Trump Ungkap Upaya AS Rebut Pangkalan Udara Bagram dari Taliban, Pakar Ragukan Realisasinya

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku sedang bernegosiasi dengan Taliban untuk merebut kembali pangkalan udara Bagram di Afghanistan. Pangkalan strategis itu pernah menjadi pusat operasi militer AS selama perang dua dekade melawan kelompok-kelompok Islamis, sebelum dikuasai Taliban pada Agustus 2021.
Trump menyampaikan rencana tersebut dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer di kediaman resmi Chequers, Kamis (19/9), saat menjawab pertanyaan soal invasi Rusia ke Ukraina.
“Kami memberikannya [Bagram] secara cuma-cuma. Sekarang kami sedang berusaha mendapatkannya kembali karena mereka [Taliban] membutuhkan sesuatu dari kami,” ujar Trump. Ia menekankan posisi Bagram yang hanya berjarak sekitar satu jam penerbangan dari fasilitas nuklir Tiongkok.
Bagram: Pangkalan Udara Raksasa yang Strategis
Terletak sekitar 44 kilometer di utara Kabul, Bagram memiliki dua landasan pacu, lebih dari 100 tempat parkir jet tempur, rumah sakit 50 tempat tidur, hingga tenda seukuran hanggar. Salah satu landasan pacu yang dibangun pada 2006 bahkan mencapai panjang 12.000 kaki, memungkinkannya menampung berbagai pesawat militer berat.
Trump menyebut Bagram sebagai “salah satu pangkalan udara terkuat di dunia”. Ia menilai pangkalan tersebut sangat penting bagi kepentingan militer AS di kawasan, terutama terkait kedekatannya dengan Tiongkok.
Taliban Tolak Keras Rencana AS
Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, menyebut pernyataan Trump “emosional” dan menegaskan pengambilalihan kembali Bagram “mustahil”. “Tidak diperlukan kehadiran militer negara mana pun di Afghanistan, dan Emirat Islam tidak akan mengizinkan tindakan semacam itu,” tegas Mujahid.
Pemerintah Taliban juga menolak ide kesepakatan penyerahan pangkalan, meski menyatakan siap meningkatkan dialog diplomatik dengan Washington. AS hingga kini tidak mengakui pemerintahan Taliban sesuai kebijakan PBB.
Tantangan Militer dan Risiko Besar
Pakar militer AS meragukan rencana Trump dapat terlaksana. Menguasai kembali Bagram akan memerlukan operasi besar-besaran yang berpotensi menyerupai invasi ulang. Setidaknya 10.000 pasukan diperlukan untuk mengamankan perimeter pangkalan dari ancaman roket, ISIS, dan al-Qaeda, ditambah potensi serangan rudal Iran.
“Secara realistis, saya tidak melihat bagaimana ini bisa terjadi,” kata seorang pejabat militer AS kepada Reuters. Mantan pejabat pertahanan AS lainnya menilai keuntungan strategis Bagram tidak sebanding dengan risiko yang ditimbulkan.
Belum Ada Rencana Resmi
Hingga kini, tidak ada rencana militer aktif AS untuk merebut Bagram. Namun, pernyataan Trump memunculkan spekulasi baru soal arah kebijakan luar negeri Amerika, terutama terkait persaingan dengan Tiongkok dan hubungan dengan Taliban.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








