Laporan Menyebut, Trump Sudah Disodori Opsi Militer Membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamanei

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan telah menerima sejumlah opsi militer terhadap Iran, termasuk skenario penargetan langsung terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan putranya, Mojtaba Khamenei.
Laporan tersebut diungkap media AS, Axios, yang mengutip sejumlah sumber senior di pemerintahan.
Salah satu penasihat senior Trump menyebutkan bahwa dalam pembahasan internal, terdapat skenario yang akan “menghabisi ayatollah, putranya, dan para mullah,” merujuk pada Khamenei dan Mojtaba yang selama ini disebut-sebut sebagai calon kuat penerus ayahnya.
Meski demikian, sumber tersebut menegaskan belum ada keputusan final dari Trump.
“Presiden belum memutuskan untuk menyerang. Saya tahu karena kami belum melakukannya. Ia bisa saja tidak pernah melakukannya. Bisa juga besok pagi ia bangun dan berkata, ‘Sudah, lakukan,’” ujar penasihat tersebut, menggambarkan situasi yang masih sangat dinamis.
Menurut laporan itu, Departemen Pertahanan AS telah menyiapkan berbagai opsi militer untuk dipertimbangkan. “Mereka punya rencana untuk setiap skenario,” kata sumber tersebut. Namun, keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan Trump.
Sumber lain menyebutkan bahwa rencana yang mencakup penargetan terhadap Khamenei dan putranya sudah diajukan kepada Trump beberapa pekan lalu, menandakan opsi tersebut telah dipertimbangkan sejak lama.
Penasihat senior lainnya mengatakan Trump sengaja mempertahankan ambiguitas strategis. “Trump membuka semua opsi. Ia bisa memutuskan serangan kapan saja,” ujarnya.
Menanggapi spekulasi media, juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menolak berkomentar mengenai rencana militer spesifik.
“Media boleh berspekulasi tentang apa yang dipikirkan Presiden, tetapi hanya Presiden Trump yang tahu apa yang akan atau tidak akan ia lakukan,” kata Kelly.
Jika AS benar-benar menyerang langsung pucuk pimpinan Iran, langkah itu akan menjadi eskalasi dramatis dalam hubungan Washington–Teheran dan berpotensi mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah.
Trump Desak Iran Sepakati Kesepakatan Nuklir
Di tengah ketegangan, Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran. Ia memperingatkan Teheran agar menyetujui kesepakatan nuklir yang “bermakna”, atau “hal-hal buruk akan terjadi”.
Pernyataan itu disampaikan saat pembicaraan tidak langsung antara pejabat AS dan Iran masih berlangsung di Jenewa, Geneva, Switzerland.
Washington menuntut Iran membongkar atau secara signifikan membatasi program nuklirnya. Pemerintah AS menilai aktivitas pengayaan uranium dan peningkatan stok bahan nuklir Iran menimbulkan risiko proliferasi.
Iran membantah tengah mengembangkan senjata nuklir. Teheran menegaskan programnya untuk tujuan sipil dan menyebut pengayaan uranium sebagai hak kedaulatan negara.
AS Kerahkan Kekuatan Militer Besar ke Timur Tengah
Di tengah laporan potensi serangan, AS mengerahkan salah satu konsentrasi kekuatan udara terbesar ke Timur Tengah sejak perang Irak 2003.
Pengerahan itu mencakup jet tempur canggih F-35, F-22, F-15, dan F-16, pesawat komando dan kendali, serta sistem pertahanan udara tambahan.
Angkatan Laut AS saat ini mengoperasikan 13 kapal di kawasan Timur Tengah dan Mediterania timur, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln dan sembilan kapal perusak bersenjata rudal.
Kapal induk kedua, USS Gerald R. Ford, beserta kelompok tempurnya juga dilaporkan tengah menuju kawasan tersebut.
Sejumlah laporan menyebut militer AS bisa siap bertindak paling cepat akhir pekan ini, meski Trump belum memberikan otorisasi serangan. Pejabat keamanan nasional yang bertemu di Situation Room Gedung Putih diberi tahu bahwa seluruh kekuatan yang dikerahkan diperkirakan sudah berada di posisi pada pertengahan Maret.
Dengan pengerahan militer besar-besaran dan negosiasi yang belum menunjukkan kemajuan signifikan, ketegangan AS–Iran kini memasuki fase krusial yang dapat menentukan apakah kedua negara mundur dari konfrontasi atau justru melangkah menuju konflik terbuka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









