Akurat

Yang Perlu Diketahui dari Penghancuran Gaza City Tower oleh Israel

Kumoro Damarjati | 6 September 2025, 10:10 WIB
Yang Perlu Diketahui dari Penghancuran Gaza City Tower oleh Israel

AKURAT.CO Israel meningkatkan serangan di Gaza City dengan menargetkan gedung-gedung tinggi, termasuk Mushtaha Tower yang baru saja dihancurkan. Serangan udara pada Jumat pagi itu meratakan bangunan 12 lantai yang berada di kawasan padat penduduk. Warga hanya diberi waktu 15 menit untuk mengungsi, sehingga banyak yang tidak sempat menyelamatkan diri. Tenda-tenda pengungsian di sekitar lokasi juga ikut hancur, menambah jumlah korban sipil.

Alasan Israel dan Bantahan Warga Gaza

Militer Israel menyebut penghancuran gedung tinggi sebagai bagian dari strategi menguasai penuh Gaza City. Mereka mengklaim telah menguasai sekitar 40 persen wilayah dan akan melanjutkan operasi sampai Hamas menyerah. Namun, pihak pengelola Mushtaha Tower membantah tuduhan bahwa bangunan tersebut dipakai Hamas. Mereka menegaskan bahwa gedung hanya menjadi tempat berlindung keluarga pengungsi.

Korban Sipil dan Skala Kehancuran

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 50 orang tewas pada hari yang sama, termasuk tujuh anak. Jumlah korban perang kini melampaui 64.300 jiwa. Citra satelit menunjukkan kawasan Zeitoun, Tuffah, dan Sheikh Radwan mengalami kehancuran besar. Warga yang sempat kembali ke rumah mereka setelah jeda gencatan senjata kini kembali kehilangan tempat tinggal.

Krisis Kemanusiaan yang Semakin Memburuk

Israel berdalih bahwa gedung-gedung tinggi dipakai untuk menyimpan senjata dan mengoperasikan terowongan bawah tanah. Namun, klaim ini tidak disertai bukti. Lembaga kemanusiaan memperingatkan bahwa penghancuran terus-menerus terhadap hunian dan infrastruktur sipil akan memperburuk bencana kemanusiaan. Saat ini lebih dari 1,9 juta warga Gaza, atau sekitar 90 persen populasi, telah mengungsi tanpa tempat tujuan yang jelas.

Rumah Sakit Kewalahan Menangani Korban

Fasilitas medis seperti Rumah Sakit al-Shifa dilaporkan kewalahan dengan banyaknya korban luka bakar dan trauma. Serangan juga menghantam kawasan sekitar Universitas Islam, Sheikh Radwan, dan Remal. Evakuasi paksa di sejumlah bangunan membuat warga semakin sulit bergerak karena jalanan yang rusak dan blokade militer.

Fase Baru dalam Strategi Militer Israel

Analis menilai penghancuran gedung tinggi menjadi tanda fase baru operasi militer Israel. Ada yang melihat langkah ini sebagai perang psikologis untuk menciptakan kepanikan, sementara yang lain menilai tujuannya adalah menghilangkan titik strategis yang bisa mengancam pasukan darat. Gaza’s Civil Defence menuduh Israel sengaja menggunakan strategi ini untuk memaksa penduduk meninggalkan kota.

Reaksi Dunia Internasional

Mesir mengecam tindakan Israel dan menuduhnya melakukan genosida, menegaskan bahwa perpindahan massal dari Gaza tidak dapat diterima. Di Eropa, pejabat tinggi seperti Wakil Presiden Komisi Eropa Teresa Ribera juga menyebut tindakan Israel sebagai genosida. Gelombang protes terus berlangsung di berbagai kota, menuntut embargo senjata dan sanksi terhadap pejabat Israel.

Kelaparan dan Krisis Bantuan

Jalur distribusi bantuan telah terhenti lebih dari enam bulan, memicu kelaparan parah. UNRWA mencatat ribuan anak menderita malnutrisi akut. Infrastruktur sipil, mulai dari sekolah hingga pemakaman, juga hancur akibat operasi militer yang meluas.

Warga Gaza Terjebak Tanpa Jalan Keluar

Bagi warga Gaza City, situasi ini meninggalkan rasa terjebak tanpa harapan. Mereka mengatakan tidak ada lagi tempat aman, bahkan tenda pengungsian pun tak mampu melindungi. Dengan operasi militer yang terus berlanjut, penghancuran gedung-gedung tinggi seperti Mushtaha Tower kemungkinan besar hanyalah permulaan dari serangan berikutnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.