Akurat

Apakah Makan Membatalkan Wudhu? Ini Penjelasan Lengkap Berdasarkan Dalil dan Pendapat Ulama

Idham Nur Indrajaya | 29 Oktober 2025, 14:14 WIB
Apakah Makan Membatalkan Wudhu? Ini Penjelasan Lengkap Berdasarkan Dalil dan Pendapat Ulama

 

AKURAT.CO Pertanyaan tentang apakah makan membatalkan wudhu sering muncul di kalangan umat Islam. Banyak yang beranggapan bahwa wudhu seseorang menjadi batal setelah makan atau minum. Namun, benarkah demikian menurut ajaran Islam dan pandangan para ulama?

Agar tidak salah kaprah, penting untuk memahami dasar hukumnya berdasarkan dalil dan penjelasan para ulama klasik maupun kontemporer.


Makan dan Minum Tidak Membatalkan Wudhu

Mayoritas ulama sepakat bahwa makan dan minum tidak termasuk dalam hal-hal yang membatalkan wudhu. Pendapat ini juga dipegang oleh Kementerian Agama Republik Indonesia, Muhammadiyah, dan Nahdlatul Ulama.

Wudhu pada dasarnya batal hanya karena beberapa sebab yang disebutkan dalam kitab-kitab fiqih, seperti:

  • keluarnya sesuatu dari qubul atau dubur,

  • hilangnya akal,

  • bersentuhan kulit dengan lawan jenis bukan mahram,

  • atau menyentuh kemaluan tanpa penghalang.

Selain hal-hal tersebut, aktivitas seperti makan dan minum tidak membatalkan wudhu seseorang.

Hal ini sesuai dengan kaidah fiqih:

الأصل بقاء ماكان على ماكان
“Pada asalnya, hukum yang sudah ditetapkan itu tetap berlaku.”

Artinya, ketika seseorang sudah berwudhu, maka statusnya tetap suci sampai ada dalil yang jelas menyatakan bahwa wudhunya batal. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa makan atau minum membatalkan wudhu, maka wudhu tetap sah.


Dalil yang Menunjukkan Makan dan Minum Tidak Membatalkan Wudhu

Beberapa hadis sahih juga menegaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak berwudhu lagi setelah makan atau minum.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata:

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memakan sepotong daging kambing. Kemudian beliau shalat, tanpa berkumur-kumur dan tanpa menyentuh air sama sekali.”
(HR. Ahmad no. 2541, dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 3028).

Begitu pula dalam riwayat dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu disebutkan:

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam minum susu, kemudian beliau tidak berkumur-kumur juga tidak berwudhu lagi, lalu beliau shalat.”
(HR. Abu Daud no. 197, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).

Hadis-hadis ini menjadi dalil kuat bahwa makan dan minum secara umum tidak membatalkan wudhu.


Pengecualian: Makan Daging Unta

Meski begitu, terdapat pengecualian khusus untuk daging unta. Berdasarkan hadis sahih, makan daging unta termasuk hal yang membatalkan wudhu.

Dari Jabir bin Samurah radhiallahu’anhu, ia berkata:

“Ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam: apakah saya wajib wudhu jika makan daging kambing? Nabi menjawab: ‘Jika engkau mau, silakan berwudhu, jika tidak juga tidak mengapa’. Orang tadi bertanya lagi: apakah saya wajib wudhu jika makan daging unta? Nabi menjawab: ‘Iya, berwudhulah jika makan daging unta’.”
(HR. Muslim no. 360).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa:

“Makan dan minum bukanlah pembatal wudhu, kecuali jika makan daging unta. Jika yang dimakan adalah daging unta, maka memang daging unta itu membatalkan wudhu. Adapun daging kambing, sapi, atau hewan buruan tidak membatalkan wudhu. Hanya daging unta yang menjadi pengecualian.”
(Sumber: binbaz.org.sa)

Dengan demikian, hukum makan daging unta berbeda dari jenis daging lainnya. Ini menjadi satu-satunya jenis makanan yang secara eksplisit disebutkan dapat membatalkan wudhu.


Penjelasan Tentang Hadis “Berwudhulah Jika Makanan Disentuh Api”

Ada pula hadis yang menyebutkan:

“Berwudhulah jika memakan makanan yang dibakar dengan api.”
(HR. Muslim no. 352).

Namun para ulama bersepakat bahwa hadis ini telah di-nasakh (dihapus hukumnya) oleh hadis lain dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, yang menyebutkan:

“Ia bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tentang kewajiban wudhu setelah makan makanan yang dibakar api. Nabi menjawab: tidak wajib...”
(HR. Bukhari no. 5457).

Imam An-Nawawi menegaskan bahwa seluruh ulama telah ijma’ (sepakat) bahwa makan makanan yang dimasak atau dibakar tidak membatalkan wudhu.


Pandangan Ulama Mazhab

Dalam Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, Imam An-Nawawi menjelaskan:

“Menurut mazhab kami, wudhu tidak batal dengan sesuatu yang dimakan, baik yang dimasak maupun tidak, kecuali daging jazur (unta)... Pendapat qaul jadid yang masyhur adalah tidak batal, dan ini adalah pendapat sahih menurut para ulama Ashab. Sementara qaul qadim menyatakan makan daging jazur membatalkan wudhu.”
(Al-Majmu’, jilid II, hal. 65).

Artinya, dalam mazhab Syafi’i pun ada dua pandangan, namun yang paling kuat (qaul jadid) menyatakan bahwa makan daging unta tidak membatalkan wudhu, sedangkan pendapat lama (qaul qadim) menyatakan sebaliknya.

Namun secara umum, mayoritas ulama lintas mazhab berpendapat bahwa makan dan minum tidak membatalkan wudhu, kecuali untuk kasus khusus daging unta.


Adab Setelah Makan dan Minum

Meskipun tidak membatalkan wudhu, para ulama menganjurkan berkumur-kumur setelah makan atau minum, terutama bila makanan tersebut meninggalkan rasa atau bau di mulut.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menyebutkan:

“Berkumur-kumur itu dianjurkan untuk membersihkan sisa-sisa makanan. Jika ada sisa makanan di sela-sela gigi, ini tidak membahayakan keabsahan shalat. Namun jika yang dimakan adalah daging unta, maka wajib berwudhu sebelum shalat.”
(Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Baz, 29/52).

Selain itu, Rasulullah juga melarang seseorang yang baru saja memakan bawang putih atau bawang merah untuk langsung ke masjid karena dapat mengganggu jamaah lain.

“Siapa pun yang makan bawang putih atau bawang merah, sebaiknya tidak mendekati masjid kami dan sebaiknya beribadah di rumahnya, karena para malaikat juga merasa terganggu oleh bau yang mengganggu manusia.”
(HR. Bukhari).


Kesimpulan

Dari berbagai dalil dan pendapat ulama, dapat disimpulkan bahwa:

  • Makan dan minum tidak membatalkan wudhu.

  • Pengecualian hanya untuk daging unta, karena terdapat hadis sahih yang menjelaskan hal tersebut.

  • Tidak wajib berwudhu ulang setelah makan, namun disunnahkan berkumur-kumur agar lebih bersih sebelum beribadah.

Jadi, umat Islam tidak perlu ragu untuk melanjutkan ibadah setelah makan atau minum, selama tidak mengonsumsi daging unta dan tidak ada hal lain yang membatalkan wudhu.

Kalau kamu ingin memahami lebih dalam tentang tata cara bersuci dan adab sebelum beribadah, pantau terus artikel terbaru seputar fikih dan ibadah di AKURAT.CO.

Baca Juga: Tata Cara Sholat Jamak Taqdim dan Takhir Dzuhur dan Ashar Lengkap dengan Niatnya

Baca Juga: Niat, Tata Cara, dan Doa Sholat Hajat Agar Keinginan Dikabulkan

FAQ

1. Apa pengaruh utama perkembangan teknologi terhadap interaksi manusia?
Perkembangan teknologi membuat komunikasi menjadi lebih cepat, mudah, dan luas. Orang dapat berinteraksi lintas jarak dan waktu melalui media sosial, pesan instan, atau video call.


2. Bagaimana teknologi mempermudah komunikasi sehari-hari?
Dengan adanya smartphone, internet, dan platform komunikasi digital seperti WhatsApp, Zoom, atau media sosial, seseorang bisa berkomunikasi kapan pun tanpa harus bertemu langsung.


3. Apa dampak negatif teknologi terhadap interaksi sosial?
Salah satu dampak negatifnya adalah berkurangnya interaksi tatap muka, meningkatnya ketergantungan pada gadget, serta potensi kesenjangan sosial antara pengguna aktif dan mereka yang tertinggal secara digital.


4. Apakah teknologi membuat hubungan sosial menjadi lebih dangkal?
Dalam beberapa kasus, ya. Interaksi online sering kali bersifat cepat dan dangkal, sehingga kedekatan emosional atau empati bisa berkurang dibandingkan dengan interaksi langsung.


5. Bagaimana teknologi memengaruhi hubungan keluarga?
Teknologi bisa mempererat hubungan melalui komunikasi jarak jauh, namun juga bisa membuat anggota keluarga sibuk dengan perangkat masing-masing dan mengurangi waktu kebersamaan.


6. Apa peran media sosial dalam membentuk pola interaksi manusia modern?
Media sosial menjadi ruang utama interaksi digital, di mana orang berbagi informasi, opini, bahkan emosi. Namun, penggunaannya juga perlu bijak agar tidak memunculkan misinformasi atau konflik sosial.


7. Bagaimana cara menjaga keseimbangan antara interaksi digital dan tatap muka?
Gunakan teknologi seperlunya, luangkan waktu untuk bertemu langsung dengan orang lain, dan lakukan digital detox secara berkala agar tidak kehilangan kedekatan sosial yang alami.


8. Apakah perkembangan teknologi akan terus mengubah cara manusia berinteraksi?
Ya. Seiring kemajuan teknologi seperti AI, metaverse, dan komunikasi berbasis realitas virtual, cara manusia berinteraksi akan terus berevolusi dan semakin bergantung pada teknologi digital.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.