Akurat

Hukum Tidur Seharian Saat Puasa Ramadan, Antara Boleh dan Kurang Tepat Secara Makna Ibadah

Redaksi Akurat | 10 Februari 2026, 21:12 WIB
Hukum Tidur Seharian Saat Puasa Ramadan, Antara Boleh dan Kurang Tepat Secara Makna Ibadah

AKURAT.CO Bulan Ramadan selalu identik dengan perubahan rutinitas. Waktu makan bergeser, jam tidur berantakan, dan aktivitas harian sering ikut menyesuaikan.

Dalam kondisi tubuh yang beradaptasi dengan pola baru, tidak sedikit orang memilih menghabiskan siang hari dengan tidur lebih lama. Alasannya beragam, mulai dari menjaga energi hingga sekadar menghindari rasa lapar.

Kebiasaan ini kemudian memunculkan pertanyaan yang cukup sering dibahas menjelang Ramadan, yakni apakah tidur seharian saat puasa diperbolehkan dalam Islam, dan apakah kebiasaan tersebut masih sejalan dengan tujuan ibadah puasa itu sendiri?

Baca Juga: Kucing Tidur Terus? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Tidur sebagai Respons Tubuh saat Berpuasa

Perubahan pola makan dan waktu istirahat selama Ramadan membuat tubuh membutuhkan proses penyesuaian. Rasa lemas, kantuk berlebih, hingga menurunnya fokus sering menjadi keluhan umum, terutama pada minggu-minggu awal puasa. Dalam kondisi ini, tidur menjadi pilihan paling mudah untuk memulihkan energi.

Sebagian orang juga menjadikan tidur sebagai strategi agar waktu berpuasa terasa lebih cepat berlalu.

Meski terdengar sederhana, kebiasaan ini sering memunculkan anggapan bahwa tidur saat puasa adalah bentuk ibadah, sehingga tidak sedikit yang menggunakannya sebagai alasan untuk beristirahat hampir sepanjang hari.

Kedudukan Tidur dalam Hukum Puasa

Dalam hukum Islam, tidur bukan termasuk hal yang membatalkan puasa. Selama seseorang tetap memenuhi syarat sah puasa, seperti berniat dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan, maka puasanya tetap dinilai sah meskipun dia menghabiskan banyak waktu untuk tidur.

Mayoritas ulama memandang tidur sebagai aktivitas yang diperbolehkan. Seseorang tetap dianggap mampu menjalankan kewajiban ibadah selama dirinya tidak kehilangan kesadaran sepanjang hari. Jika seseorang masih terjaga meskipun hanya sebagian waktu siang, puasanya tetap sah.

Namun, apabila seseorang benar-benar tidak sadar dari terbit fajar hingga matahari terbenam, sebagian pendapat ulama menilai puasanya tidak sah. Hal ini karena kesadaran menjadi bagian penting dalam pelaksanaan ibadah.

Tidur Bisa Bernilai Ibadah, Tetapi Bergantung pada Niat

Pandangan bahwa tidur saat puasa bernilai ibadah sering beredar luas di masyarakat. Pada dasarnya, tidur memang bisa bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang baik, misalnya untuk menjaga kesehatan atau mengumpulkan energi agar dapat melaksanakan ibadah lainnya.

Sebaliknya, jika tidur dilakukan hanya untuk menghindari tanggung jawab atau karena rasa malas, maka aktivitas tersebut kehilangan nilai spiritualnya.

Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kedisiplinan, kesabaran, dan pengendalian diri.

Baca Juga: Sulit Tidur Setelah Minum Kopi, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Risiko Kehilangan Momentum Ibadah Ramadan

Ramadan dikenal sebagai bulan penuh keberkahan, di mana setiap amal kebaikan memiliki nilai pahala yang berlipat. Menghabiskan sebagian besar waktu siang dengan tidur berpotensi membuat seseorang kehilangan banyak kesempatan untuk beribadah.

Padahal, di siang hari bulan Ramadan sering dimanfaatkan untuk membaca Al-Qur’an, berzikir, memperbanyak doa, atau melakukan kegiatan sosial. Aktivitas-aktivitas tersebut menjadi bagian penting dari pembentukan kualitas spiritual selama bulan suci.

Selain itu, tidur berlebihan juga dapat mengganggu pola tidur malam. Kondisi ini bisa berdampak pada menurunnya semangat menjalankan ibadah malam seperti salat tarawih dan qiyamul lail.

Pentingnya Menjaga Keseimbangan Aktivitas dan Istirahat

Islam menekankan keseimbangan dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam mengatur waktu istirahat. Tidur siang dalam durasi yang wajar justru dapat membantu menjaga stamina selama berpuasa.

Tubuh yang cukup beristirahat akan lebih siap menjalani aktivitas harian dan ibadah malam.

Kunci utamanya terletak pada pengaturan waktu. Tidur tidak menjadi masalah selama tidak menyebabkan seseorang melewatkan kewajiban seperti salat lima waktu atau mengabaikan tanggung jawab pekerjaan dan aktivitas lainnya.

Cara Menjalani Puasa dengan Tetap Produktif

Menjalani puasa tanpa bergantung pada tidur berlebihan sebenarnya dapat dilakukan dengan beberapa langkah sederhana. Salah satunya adalah memperhatikan asupan makanan saat sahur. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang dapat membantu tubuh mempertahankan energi lebih lama.

Mengatur jadwal aktivitas harian juga berperan penting. Mengisi waktu dengan kegiatan ringan seperti membaca, bekerja, atau melakukan aktivitas fisik ringan dapat membantu menjaga fokus dan produktivitas.

Selain itu, memperbanyak ibadah menjadi cara efektif untuk memanfaatkan waktu selama Ramadan. Aktivitas spiritual tidak hanya memberikan ketenangan batin, tetapi juga membantu seseorang menjalani puasa dengan lebih bermakna.

Makna Puasa Lebih dari Sekadar Menahan Lapar

Puasa Ramadan sejatinya bukan hanya soal menahan rasa lapar dan haus. Ibadah ini menjadi sarana pembentukan karakter, penguatan spiritual, serta latihan mengendalikan diri dari berbagai hal yang tidak bermanfaat.

Tidur memang kebutuhan alami manusia, tetapi menjadikan tidur sebagai aktivitas utama selama puasa dapat mengurangi esensi pembinaan diri yang menjadi tujuan Ramadan. Bulan suci ini justru menjadi momentum untuk memperbaiki kebiasaan hidup dan meningkatkan kualitas ibadah.

Tidur seharian saat puasa Ramadan tidak membatalkan puasa dan hukumnya diperbolehkan. Namun, kebiasaan tersebut kurang mencerminkan semangat Ramadan jika dilakukan secara berlebihan dan tanpa tujuan yang jelas.

Tidur dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk menjaga kesehatan dan menunjang aktivitas ibadah lainnya.

Menjaga keseimbangan antara istirahat, aktivitas, dan ibadah menjadi kunci agar puasa tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga memberikan manfaat spiritual yang maksimal.

Mutiara MY (Magang)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.