Akurat

Kontradiksi Sikap Inggris: Akui Situasi Gaza Mengerikan, tapi Bantah Ada Genosida

Kumoro Damarjati | 9 September 2025, 13:12 WIB
Kontradiksi Sikap Inggris: Akui Situasi Gaza Mengerikan, tapi Bantah Ada Genosida

AKURAT.CO Di saat sejumlah negara dan lembaga internasional menuding Israel melakukan genosida terhadap rakyat Palestina di Gaza, Inggris justru mengambil posisi berbeda. Pemerintah Inggris mengakui kondisi di Jalur Gaza sebagai “sangat mengerikan”, namun menolak menyebutnya sebagai genosida.

Penegasan itu tertuang dalam sebuah surat tertanggal 1 September, yang diungkap media pada Senin lalu. Surat tersebut dikirim David Lammy ketika ia masih menjabat sebagai menteri luar negeri, sebagai jawaban atas pertanyaan Sarah Champion, ketua Komite Pembangunan Internasional Parlemen Inggris. Champion menyoal bagaimana kebijakan London yang tetap memasok suku cadang jet tempur F-35—yang secara tidak langsung digunakan Israel—sejalan dengan kewajiban internasional Inggris untuk mencegah genosida.

Lammy, yang kini menjabat sebagai wakil perdana menteri sekaligus menteri kehakiman setelah perombakan kabinet, menegaskan pemerintah telah “mempertimbangkan dengan saksama” isu tersebut. Kesimpulan Kementerian Luar Negeri Inggris, kata Lammy, menyatakan Israel tidak bertindak dengan niat genosida.

Sikap ini menandai pergeseran dari kebijakan Inggris sebelumnya yang selalu menekankan bahwa penentuan genosida merupakan kewenangan pengadilan internasional, bukan pemerintah nasional. Bahkan pada Mei lalu, Menteri Timur Tengah Hamish Falconer menegaskan kembali pandangan tersebut. Namun, kini pemerintah Inggris secara resmi menolak mengategorikan serangan Israel di Gaza sebagai genosida.

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya tekanan publik global. Lebih dari 1.300 tokoh perfilman dunia, termasuk peraih Oscar, BAFTA, Emmy, dan Cannes, baru-baru ini menandatangani ikrar untuk menolak bekerja sama dengan institusi film Israel yang dianggap “terlibat dalam genosida dan apartheid terhadap rakyat Palestina.”

Perdana Menteri Keir Starmer sendiri sempat menyatakan pada Juli lalu bahwa Inggris akan mengakui negara Palestina di Majelis Umum PBB, kecuali Israel mengambil langkah nyata memperbaiki situasi di Gaza dan berkomitmen pada proses perdamaian.

Meski menolak label genosida, Lammy mengakui bahwa kondisi di Gaza sangat parah. Ia menegaskan Israel “harus berbuat lebih banyak untuk mencegah dan meringankan penderitaan yang ditimbulkan konflik.” Lammy juga mengungkap bahwa pemerintah beberapa kali meninjau ulang kebijakan ekspor senjata ke Israel.

September tahun lalu, London menangguhkan 30 dari 350 lisensi ekspor senjata ke Israel setelah penilaian menemukan “risiko yang jelas” bahwa senjata buatan Inggris dapat digunakan untuk melanggar hukum humaniter internasional. Namun, suku cadang untuk jet F-35 tetap dikecualikan dari penangguhan itu.

Sementara itu, Israel terus menghadapi kecaman global atas serangan brutalnya sejak Oktober 2023 yang telah menewaskan lebih dari 64.500 warga Palestina dan meluluhlantakkan Gaza. November lalu, Mahkamah Pidana Internasional bahkan mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang serta kejahatan terhadap kemanusiaan.

Israel kini juga berhadapan dengan kasus genosida di Mahkamah Internasional, yang menambah sorotan tajam terhadap kebijakan sekutunya, termasuk Inggris, dalam menyikapi konflik Gaza.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.