Parung Panjang Jadi Jalur Neraka Truk Tambang: Warga Diminta Cari Jalan Tikus

AKURAT.CO Warga Parung Panjang dan sekitarnya kini harus bersiap menghadapi kondisi lalu lintas yang semakin padat dan penuh tekanan.
Jalan utama Parung Panjang menuju Cigudeg dipastikan dikuasai oleh truk tambang hampir sepanjang hari, menyusul keputusan Pemerintah Kabupaten Bogor bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) pada Jumat, 19 September 2025.
Keputusan itu menetapkan bahwa truk tambang boleh melintas di Parung Panjang pada pukul 09.00–11.00 WIB dan 13.00–16.00 WIB. Selain itu, mulai pukul 22.00 hingga 05.00 dini hari, truk dengan muatan berat sekalipun bebas beroperasi.
Dengan begitu, jalur vital di Parung Panjang hampir 24 jam berada di bawah dominasi kendaraan besar pengangkut material tambang.
Bagi warga, keputusan ini berarti ruang gerak makin terbatas. Jalan raya yang sebelumnya sudah macet dan penuh debu, kini berubah menjadi jalur “neraka” yang sulit dilalui kendaraan pribadi.
Baca Juga: Evakuasi Longsor Tambang Freeport, Dua Korban Ditemukan Meninggal Dunia
Pemerintah pun mengimbau masyarakat agar menggunakan sejumlah jalan tikus atau alternatif untuk menghindari kemacetan parah.
Jalan Tikus Penyelamat Warga
Menurut informasi dari Pemkab Bogor, ada beberapa jalur alternatif yang bisa dipakai warga:
-
Jalan Malang Nengah
Sekitar 100 meter dari jembatan Malang Nengah, terdapat jalan ke kiri yang bisa dimanfaatkan warga Perumnas, Sentraland, hingga Cigudeg untuk menghindari antrean panjang truk tambang. -
Jalan Somang
Jalur kampung yang menghubungkan Parung Panjang dengan Cigudeg dan Jagabaya. Meski sempit, jalur ini menjadi pilihan realistis dibanding terjebak berjam-jam di jalur utama. -
Jalan Somang – Gerowong
Bagi warga yang sudah terlanjur terjebak kemacetan di sekitar Sekolah Riyadul Bayan atau Yapira, tersedia jalan Somang menuju Desa Gerowong. Jalur ini berjarak sekitar 500 meter setelah Yapira dan bisa tembus hingga dekat SMAN 1 Parung Panjang. -
Jalan Kampung Tembusan Perumnas
Sekitar 100 meter setelah Sekolah Yapira, ada jalan ke kanan yang bisa dipakai warga dari Jagabaya menuju Perumnas atau Sentraland tanpa harus melewati titik kemacetan terparah.
Suara dan Harapan Warga
Keputusan Pemkab Bogor ini menimbulkan pro dan kontra. Sebagian warga merasa lega karena ada informasi resmi mengenai jalur alternatif, tetapi banyak juga yang mengeluhkan dampaknya terhadap kesehatan, kenyamanan, hingga ekonomi lokal.
Baca Juga: 12 Tempat Wisata Air di Bogor yang Seru dan Menyegarkan, Wajib Kamu Coba!
Polusi debu, suara bising, dan risiko kecelakaan menjadi bagian dari keseharian. Warga menilai solusi jalan tikus hanya bersifat sementara.
Mereka berharap pemerintah bisa lebih serius dalam mencari solusi permanen, termasuk penataan jalur tambang dan percepatan pembangunan jalan khusus.
Kebijakan “menyerahkan” jalur Parung Panjang kepada truk tambang adalah langkah yang dianggap realistis oleh pemerintah di tengah perbaikan jalan dan kepadatan lalu lintas.
Namun, bagi warga, konsekuensinya nyata: harus beradaptasi dengan kondisi yang penuh tekanan dan mencari cara-cara alternatif agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan.
Situasi ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur harus selalu mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan industri dan hak hidup nyaman masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






