Adu Kekuatan Militer Israel dan Iran, Siapa yang Paling Kuat?

AKURAT.CO Situasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel mengonfirmasi serangan militer besar-besaran ke sejumlah target strategis di Iran. Serangan ini menyoroti perimbangan kekuatan militer antara dua negara yang telah lama bersitegang tersebut.
Dalam pernyataan video kepada publik, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa Israel tengah berada dalam momen yang menentukan dalam sejarah bangsanya. Ia menyatakan bahwa serangan terhadap Iran akan terus dilakukan dalam beberapa hari mendatang.
"Israel menargetkan ilmuwan-ilmuwan Iran yang bekerja mengembangkan bom nuklir, program rudal balistik mereka, serta fasilitas pengayaan uranium di Natanz," ujar Netanyahu seperti dikutip oleh Reuters.
Baca Juga: Rudal Iran Serang Israel, Ledakan Terdengar di Tel Aviv dan Yerusalem
Iran dan Israel merupakan dua negara yang terletak di kawasan Timur Tengah. Wilayah ini dikenal sebagai kawasan dengan kerentanan konflik yang tinggi, baik dalam bentuk bilateral maupun multinasional. Timur Tengah dihuni oleh 14 negara, antara lain Arab Saudi, Irak, Iran, Israel, Suriah, dan Turki.
Berdasarkan data dari Global Firepower (GFP) tahun 2025, Israel dan Iran menempati posisi yang hampir sejajar dalam daftar kekuatan militer global. Israel berada di peringkat ke-15, sementara Iran satu tingkat di bawahnya, yaitu peringkat ke-16 dari 145 negara yang dinilai.
Secara lebih rinci, kekuatan personel aktif Iran diperkirakan mencapai sekitar 610.000 tentara, termasuk pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) yang memiliki pengaruh besar dalam operasi militer dan regional.
Sementara itu, Israel memiliki sekitar 170.000 tentara aktif dengan tambahan ratusan ribu pasukan cadangan yang dapat dikerahkan dengan cepat dalam kondisi darurat.
Dalam hal kekuatan udara, Iran memiliki sekitar 550 unit pesawat militer, termasuk pesawat tempur dan helikopter serbu. Meski jumlahnya lebih banyak, sebagian besar armada udara Iran terdiri dari pesawat tua buatan Rusia dan AS era Perang Dingin.
Sebaliknya, Israel memiliki sekitar 600 unit pesawat militer dengan dominasi jet tempur F-15 dan F-35 buatan Amerika Serikat yang lebih modern dan canggih dari segi teknologi serta presisi serangan.
Di sektor laut, Iran memiliki armada besar kapal cepat bersenjata dan kapal selam mini, yang dirancang untuk operasi di Teluk Persia. Israel memiliki angkatan laut yang lebih kecil, namun dilengkapi dengan kapal selam kelas Dolphin yang mampu meluncurkan rudal jelajah dan menjadi bagian dari sistem deterrence strategis.
Dalam kekuatan darat, Iran unggul secara kuantitas dengan lebih dari 4.000 tank dan kendaraan lapis baja. Namun, banyak analis menilai keunggulan Israel terletak pada kecepatan manuver dan teknologi sistem senjata yang lebih modern, termasuk sistem pertahanan udara Iron Dome dan David’s Sling yang telah terbukti efektif menangkal serangan rudal.
Kedua negara juga aktif dalam pengembangan sistem rudal jarak jauh. Iran memiliki rudal balistik seperti Shahab-3 dan Sejjil yang mampu menjangkau wilayah Israel. Israel sendiri memiliki sistem rudal Jericho yang tidak banyak diungkap ke publik, namun diyakini mampu membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir.
Baca Juga: Arab Saudi Kutuk Serangan Israel ke Iran: Pelanggaran Jelas terhadap Hukum Internasional
Perbandingan ini mencerminkan bahwa meskipun Iran memiliki keunggulan dalam jumlah personel dan persenjataan konvensional, Israel cenderung lebih unggul dalam hal teknologi, kecanggihan senjata, serta efisiensi sistem komando dan kendali.
Persaingan militer ini menempatkan kedua negara dalam posisi yang sangat sensitif dan berpotensi memperbesar skala konflik jika tidak segera diredakan melalui jalur diplomasi.
Konflik terbuka antara Israel dan Iran tentu tidak hanya berdampak pada dua negara tersebut, tetapi juga berisiko menimbulkan ketegangan regional yang lebih luas.
Masyarakat internasional dihadapkan pada tantangan besar untuk mendorong deeskalasi dan mencegah potensi perang terbuka di kawasan yang telah lama menjadi pusat ketegangan global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










