Kudeta Gabon, Militer Tahan Presiden Ali Bongo

AKURAT.CO Perwira militer di negara penghasil minyak Gabon menyatakan telah mengambil alih kekuasaan dan menempatkan Presiden Ali Bongo Ondimba dalam tahanan rumah pada Rabu (30/8/2023).
Kelompok kudeta lalu menunjuk seorang pemimpin baru, setelah badan pemilihan umum negara mengumumkan bahwa Ali Bongo memenangkan masa jabatan yang ketiga kalinya.
Dengan mengeklaim mewakili angkatan bersenjata, para perwira tersebut menyatakan bahwa hasil pemilu dibatalkan dan perbatasan ditutup hingga lembaga-lembaga negara dibubarkan.
Baca Juga: Negara-negara Afrika Barat Bersiap Serang Niger
Dalam beberapa jam, para jenderal lalu bertemu untuk membahas siapa yang akan memimpin transisi dan setuju untuk menunjuk Jenderal Brice Oligui Nguema yang juga mantan kepala pasukan pengawal presiden.
Sementara itu, dari tahanan di kediamannya, melalui pernyataan video Ali Bongo memohon kepada sekutu-sekutu asing dan mengatakan bahwa dirinya tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Keadaan Ali Bongo itu merupakan kejadian yang berbanding terbalik dengan kondisi komisi pemilihan umum yang menyatakan dia adalah pemenang dalam pemungutan suara yang disengketakan.
Ratusan orang merayakan intervensi militer atau kudeta di jalan-jalan Ibu Kota Libreville.
Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Afrika dan Prancis mengutuk kudeta tersebut.
Rekor Baru di Afrika
Pengambilalihan kekuasaan oleh militer di Gabon adalah yang kedelapan di Afrika Barat dan Afrika Tengah sejak tahun 2020. Juga menjadi yang kedua setelah Niger dalam beberapa bulan terakhir.
Keadaan serupa juga dirasakan saat para perwira mengambil alih kekuasaan di Mali, Guinea, Burkina Faso dan Chad.
Menghapus pencapaian demokratis sejak tahun 90-an dan menimbulkan ketakutan di antara kekuatan-kekuatan asing yang memiliki kepentingan strategis di negara-negara itu.
Baca Juga: Selain Niger, Ini Deretan Kudeta Yang Pernah Terjadi Di Afrika Barat
"Saya berbaris hari ini karena saya gembira. Setelah hampir 60 tahun, Bongo tidak lagi berkuasa," kata Jules Lebigui (27), seorang yang bergabung dengan perayaan di Libreville, dikutip Kamis (31/8/2023).
Sebagai informasi, Ali Bongo mengambil alih kekuasaan pada 2009 setelah kematian ayahnya Omar, yang juga telah berkuasa sejak tahun 1967.
Para penentangnya mengatakan bahwa keluarga ini tidak berbuat banyak untuk membagi kekayaan minyak dan pertambangan negara dengan 2,3 juta penduduknya.
Kerusuhan pecah setelah kemenangan Ali Bongo dalam pemilu 2016 yang diperebutkan dan ada upaya kudeta yang digagalkan pada 2019.
Para pejabat Gabon, yang menamakan diri Komite Transisi dan Pemulihan Institusi, mengatakan bahwa negara itu menghadapi krisis kelembagaan, politik, ekonomi dan sosial yang parah. Menurut mereka, pemungutan suara pada 26 Agustus 2023 tidak dapat dipercaya.
Tidak hanya itu, mereka juga mengatakan telah menangkap putra presiden, Noureddin Bongo Valentin, dan beberapa orang lainnya atas tuduhan korupsi dan pengkhianatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








