberikan keterangan serupa tentang penahanan mereka, yang oleh pengacara dari Adalah Legal Centre yang mewakili para aktivis disebut sebagai "serangkaian pelanggaran." Goretti Sarasibar, yang dideportasi dari Tel Aviv pada hari Minggu, mengatakan kepada Reuters bahwa, setelah dibebaskan dari sel mereka, para aktivis dipaksa menonton tayangan serangan Hamas pada 7 Oktober di Israel, ketika militan membunuh sekitar 1.200 warga Israel dan menyandera 250 orang.

"Mereka tidak memberi kami makan sepanjang hari," katanya.

Aktivis Belanda Marco Tesh menceritakan bahwa ia pernah tidak bisa bernapas. "Mereka menempelkan sesuatu ke wajah saya dan mengikat tangan saya ke punggung," katanya.

Rekan deportan lainnya, Rafael Borrego, menunjukkan bekas borgol di pergelangan tangannya dan menjelaskan kondisi penjara.

"Setiap kali kami memanggil petugas polisi, kami menghadapi risiko tujuh orang atau lebih bersenjata lengkap masuk ke sel kami, seperti yang mereka lakukan di sel saya, mengarahkan senjata ke kepala kami, dengan anjing-anjing siap menyerang kami, dan diseret ke lantai," ujarnya kepada Reuters. "Ini terjadi setiap hari."

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.