Untuk Pertama Kali Dalam Hampir 60 Tahun, Presiden Suriah Pidato di PBB

AKURAT.CO Untuk pertama kalinya dalam hampir enam dekade, seorang presiden Suriah kembali berpidato di hadapan Majelis Umum PBB. Pada Rabu (24/9/2025), Presiden Ahmad al-Sharaa menyampaikan pidato bersejarah yang disiarkan di berbagai kota Suriah. Warga berkumpul di alun-alun dan menonton lewat layar raksasa sambil mengibarkan bendera nasional.
Latar Belakang: Jatuhnya Keluarga Assad
Pidato ini menjadi momen penting setelah kejatuhan rezim keluarga Assad, yang berkuasa sejak 1970. Pada Desember lalu, pasukan yang dipimpin al-Sharaa berhasil menggulingkan Bashar Assad, mengakhiri 54 tahun pemerintahan otoriter dan perang saudara 14 tahun yang menewaskan lebih dari 1 juta orang.
Al-Sharaa adalah presiden pertama Suriah yang berpidato di PBB sejak Noureddine Attasi pada 1967, setahun setelah Suriah kehilangan Dataran Tinggi Golan kepada Israel.
Seruan Perdamaian dan Kritik terhadap Israel
Dalam pidatonya, al-Sharaa menegaskan bahwa Suriah kini “merebut kembali tempatnya yang layak di antara bangsa-bangsa.”
Ia mengecam ancaman Israel dan berharap negosiasi keamanan dapat mengembalikan kesepakatan penarikan pasukan tahun 1974.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meremehkan peluang kesepakatan itu, meski kantornya mengakui pembicaraan sedang berlangsung dan menuntut jaminan keamanan, termasuk demiliterisasi Suriah barat daya serta perlindungan komunitas Druze.
Upaya Rekonsiliasi dan Tantangan Internal
Sejak memimpin, al-Sharaa berusaha meredakan ketegangan sektarian. Meski begitu, kekerasan antar-komunitas awal tahun ini menewaskan ratusan orang, dan kelompok bersenjata yang terkait pemerintahan baru dituduh melakukan pelanggaran terhadap minoritas Druze dan Alawi.
Ia berjanji memberi mandat kepada PBB untuk menyelidiki pembunuhan dan menuntut siapa pun yang terlibat.
Perang Narkoba dan Seruan Cabut Sanksi
Al-Sharaa juga menyoroti keberhasilan menghancurkan pabrik Captagon, narkotika mirip amfetamin bernilai miliaran dolar yang dulu menjadi sumber dana rezim Assad di tengah sanksi Barat.
Ia mendesak pencabutan penuh sanksi internasional agar rakyat Suriah terbebas dari tekanan ekonomi. Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah mencabut sebagian sanksi, tetapi sanksi ketat berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Sipil Caesar masih memerlukan persetujuan Kongres.
Dukungan dan Penentangan di Dalam dan Luar Negeri
Pidato al-Sharaa memicu euforia di Damaskus, sementara di New York, diaspora Suriah terbelah.
Pendukung pemerintah baru mengibarkan bendera revolusi berbintang tiga, sedangkan kelompok Druze mengangkat bendera lima warna dan menuduh al-Sharaa memiliki masa lalu dengan kelompok yang pernah berafiliasi dengan Al-Qaeda—tuduhan yang ia bantah dengan menegaskan pemutusan hubungan sejak lama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









