3 Alasan Menteri Keamanan Israel Serukan Penyerbuan pada 10 Hari Terakhir Ramadhan di Masjid Al-Aqsa

AKURAT.CO Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengajukan usulan penyerbuan untuk mengizinkan orang Yahudi memasuki Masjid Al-Aqsa selama 10 hari terakhir Ramadhan.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui laporan media swasta Israel, Channel 13, pada Minggu (17/3/2024) waktu lokal, yang dilaporkan oleh Jordan News.
Ben-Gvir dilaporkan telah mengkomunikasikan permintaannya kepada pejabat keamanan Israel, dan rencananya akan didiskusikan dalam kabinet dalam dua minggu mendatang.
"Ben-Gvir menuntut penghapusan kebijakan terkenal di Israel dan mengizinkan orang-orang Yahudi menyerbu Masjid Al Aqsa selama 10 hari terakhir bulan Ramadan," demikian laporan tersebut.
Lebih lanjut, dikutip dari Times Of Israel, berikut beberapa alasan Menteri Keamanan Nasional Israel serukan penyerbuan selama 10 terakhir Ramadhan.
1. Ingin menguasai Masjid Al-Aqsa sepenuhnya
Dalam masa jabatannya sebagai Menteri Keamanan Nasional Israel, Ben-Gvir telah terlibat dalam berbagai tindakan kontroversial.
Salah satunya adalah menimbulkan ketegangan di kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki oleh Israel.
Beberapa kali Ben-Gvir telah melakukan tindakan provokatif di tempat ibadah tersebut. Yang terbaru adalah seruannya agar umat Yahudi menyerbu Al-Aqsa selama 10 hari terakhir bulan Ramadan.
Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Ben-Gvir ini mungkin bertujuan untuk menguasai penuh atas Masjid Al-Aqsa.
Meskipun Yerusalem Timur berada di bawah kendali Israel, namun Masjid Al-Aqsa yang merupakan situs suci bagi umat Islam, belum sepenuhnya berada dalam kendali mereka.
2. Sentimen anti-Palestina yang kuat
Ben-Gvir memiliki sejarah panjang dalam memprovokasi penduduk Palestina dan kelompok sayap kiri di Israel.
Dengan konsistensi yang tinggi, Ben-Gvir sering mengeluarkan pernyataan yang anti-Palestina.
Tidak hanya menyerukan konflik, tetapi dia juga sering membuat komentar yang bersifat rasialis.
3. Pembatalan kebijakan bersejarah di Israel
Masjid Al-Aqsa adalah salah satu tempat suci dalam agama Islam, sementara umat Yahudi merujuk padanya sebagai Temple Mount dan menganggapnya sebagai tempat suci karena dua kuil Alkitab pernah berdiri di sana.
Umat Yahudi biasanya hanya diizinkan mengunjungi kompleks Al-Aqsa atau Temple Mount selama 20 hari pertama bulan Ramadhan, sementara kunjungan dilarang pada 10 hari terakhir.
Alasannya, 10 hari terakhir Ramadhan dianggap sebagai puncak perayaan, terutama dengan malam Lailatul Qadr yang merupakan momen yang sangat penting bagi umat Islam dan dianggap sangat sensitif dalam hal keamanan.
Namun, pada Ramadan kali ini, Ben-Gvir berusaha untuk mencabut kebijakan tersebut.
Ia ingin agar umat Yahudi tetap dapat mengunjungi Temple Mount, bahkan selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan.
Di sisi lain, para pejabat senior kabinet telah menyatakan bahwa permintaan tersebut tidak akan disetujui.
Hal ini disebabkan oleh situasi keamanan yang masih tegang akibat perang yang sedang berlangsung di Gaza.
Keputusan untuk mengizinkan orang Yahudi memasuki Masjid Al-Aqsa selama Ramadan berpotensi memicu kerusuhan di kalangan masyarakat.
Tidak hanya itu, seruan tersebut juga bertentangan dengan kebijakan yang melarang serangan terhadap Palestina selama bulan Ramadhan untuk mencegah meningkatnya ketegangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








