Viral Wisatawan Keluhkan Banyak Pungli di Pantai Bira Sulsel, Pemkab Buka Suara

AKURAT.CO Viral di media sosial pasangan wisatawan yang membatalkan rencana mereka untuk mengunjungi Pantai Bira, Sulawesi Selatan.
Video yang diunggah oleh akun TikTok @lailatul.Maulida07 menunjukkan pasangan tersebut memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan mereka ke Pantai Bira karena biaya masuk yang dianggap terlalu tinggi dan banyak pungutan liar (pungli).
Pasangan pelancong tersebut mengatakan bahwa di gerbang masuk awal, mereka dikenai biaya sebesar Rp 20 ribu per orang dan tambahan biaya transportasi sebesar Rp 10 ribu untuk mobil.
Namun, setelah berjalan sekitar satu kilometer, mereka dihadapkan dengan biaya tambahan sebesar Rp 20 ribu lagi.
"Jalan-jalan di Bira, batal ke pantai karena terlalu banyak tiket masuk," tulis keterangan akun @lailatul.Maulida07.
"Ah udah deh balik aja, kebanyakan bayarnya pak," tutur salah satu wisatawan tersebut.
Menanggapi hal itu, Kabid Humas Diskominfo Kabupaten Bulukumba, Andi Ayatullah Ahmad, menyatakan bahwa kawasan Bira memiliki beberapa tempat wisata termasuk Pantai Bira dan Titik Nol.
Dia menjelaskan bahwa wisatawan yang membeli tiket masuk di portal utama dapat langsung menuju Pantai Bira, namun harus membayar tiket masuk jika ingin masuk ke Titik Nol.
Baca Juga: Viral Mutilasi Istri dan Tawarkan Dagingnya ke Tetangga, Ketua RT Bongkar Kepribadian Pelaku
Menurutnya, pungutan retribusi di Titik Nol merupakan hasil kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Bulukumba dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Tarif masuk ke Titik Nol adalah Rp 10 ribu untuk orang dewasa dan Rp 5 ribu untuk anak-anak.
Meskipun demikian, keluhan tersebut akan dicatat sebagai evaluasi oleh Pemerintah Kabupaten Bulukumba untuk masa mendatang.
"Portal pertama samping pintu keluar itu masuk ke PAD Pemerintah Bulukumba. Nanti ketika pengunjung masuk ke Titik Nol itu dia membayar uang masuk juga. Tetapi uang itu untuk bagi hasil dengan pemprov Sulsel karena Pemprov Sulsel yang melakukan investasi di Titik Nol," jelas Andi.
Selain itu, warganet beranggapan bahwa tingginya jumlah pungutan liar bisa menjadi indikasi bahwa destinasi tersebut kurang aman.
"Mau sebagus apapun alamnya, wisatanya ga akan cantik kalo ga ada fasilitas, dah minim fasil banyak pungutan, ga aman dan ga nyaman," komentar salah satu warganet.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








