Akurat

Sering Bikin Masalah Gawat, Pengadilan India Meminta Dokter Perbaiki Tulisan Tangan Mereka

Kumoro Damarjati | 4 Oktober 2025, 18:44 WIB
Sering Bikin Masalah Gawat, Pengadilan India Meminta Dokter Perbaiki Tulisan Tangan Mereka


AKURAT.CO Kasus salah obat akibat tulisan tangan dokter yang sulit dibaca kembali jadi sorotan publik di India. Seorang wanita dilaporkan mengalami kejang setelah meminum obat diabetes yang namanya mirip dengan obat pereda nyeri yang sebenarnya diresepkan untuknya.

Insiden seperti ini bukan hal baru. Tulisan tangan dokter yang tidak jelas sudah lama menjadi penyebab kesalahan pemberian obat di berbagai rumah sakit dan apotek India.

Kampanye Menuntut Larangan Resep Tulisan Tangan

Chilukuri Paramathama, seorang apoteker di kota Nalgonda, Telangana, mulai memperjuangkan isu ini sejak 2014. Ia tergerak setelah membaca berita tentang seorang anak berusia tiga tahun di Noida yang meninggal akibat salah suntik obat demam.
Chilukuri kemudian mengajukan petisi kepentingan publik ke Pengadilan Tinggi Hyderabad untuk melarang resep tulisan tangan dokter.

Perjuangannya membuahkan hasil. Pada tahun 2016, Dewan Medis India mengeluarkan peraturan bahwa setiap dokter wajib menulis resep dengan nama obat generik secara jelas, dan sebaiknya menggunakan huruf kapital.

Empat tahun kemudian, pada 2020, Menteri Kesehatan Muda India, Ashwini Kumar Choubey, menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki wewenang untuk menjatuhkan sanksi disiplin kepada dokter yang melanggar aturan tersebut.

Namun Masalahnya Masih Berlanjut

Meski aturan sudah berlaku hampir satu dekade, Chilukuri mengatakan resep tulisan tangan dokter yang sulit dibaca masih sering muncul di apoteknya. Ia bahkan mengirimkan contoh-contoh resep tidak terbaca kepada BBC — beberapa di antaranya tidak bisa ia pahami sendiri, padahal ia seorang apoteker berpengalaman.

Hal serupa diungkapkan oleh Ravindra Khandelwal, CEO jaringan apotek besar Dhanwantary di Kolkata.

Ia mengatakan, meski kini banyak dokter di kota besar sudah beralih ke resep digital atau cetak, di daerah pinggiran dan pedesaan mayoritas dokter masih menggunakan tulisan tangan.

“Selama bertahun-tahun, kami melihat pergeseran dari resep tulisan tangan ke resep cetak di kota-kota besar. Tapi di wilayah pedesaan, kebanyakan dokter masih menulis resep manual,” ujarnya.

Menurut Khandelwal, staf apoteknya yang berpengalaman biasanya bisa menebak maksud dokter dari tulisan tangan yang tidak jelas, namun tidak jarang mereka tetap harus menghubungi dokter langsung untuk memastikan obat yang benar.

Kesalahan Fatal yang Bisa Terulang

Kasus-kasus salah obat seperti yang dialami pasien wanita tersebut menunjukkan bahwa tulisan tangan dokter yang tidak terbaca bukan sekadar masalah kecil, melainkan ancaman serius bagi keselamatan pasien.

Meski pemerintah telah mengeluarkan regulasi, pelaksanaan di lapangan masih lemah — terutama di daerah dengan infrastruktur digital yang terbatas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.