Kabur ke Thailand, Kisah Transgender Malaysia yang Dituduh Hina Islam karena Kenakan Kerudung

AKURAT.CO, Seorang pengusaha transgender Malaysia terancam dideportasi oleh Thailand karena masuk secara ilegal. Ia juga buron di negara asalnya karena menghina Islam, sebuah kasus yang menyoroti pendekatan Malaysia terhadap identitas gender.
Dilansir dari Reuters, pemilik perusahaan kosmetik, Nur Sajat, melarikan diri dari Malaysia tahun ini. Polisi Thailand pun memastikan Sajat telah ditangkap di Negeri Gajah Putih bulan ini. Ia divonis bersalah oleh pengadilan karena masuk secara ilegal, kemudian dibebaskan dengan jaminan.
Sementara itu, di Malaysia, ia terancam hukuman 3 tahun penjara atau denda karena berpakaian sebagai seorang wanita di sebuah acara keagamaan pada tahun 2018. Transgender itu pun bersikeras tak bersalah.
Kasus ini lantas menimbulkan kekhawatiran tentang memburuknya iklim bagi kaum lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT) di Malaysia yang melarang hubungan sesama jenis. Pada bulan Juni, satuan tugas pemerintah Malaysia mengusulkan amandemen hukum Islam agar pengguna media sosial yang menghina Islam dan mempromosikan LGBT dapat ditindak.
Proses deportasi Sajat sedang berlangsung, tetapi mungkin memakan waktu. Menurut wakil juru bicara kepolisian Thailand, Kissana Phathanacharoen, banyak faktor sedang dipertimbangkan. Namun, ia tak menjelaskan lebih lanjut.
Pada Selasa (21/9), direktur Departemen Investigasi Kriminal Malaysia, Abd Jalil Hassan, mengatakan bahwa kepolisian, kementerian luar negeri, dan kantor jaksa agung sedang berupaya memulangkan Sajat. Dalam konferensi pers, Sajat dipanggil menggunakan nama aslinya. Menurut direktur, Malaysia menyarankan Sajat agar pulang ke negaranya dengan baik-baik untuk menghadapi kasusnya.
Sajat juga didakwa atas tuduhan terpisah karena menghalangi dan mengancam seorang pegawai negeri.
Malaysia menganut sistem hukum jalur ganda, di mana hukum pidana Islam dan hukum keluarga berlaku bagi Muslim di samping hukum perdata.
Di sisi lain, kelompok HAM telah mendesak otoritas Thailand agar tak mendeportasinya lantaran ia terancam bahaya.
"Penuntutan di Malaysia didasarkan pada identitas gendernya, sehingga sudah ada cukup alasan untuk melindunginya di bawah sistem internasional," ujar Sunai Phasuk, peneliti senior Thailand di Human Rights Watch, yang berfokus pada diskriminasi dan perlakuan buruk terhadap kaum transgender di Malaysia.
Sementara itu, menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand Tanee Sangrat, pemerintah sedang mempertimbangkan masalah ini berdasarkan hukum dan prinsip-prinsip kemanusiaan Thailand. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Trump Akui AS Kembali Serang Iran, Sistem Pertahanan Udara Dihancurkan dalam Hitungan Menit
- 2Moto3 Qatar, Hiroshi Aoyama Terima Penalti Veda Ega Pratama, Tegaskan 'Feeling' Pembalap Bagus
- 3Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 4Kalender Jawa 6 November 2026: Weton Jumat Pahing, Wataknya Dikenal Gigih dan Ambisius
- 5Arab Saudi Ikuti Jejak Timnas Indonesia, Batalkan Laga Melawan Yordania
- 6KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 7Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 8Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar




