Kronologi Lengkap Bom Molotov di SMPN 3 Sungai Raya Kalbar: Dugaan Perundungan hingga Penyelidikan Densus 88

Kasus ini bukan hanya soal keamanan sekolah, tetapi juga membuka kembali diskusi soal kesehatan mental remaja, pengawasan lingkungan pendidikan, serta peran keluarga dalam masa tumbuh kembang anak.
Kronologi Kejadian Bom Molotov di SMPN 3 Sungai Raya
Peristiwa terjadi pada 3 Februari 2026 siang, saat para siswa tengah menikmati program makan bergizi gratis di jam istirahat. Tiba-tiba, seorang siswa datang ke area sekolah dan melemparkan botol berisi bahan bakar yang telah disulut api.
Ledakan kecil disertai percikan dan asap langsung muncul di sekitar lokasi. Situasi sontak berubah panik. Guru, siswa, dan warga sekitar bergerak cepat melakukan penanganan awal agar api tidak menjalar ke bangunan utama sekolah.
Dalam insiden tersebut, satu pelajar dilaporkan terkena percikan dari bom molotov. Beruntung, tidak terjadi kebakaran besar karena api berhasil dipadamkan dalam waktu singkat.
Tak lama setelah kejadian, pihak kepolisian mengamankan terduga pelaku di lokasi untuk mencegah kemungkinan lanjutan.
Polisi Amankan Pelaku dan Lakukan Olah TKP
Personel Polsek Sungai Raya segera mendatangi sekolah setelah menerima laporan. Garis polisi dipasang di beberapa ruang kelas, sementara barang bukti diamankan.
Untuk memperkuat proses penyelidikan, Tim Inafis Satreskrim Polres Kubu Raya diterjunkan guna melakukan olah tempat kejadian perkara secara menyeluruh. Terduga pelaku kemudian dibawa ke Polres Kubu Raya untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa pelaku merupakan siswa aktif di SMPN 3 Sungai Raya. Hingga saat ini, motif pastinya masih terus didalami.
Aparat juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum diverifikasi, mengingat proses hukum masih berjalan.
Dugaan Motif: Tekanan Psikologis dan Perundungan
Dalam perkembangan terbaru, muncul dugaan bahwa aksi tersebut dipicu oleh tekanan mental yang dialami pelaku. Berdasarkan pendalaman awal aparat, kondisi keluarga disebut menjadi salah satu faktor berat yang memengaruhi psikologis siswa tersebut.
Diketahui, ayah dan kakek pelaku tengah mengalami sakit secara bersamaan, yang diduga memberi beban emosional besar bagi anak yang masih berusia remaja.
Selain faktor keluarga, dugaan perundungan di sekolah juga mencuat. Informasi dari warga sekitar yang memiliki anggota keluarga bersekolah di sana menyebut bahwa siswa tersebut kerap menjadi korban bullying, hingga akhirnya nekat melakukan aksi sebagai bentuk pelampiasan.
Kapolda Kalimantan Barat menegaskan bahwa kasus ini tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Menurutnya, penanganan anak di bawah umur harus dilakukan secara komprehensif, tidak hanya melalui jalur hukum, tetapi juga pendekatan psikologis dan sosial.
Densus 88 dan BNPT Turut Mendalami Kasus
Karena adanya unsur kekerasan menggunakan bahan mudah terbakar, Densus 88 Antiteror Polri bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ikut terlibat dalam pendalaman kasus ini.
Dalam proses pemeriksaan, aparat menemukan sejumlah barang bukti, antara lain:
-
Enam botol berisi bahan bakar dengan sumbu kain yang diduga sebagai bom molotov
-
Lima gas portable yang direkatkan petasan
-
Paku dan sebilah pisau
Densus 88 disebut mendampingi Polda Kalbar dalam proses pemetaan kasus hingga pemenuhan alat bukti. Meski demikian, penanganan utama tetap berada di bawah kewenangan Polda Kalimantan Barat.
Aparat juga mengungkap bahwa siswa tersebut sebelumnya sempat masuk dalam pemantauan, dan pernah dinilai sudah bisa kembali beraktivitas normal sebelum kejadian ini terjadi.
Aktivitas Sekolah Dialihkan ke PJJ Sementara
Pasca-insiden, pihak SMPN 3 Sungai Raya mengambil langkah antisipatif dengan mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama dua hari.
Kebijakan ini dilakukan demi menjaga rasa aman siswa dan guru, sekaligus menenangkan kondisi psikologis seluruh warga sekolah setelah kejadian yang mengejutkan tersebut.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya menyatakan masih menunggu hasil penyelidikan aparat kepolisian sebelum memberikan komentar lebih jauh terkait dugaan perundungan yang beredar.
Evaluasi Menyeluruh dan Peran Lingkungan Sekitar
Kasus bom molotov di lingkungan sekolah ini menjadi pengingat penting tentang perlunya pengawasan terhadap kondisi mental remaja. Kepolisian menilai bahwa tekanan emosional yang tidak tertangani dengan baik, ditambah kebiasaan bermain gim bertema kekerasan, dapat memengaruhi cara berpikir anak.
Meski demikian, aparat juga mengungkap bahwa siswa tersebut memiliki cita-cita positif dan kehidupan sekolah yang sebelumnya tampak normal. Hal ini memperkuat dugaan bahwa kombinasi tekanan keluarga, psikologis, dan lingkungan sosial berperan besar dalam terjadinya insiden tersebut.
Ke depan, evaluasi bersama melibatkan sekolah, keluarga, dinas pendidikan, hingga lembaga perlindungan anak dinilai penting agar kejadian serupa tidak terulang.
Kesimpulan: Kasus Masih Diselidiki, Publik Diminta Tenang
Hingga kini, kepolisian bersama Densus 88 dan BNPT masih mendalami motif di balik pelemparan bom molotov di SMPN 3 Sungai Raya. Fokus utama penyelidikan mengarah pada tekanan mental, masalah keluarga, serta dugaan perundungan yang dialami pelaku.
Situasi di sekolah dilaporkan telah kembali kondusif dengan pengawasan ketat aparat. Publik pun diimbau menunggu hasil resmi penyelidikan dan tidak menyebarkan spekulasi.
Kalau kamu tertarik mengikuti perkembangan kasus ini dan isu keamanan di lingkungan pendidikan, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.
FAQ – Bom Molotov di SMPN 3 Sungai Raya Kalbar
1. Apa yang terjadi di SMPN 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat?
Terjadi insiden pelemparan bom molotov di lingkungan sekolah yang dilakukan oleh seorang siswa kelas IX saat jam istirahat. Ledakan kecil memicu kepanikan dan melukai satu pelajar akibat percikan benda dari molotov tersebut.
2. Kapan kejadian bom molotov di SMPN 3 Sungai Raya terjadi?
Peristiwa ini berlangsung pada 3 Februari 2026, siang hari, ketika siswa sedang mengikuti waktu istirahat.
3. Siapa pelaku pelemparan bom molotov di sekolah tersebut?
Pelaku diduga merupakan siswa aktif kelas IX di SMPN 3 Sungai Raya dan telah diamankan oleh pihak kepolisian untuk menjalani pemeriksaan.
4. Apakah ada korban dalam insiden ini?
Satu pelajar dilaporkan terkena percikan dari bom molotov, namun tidak terjadi kebakaran besar karena api berhasil dipadamkan dengan cepat.
5. Apa dugaan motif pelaku melakukan aksi tersebut?
Penyelidikan awal mengarah pada tekanan psikologis akibat masalah keluarga serta dugaan perundungan di lingkungan sekolah.
6. Mengapa Densus 88 ikut terlibat dalam kasus ini?
Densus 88 mendampingi Polda Kalimantan Barat karena ditemukan bahan-bahan berbahaya dan alat rakitan yang memerlukan pendalaman khusus.
7. Barang bukti apa saja yang ditemukan polisi?
Aparat menemukan botol berisi bahan bakar dan sumbu kain, gas portable yang direkatkan petasan, paku, serta sebilah pisau.
8. Apa langkah yang diambil pihak sekolah setelah kejadian?
Sekolah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sementara demi menjaga keamanan dan kondisi psikologis siswa serta guru.
9. Bagaimana kondisi SMPN 3 Sungai Raya sekarang?
Situasi dinyatakan kondusif dan berada dalam pengawasan aparat, sementara proses penyelidikan masih terus berjalan.
10. Apakah kasus ini sudah selesai ditangani?
Belum. Kepolisian bersama Densus 88 dan BNPT masih melakukan pendalaman untuk mengungkap motif serta faktor-faktor yang melatarbelakangi kejadian tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









