Akurat

Profil Ismail Haniyeh, Pemimpin Tertinggi Hamas yang Terbunuh dalam Serangan Israel di Iran

Sulthony Hasanuddin | 31 Juli 2024, 12:20 WIB
Profil Ismail Haniyeh, Pemimpin Tertinggi Hamas yang Terbunuh dalam Serangan Israel di Iran

AKURAT.CO Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh dikabarkan terbunuh dalam serangan Israel di Teheran, Iran, pada Rabu (31/7/2024) pagi waktu setempat.

Berita kematian Haniyeh muncul kurang dari 24 jam setelah Israel mengklaim telah membunuh komandan Hizbullah, sebagai balasan atas serangan mematikan di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

Haniyeh diketahui telah tinggal di pengasingan di Qatar tetapi sering bepergian ke Iran, ia bahkan menghadiri pelantikan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pada Selasa dan bertemu dengannya sebelumnya.

Baca Juga: Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh Tewas dalam Serangan Udara Israel di Iran

"Pembunuhan yang dilakukan oleh pendudukan Israel terhadap Saudara Haniyeh adalah sebuah eskalasi besar yang bertujuan untuk mematahkan keinginan Hamas," ujar pejabat senior Hamas, Sami Abu Zuhri dikutip dari Reuters.

Haniyeh adalah anggota Hamas dengan profil tertinggi yang terbunuh sejak Israel pertama kali menyerang Gaza pada Oktober lalu.

Garda Revolusi Iran lantas mengkonfirmasi kematian Haniyeh dan mengatakan bahwa mereka sedang melakukan penyelidikan.

Di sisi lain, tidak ada komentar langsung dari pihak berwenang Israel.

Baca Juga: Balas Dendam Israel, Komandan Senior Hizbullah Tewas dalam Serangan Udara di Beirut

Profil Ismail Haniyeh

Haniyeh lahir pada tahun 1962 di kamp pengungsi Shati di utara Kota Gaza, dari orang tua Palestina yang pada tahun 1948 telah dipindahkan dari rumah mereka di Ashkelon, yang sekarang menjadi wilayah Israel.

Dia belajar di sekolah-sekolah yang dijalankan oleh badan utama PBB untuk Palestina, UNRWA, dan melanjutkan studi sastra Arab di Universitas Islam Gaza. 

Dia ditangkap oleh militer Israel dan menjalani beberapa hukuman penjara di penjara Israel pada 1980-an dan 1990-an. 

Kenaikannya ke kekuasaan di Gaza dibantu oleh mentornya, pemimpin spiritual dan pendiri Hamas, Sheik Yassin, yang dia layani sebagai sekretaris pribadi.

Keduanya menjadi target upaya pembunuhan oleh Israel pada tahun 2003. Namun setahun kemudian, Sheik Yassin tewas oleh militer Israel. 

Baca Juga: KPK Panggil Direktur Keuangan Pertamina Soal Kasus Korupsi LNG

Kenaikan ke Kekuasaan

Haniyeh diangkat sebagai pemimpin Hamas di Gaza pada 2006. Tahun itu, ia sempat menjabat sebagai perdana menteri pemerintahan persatuan Palestina, yang dibubarkan setelah berbulan-bulan ketegangan yang melibatkan konflik bersenjata antara faksi-faksi Palestina. 

Baca Juga: Pamer Harta di Media Sosial, Begini Respons Islam

Pada 2017, ia diangkat sebagai pemimpin biro politik Hamas saat kelompok tersebut berusaha melunakkan citra publiknya untuk mendapatkan pengaruh di kalangan Palestina dan internasional.

Haniyeh memimpin Hamas dari Qatar dan Turki dalam beberapa tahun terakhir.

Dia adalah salah satu negosiator dalam pembicaraan yang sedang berlangsung antara Israel dan Hamas, yang dimediasi oleh Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat, untuk mengakhiri perang di Gaza sebagai ganti pembebasan sandera yang ditangkap dalam serangan yang dipimpin Hamas di Israel.

Diburu oleh Pengadilan Kriminal Internasional

Pada Mei, jaksa Pengadilan Kriminal Internasional mengatakan akan mencari surat perintah penangkapan untuk Haniyeh.

Jaksa menuduhnya dan pemimpin Hamas lainnya melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan sehubungan dengan serangan 7 Oktober di Israel, termasuk pemusnahan, pembunuhan, pengambilan sandera, pemerkosaan, dan kekerasan seksual dalam penahanan. 

Baca Juga: Carlos Pena Kecewa Berat, Persija Jakarta Hampir Menang Malah Dikalahkan Borneo FC

Pada bulan Juni, Hamas mengatakan bahwa saudara perempuan Haniyeh dan keluarganya tewas dalam serangan oleh militer Israel di rumah keluarga Haniyeh di Gaza, sebuah pernyataan yang tidak dikonfirmasi oleh militer.

Pada bulan April, tiga dari 13 putra Haniyeh tewas oleh pasukan Israel dalam operasi militer lain di Gaza. 

Baca Juga: Kondisi Terkini Daycare di Depok Usai Kasus Penganiayaan Anak, Tampak Sepi Tak Ada Kegiatan

"Kami tidak akan menyerah, apapun pengorbanannya," kata Haniyeh saat itu, mencatat bahwa dia telah kehilangan puluhan anggota keluarganya dalam perang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.