Badud: Riuh Tradisi dari Ladang Pangandaran yang Tak Lekang oleh Zaman

AKURAT.CO Saat alunan dog-dog menggema dan gemerincing angklung menyusup di sela angin, seakan waktu berhenti berputar di Pangandaran. Di tengah geliat pariwisata modern, satu warisan budaya masih bersuara lantang: kesenian Badud.
Bukan sekadar hiburan, Badud adalah denyut nadi masa lalu, jejak spiritual petani ladang, sekaligus panggung yang menampung identitas kolektif masyarakat Cidawung, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran.
“Awalnya Badud itu pesta rakyat pasca panen, bukan sawah tapi ladang. Pesta hasil panen padi yang disimpan di rumah,” ujar Edi Supriadi, tokoh adat Pangandaran, Jumat (1/8/2025).
Kesenian ini berakar dari syukur masyarakat agraris atas keberhasilan panen. Tak ada panggung mewah, hanya tanah terbuka, irama bambu, dan tubuh yang menari mengikuti denyut bumi.
Unsur utama Badud, dog-dog dan angkung, menjadi nyawa pertunjukan. Dog-dog, alat pukul mirip kendang, dan angkung, bentuk lokal dari angklung, berpadu menciptakan irama yang memabukkan, mengajak siapa pun ikut bergerak.
Dulu, pertunjukan Badud kerap diwarnai oleh kesurupan. Bagi warga, itu adalah pertanda interaksi dengan leluhur. Tapi kini, sebagaimana dituturkan Edi, kondisi trance sudah jarang muncul secara alami.
“Sekarang lebih pada sisi pertunjukan. Disimulasikan supaya dramatis, tapi bisa dikendalikan waktunya,” jelasnya.
Baca Juga: Panggil Petinggi TNI, Prabowo Soroti Urgensi Pertahanan di Tengah Gejolak Global
Meski kehilangan unsur spiritual alaminya, dramatika Badud tetap menggugah. Ada yang berubah, tapi jiwanya tetap: merayakan hidup, alam, dan panen yang melimpah.
Babi, Monyet, Harimau: Simbol Perlawanan
Uniknya, Badud tak hanya diisi musik dan tari. Ia hadir dalam rupa simbolik yang menyentuh akar keseharian petani.
Tiga karakter hewan selalu hadir: babi, monyet, dan harimau. Babi dan monyet mewakili hama ladang, sedangkan harimau adalah penjaga sakral, simbol perlindungan dari marabahaya.
“Kalau harimau itu binatang peliharaan nenek moyang. Jadi bukan musuh, tapi kawan petani,” terang Edi.
Tokoh manusia, seperti Aki dan Nini, pasangan tua, hadir sebagai personifikasi peladang zaman dulu. Mereka mengingatkan bahwa kehidupan agraris penuh dengan ketekunan dan kehangatan.
Kini, Badud bertransformasi menjadi alat edukasi budaya. Saat menjabat sebagai kepala desa, Edi mengenalkan Badud di sekolah-sekolah dasar. Ia ingin generasi muda tak hanya menonton, tapi turut mewarisi.
“Anak-anak cepat menangkap. Yang dilatih enam, tapi yang bisa hampir semua,” katanya bangga.
Instrumen pun mengalami evolusi. Dari bambu dan batang pinang, kini hadir dog-dog besar bernama Bajidor. Masing-masing alat memiliki nama dan fungsi, membentuk orkestrasi yang hidup dan khas.
Namun, perjuangan melestarikan Badud tidak selalu mulus. Sebagian warga masih menganggapnya mistis dan negatif.
Edi menanggapi dengan tenang, karena ia tahu, di balik persepsi keliru itu ada ketidaktahuan yang bisa dijembatani dengan edukasi.
“Sekarang ini pertunjukan seni. Bukan lagi seperti zaman dulu,” tegasnya.
Baca Juga: Dari Hambalang, Prabowo Perintahkan Akselerasi Bandara Baru di Daerah dan Antisipasi Karhutla
Doa yang Menari
Di Pangandaran, Badud adalah puisi yang menari. Ia mengajarkan bahwa syukur bisa hadir dalam bunyi, gerak, dan tawa.
Ia membuktikan bahwa tradisi tak harus mati saat zaman berganti, asalkan akar sejarah tetap dijaga dan dijelaskan.
“Ini pun merupakan wujud syukur,” pungkas Edi.
Kesenian Badud, dengan seluruh transformasinya, adalah cermin budaya yang lentur namun kokoh.
Ia membuktikan bahwa di balik suara dog-dog yang menggema, ada doa-doa kuno yang masih mencari ruang untuk didengar kembali.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










