Akurat

Israel Mengaku Siap Evakuasi Penduduk Gaza di Rafah, Ternyata Ini Alasannya

Sulthony Hasanuddin | 24 April 2024, 23:01 WIB
Israel Mengaku Siap Evakuasi Penduduk Gaza di Rafah, Ternyata Ini Alasannya

AKURAT.CO Militer Israel mengatakan pada Rabu (24/2/2024) bahwa mereka siap untuk mengevakuasi warga sipil Palestina dari Rafah.

Namun, evakuasi tersebut dilakukan Israel guna kelancaran serangan kepada Hamas di kota Jalur Gaza Sealatan itu.

Seorang juru bicara pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Israel terus bergerak maju dengan operasi darat, namun tidak memberikan jadwal.

Baca Juga: Adu Kuat Iran-Israel

Pejabat pertahanan tersebut juga melaporkan bahwa Kementerian Pertahanan Israel telah membeli 40.000 tenda, masing-masing berkapasitas 10 hingga 12 orang, untuk menampung warga Palestina yang direlokasi dari Rafah sebelum serangan.

Video yang beredar online menunjukkan deretan tenda persegi berwarna putih berdiri di Khan Younis, sebuah kota sekitar 5 km (3 mil) dari Rafah.

Dilansir dari Reuters, belum dapat dipastikan mengenai kebenaran video tersebut namun meninjau gambar dari perusahaan satelit Maxar Technologies terlihat tenda-tenda di tanah Khan Youni telah kosong beberapa minggu lalu.

Baca Juga: Fundamental Ekonomi RI Kokoh, Menko Airlangga Tak Risau Dengan Dampak Konflik Iran-Israel

Sumber pemerintah Israel mengatakan kabinet perang Netanyahu berencana bertemu dalam dua minggu mendatang untuk mengizinkan evakuasi warga sipil, yang diperkirakan akan memakan waktu sekitar satu bulan.

Pejabat pertahanan, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengungkapkan bahwa militer dapat segera mengambil tindakan tetapi menunggu lampu hijau dari Netanyahu.

Baca Juga: Mukjizat! Bayi Perempuan di Gaza Berhasil Diselamatkan dari Rahim Sang Ibu yang Terbunuh Karena Serangan Israel

Seperti diketahui, Rafah, yang berbatasan dengan perbatasan Mesir, menampung lebih dari satu juta warga Palestina yang melarikan diri dari serangan Israel yang telah berlangsung selama setengah tahun di seluruh Gaza.

Di sisi lain, menurut Israel Rafah adalah rumah bagi empat batalyon tempur Hamas yang diperkuat oleh ribuan pejuang yang mundur.

Baca Juga: Menteri Luar Negeri AS Bantah Terapkan Standar Ganda Atas Dugaan Pelanggaran Hak Asasi Manusia oleh Israel

Oleh karena itu Israel harus mengalahkan mereka untuk meraih kemenangan.

"Hamas terkena pukulan keras di sektor utara. Hamas juga terkena pukulan keras di tengah Jalur Gaza. Dan dalam waktu dekat Hamas juga akan terkena pukulan keras di Rafah," tutur Brigadir Jenderal Itzik Cohen, komandan Divisi 162 Israel yang beroperasi di Gaza.

Namun sekutu terdekat Israel, Amerika Serikat, telah meminta mereka untuk mengesampingkan rencana serangan dan mengatakan Israel dapat memerangi pejuang Hamas di sana dengan cara lain.

“Kami tidak dapat mendukung operasi darat Rafah tanpa rencana kemanusiaan yang tepat, kredibel, dan dapat dilaksanakan justru karena rumitnya penyampaian bantuan,” kata David Satterfield, utusan khusus AS untuk kemanusiaan Timur Tengah.

Baca Juga: Bertanggung Jawab Atas Serangan 7 Oktober, Kepala Intelijen Militer Israel Mengundurkan Diri

Mesir juga mengatakan tidak akan membiarkan warga Gaza didorong melintasi perbatasan menuju wilayahnya.

Negara itu telah memperingatkan Israel agar tidak melakukan tindakan di Rafah, yang menurut mereka akan menyebabkan pembantaian besar-besaran, kerugian dan kehancuran yang meluas.

Israel telah menarik sebagian besar pasukan daratnya dari Gaza selatan bulan ini, namun terus melancarkan serangan udara dan melakukan serangan ke wilayah yang ditinggalkan pasukannya.

Upaya Amerika Serikat, Mesir dan Qatar untuk menengahi perpanjangan gencatan senjata guna mencegah serangan terhadap Rafah sejauh ini gagal.

Baca Juga: TEGAS! Amerika Serikat Siap Jatuhi Sanksi Pelarangan Bantuan Militer Kepada Unit IDF yang Terlibat Kekesaran di Tepi Barat Palestina

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.