Dikritik karena Pilih Main di Liga Indonesia, Ini Respons Shayne Pattynama

AKURAT.CO, Super League musim 2025-2026 menjadi magnet bagi sejumlah pemain diaspora Timnas Indonesia untuk kembali merumput di Tanah Air.
Fenomena ini kian menguat seiring bergabungnya Shayne Pattynama ke Persija Jakarta setelah setengah musim bermain di liga Thailand bersama Buriram United.
Tak lama berselang, Dion Markx resmi menjadi bagian dari Persib Bandung. Keduanya menyusul deretan pemain diaspora yang sejak awal musim memilih berkarier di kompetisi domestik.
Baca Juga: Persija vs Persita: Mauricio Souza Buka Peluang Debut Shayne Pattynama di Tangerang Besok
Mereka adalah Jordi Amat (Persija), Thom Haye dan Eliano Reijnders (Persib), Jens Raven (Bali United), hingga Rafael Struick (Dewa United Banten FC).
Tren kepulangan para pemain diaspora ini memunculkan beragam respons. Sejumlah pihak melontarkan kritik serta menilai langkah tersebut sebagai kemunduran karena para pemain dianggap meninggalkan kompetisi luar negeri.
Menanggapi hal tersebut, Shayne Pattynama mengajak publik untuk melihat persoalan ini dari sudut pandang yang lebih luas.
Kehadiran pemain diaspora, katanya, justru dapat menjadi dorongan positif bagi perkembangan Super League dan sepakbola Indonesia secara keseluruhan.
Pemain yang pernah menimba ilmu di akademi FC Utrecht itu menilai pengalaman dan jam terbang yang dibawa pemain diaspora dari Eropa seharusnya dipandang sebagai aset penting bagi klub maupun kompetisi domestik.
“Orang selalu mengkritik, dan saya paham banyak yang ingin kami bermain di liga terbaik. Tapi orang juga perlu memahami sebagai negara, kita sedang berkembang dalam sepakbola," ucap Shayne Pattynama di Sawangan, Depok, belum lama ini.
Shayne menyayangkan anggapan yang meremehkan kompetisi dalam negeri. Sikap tersebut justru mencerminkan kurangnya kepercayaan terhadap proses pembangunan sepakbola nasional.
Baca Juga: Kenal Rizky Ridho dan Jordi Amat, Shayne Pattynama Ingin Adaptasi Cepat Bersama Persija
“Ketika orang berkata, ‘jangan ke Indonesia, liga itu jelek’, menurut saya itu merendahkan Indonesia. Padahal kita sedang bertumbuh,” ujarnya.
Ia menegaskan banyak upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas kompetisi, mulai dari federasi, operator liga, hingga para pemangku kepentingan lainnya.
“Federasi, Presiden PSSI, liga, semua orang sedang bekerja keras membawa Super League ke level berikutnya. Kalau ingin Timnas berkembang, liganya juga harus berkembang,” kata Shayne.
Bagi Shayne, kompetisi domestik yang kuat merupakan fondasi utama bagi tim nasional yang kompetitif. Sebagai pemain Timnas Indonesia, ia ingin ikut berkontribusi dalam proses tersebut.
“Saya paham kritik itu perlu, dan saya tahu semua ingin yang terbaik. Tapi kita juga harus berkembang sebagai negara, dan ini bagian dari proses itu,” ujarnya.
Ia menambahkan kehadiran pemain diaspora di Super League diharapkan membawa nilai tambah, baik dari sisi kualitas permainan maupun profesionalisme.
“Apa yang ingin saya bawa ke timnas dan ke kompetisi ini adalah kualitas dan pengalaman. Ada Thom, Eliano, Marc Klok, dan pemain lain. Kita harus saling membantu untuk tumbuh,” tutur Shayne.
Menurutnya, kritik yang konstruktif tetap dibutuhkan, namun harus disertai keseimbangan dan dukungan terhadap sepakbola nasional.
“Kritik itu perlu, tapi harus seimbang. Jangan terlalu negatif karena itu sama saja merendahkan negara sendiri. Itu pendapat saya, meski tentu setiap orang berhak punya pandangan,” ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









