Niat Tidak Puasa karena Pekerjaan, Apakah Diperbolehkan dalam Islam?

AKURAT.CO Puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi umat Islam yang baligh dan berakal. Namun bagi sebagian pekerja dengan aktivitas fisik berat, sering muncul pertanyaan “apakah boleh sejak awal berniat tidak berpuasa karena tuntutan pekerjaan?”
Puasa Ramadan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilakukan oleh setiap muslim yang mampu secara fisik dan mental.
Menurut hukum syariat Islam, tidak ada pengecualian berdasarkan profesi.
Para ulama sepakat bahwa pekerja berat tetap wajib berpuasa dengan syarat berniat sejak malam hari atau sebelum subuh seperti kewajiban umum. Hal ini ditegaskan oleh Buya Yahya, berpuasa tetap wajib meskipun memiliki pekerjaan berat, dan baru boleh berbuka jika dalam puasanya terbukti tidak sanggup melanjutkannya.
Baca Juga: Richard Lee Menjadi Mualaf, Bagaimana Status Pernikahannya? Ini Penjelasan Buya Yahya
Menurut Buya Yahya, jika dari awal sudah berniat tidak berpuasa karena pekerjaan yang berat, maka termasuk tindakan yang tidak sesuai dengan syariat. Islam memberi keringanan, tetapi bukan menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban tanpa sebab yang jelas.
Para ulama lainnya juga menyatakan bahwa jika seorang pekerja merasa tidak mampu meneruskan puasanya akibat pekerjaan berat, maka ia boleh membuka puasanya dan wajib mengganti di lain hari setelah Ramadan.
Keringanan (rukhsah) hanya berlaku jika ada kondisi yang membuat pekerja benar-benar tidak kuat menjalankan puasa, seperti:
1. Dehidrasi berat atau bahaya kesehatan.
2. Pekerjaan yang mengancam keselamatan jika dilakukan sambil berpuasa.
Dalam hal ini, puasa boleh dibatalkan, tetapi wajib mengganti di lain hari setelah Ramadan.
Baca Juga: Malaysia Telah Putuskan Awal Puasa Ramadan 2026, Sama dengan Indonesia?
Inti Hukum dan Prinsip Agama
Wajib Puasa, bagi semua Muslim yang mampu, termasuk pekerja berat.
Jika dalam puasanya tidak kuat karena pekerjaan melelahkan atau membahayakan kesehatan, diperbolehkan untuk berbuka dan wajib menggantinya di lain hari.
Tidak boleh berniat tidak puasa sejak awal.
Dalam Mazhab Syafi’i, niat puasa harus dilakukan setiap hari pada malam Ramadan. Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam karyanya, Hasyiyatul Iqna,' menjelaskan sebagai berikut:
ويشترط لفرض الصوم من رمضان أو غيره كقضاء أو نذر التبييت وهو إيقاع النية ليلا لقوله صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له. ولا بد من التبييت لكل يوم لظاهر الخبر
Artinya: “Disyaratkan berniat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadan, puasa qadha, atau puasa nazar. Ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW, ‘Siapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.’ Karenanya, harus niat puasa di setiap hari (bulan Ramadan) jika melihat redaksi zahir hadits.” (Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Iqna’, juz 2)
Adapun bacaan niat puasa Ramadan, sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala”
Niat puasa untuk satu bulan penuh, sebagai berikut
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma jami’i syahri ramadani hadzihis sanati fardhan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikuti pendapat Imam Malik, wajib karena Allah Ta’ala.” (Shafira Amalia, ed: Nashih)
Dalam hukum Islam, pekerja berat tetap wajib berpuasa Ramadhan meskipun memiliki aktivitas yang melelahkan.
Mereka harus berniat puasa sejak awal, boleh berbuka dan mengganti di lain hari jika tidak kuat karena pekerjaan atau kondisi darurat.
Tidak diperbolehkan untuk berniat tidak puasa hanya karena tuntutan pekerjaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








