Akurat

Menteri Israel Serukan Hapus Bulan Ramadan demi Kelancaran Perang, Langsung Tuai Kecaman

Rahmat Ghafur | 5 Maret 2024, 14:30 WIB
Menteri Israel Serukan Hapus Bulan Ramadan demi Kelancaran Perang, Langsung Tuai Kecaman



AKURAT.CO Menteri Warisan Budaya Israel, Amichai Eliyahu, menyuarakan untuk menghapus bulan suci Ramadan.

Tentu saja, seruan tersebut menimbulkan kehebohan di kalangan umat muslim di seluruh dunia.

Penghapusan bulan Ramadan sendiri bertujuan untuk meredakan ketegangan dan konflik yang berlangsung di Tepi Barat dan Yerusalem Timur selama bulan suci tersebut. Ia juga mengatakan bahwa ketakutan pada bulan Ramadan juga harus dihapuskan.

Baca Juga: PBB: Pemerkosaan Individu dan Berkelompok Kemungkinan Terjadi Selama Serangan Hamas ke Israel

"Apa yang disebut sebagai bulan Ramadhan harus dihilangkan, dan ketakutan kita terhadap bulan ini juga harus dihilangkan," ujar Eliyahu mengatakan kepada Radio Angkatan Darat, dikutip Anadolu Agency, Selasa (5/3/2024).

Pernyataan tersebut segera mendapat kritik yang tajam dari publik dan berbagai pihak, baik di dalam maupun luar Israel.

Diketahui, Eliyahu adalah menteri dari Partai Otzma Yehudit yang dipimpin oleh Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben Gvir.

Pernyataan kontroversial ini bukanlah kali pertama disampaikan Eliyahu.

Sebelumnya, menteri tersebut pernah menyatakan keinginan untuk menggunakan bom nuklir di Jalur Gaza sebagai salah satu opsi selama situasi tegang di wilayah tersebut.

Akibat pernyataan yang disampaikan dalam wawancara bersama Radio Kol Berama, Eliyahu dihentikan sementara dari posisinya sebagai Menteri Warisan Budaya Israel.

Dia juga tidak diizinkan untuk menghadiri pertemuan kabinet yang diselenggarakan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

"Kata-kata Amichai Eliyahu tidak sesuai dengan kenyataan," tulis Netanyahu dalam sebuah postingan di media sosial X saat itu.

Akhir-akhir ini Israel mulai merasa cemas mengenai potensi konflik di Tepi Barat dan Yerusalem sebagai dampak agresi di Jalur Gaza yang telah menyebabkan lebih dari 30.400 kematian.

Israel khawatir ada kemungkinan terjadinya bentrokan, terutama selama bulan Ramadan.

Kekhawatiran ini muncul karena penerapan kebijakan pembatasan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang mencakup pembatasan kunjungan umat muslim ke Masjid Al Aqsa dengan alasan keamanan.

Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat memberikan tekanan kepada Tel Aviv untuk mencapai kesepakatan dengan Hamas terkait pertukaran sandera dan gencatan senjata di Gaza sebelum bulan Ramadan.

Dalam pembicaraan mengenai perjanjian pembebasan sandera yang terus berlanjut dengan bantuan mediasi dari AS, Qatar dan Mesir, Presiden AS, Joe Biden, menyatakan pada Senin (4/3/2024) bahwa Israel akan menghentikan konfliknya melawan Gaza jika kesepakatan tersebut tercapai.

Baca Juga: Israel Ambil Alih 650 Hektare Tanah di Tepi Barat yang Berbatasan dengan Permukiman Yahudi

 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
D