Habemus Papam Segera Bergema: Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo Berpeluang Jadi Paus

AKURAT.CO Kepergian Paus Fransiskus telah membuka babak baru dalam sejarah Gereja Katolik. Habemus papam menjadi suara yang dinantikan.
Kursi Suci kini kosong—sede vacante, istilah Latin yang menandai berakhirnya masa kepemimpinan seorang Paus dan dimulainya proses pemilihan pemimpin baru umat Katolik sedunia.
Dalam masa transisi ini, tanggung jawab besar jatuh ke tangan Dewan Kardinal, kelompok elit para pemimpin gereja dari seluruh dunia.
Mereka bukan hanya menentukan tanggal pemakaman Paus Fransiskus, tetapi juga mengatur kelangsungan administrasi Gereja hingga Paus baru terpilih.
Salah satu tokoh penting yang turut terlibat adalah Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo.
Sebagai anggota Dewan Kardinal yang berusia di bawah 80 tahun, ia termasuk dalam daftar kandidat potensial yang bisa terpilih menjadi Paus selanjutnya.
Selama masa sede vacante, semua urusan administratif Vatikan berada di bawah kendali camerlengo, seorang pejabat khusus yang memastikan roda pemerintahan Gereja tetap berjalan.
Baca Juga: PGI Kenang Paus Fransiskus: Gembala Dunia yang Menolak Kemewahan, Merangkul Kemanusiaan
Namun, tidak ada keputusan besar yang diambil dalam masa ini. Fokusnya hanyalah menjaga stabilitas dan kelancaran operasional harian Gereja.
Tujuh hari setelah Paus dimakamkan, para kardinal elektor akan berkumpul di Kapel Sistina untuk menggelar konklaf, proses sakral dan tertutup di mana satu dari mereka akan dipilih menjadi Paus berikutnya.
Hanya mereka yang berstatus kardinal elektor dan berusia di bawah 80 tahun yang berhak memilih dan dipilih.
Saat ini, dari 252 kardinal yang masih hidup, hanya 135 yang memenuhi kriteria itu, termasuk Kardinal Suharyo.
Dari 135 pemilih itu, sebagian besar merupakan pilihan langsung mendiang Paus Fransiskus. Sebarannya pun cukup merata: 53 dari Eropa, 20 dari Amerika Utara, 23 dari Asia, 18 dari Afrika, 17 dari Amerika Selatan, dan empat dari Oseania.
Saat Paus terpilih, Ketua Dewan Kardinal, Giovanni Battista Re, akan menanyakan nama kepausan yang akan dipilih oleh pemimpin baru tersebut.
Setelah itu, dalam prosesi khidmat, sang Paus akan mengenakan jubah putih khas kepausan dan menjalani momen reflektif di sala delle lacrime (ruangan air mata), untuk merenungi beban suci yang kini ada di pundaknya.
Tak lama kemudian, Kardinal Diakon, Renato Raffaele Martino, akan muncul di balkon Basilika Santo Petrus dan menyerukan ke seluruh dunia: Habemus Papam!—“Kita punya Paus!”
Dunia kini menanti dengan harap. Siapakah yang akan memimpin 1,3 miliar umat Katolik dalam zaman penuh tantangan ini?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK









