Akurat

Sejumlah Pemain Sepak Bola Iran Tewas dalam Kerusuhan, FIFA Dikecam karena Bungkam

Fitra Iskandar | 15 Januari 2026, 19:09 WIB
Sejumlah Pemain Sepak Bola Iran Tewas dalam Kerusuhan, FIFA Dikecam karena Bungkam

AKURAT.CO Laporan media dan organisasi hak asasi manusia menyebut sejumlah pesepakbola Iran tewas dalam gelombang protes yang berlangsung sejak akhir Desember. Peristiwa ini kembali memicu kekhawatiran serius atas penggunaan peluru tajam terhadap demonstran tak bersenjata oleh aparat keamanan.

Sedikitnya tiga pesepakbola Iran dilaporkan meninggal dunia sejak aksi protes dimulai pada 28 Desember. Kematian para atlet tersebut mendorong mantan kapten tim nasional Iran melontarkan kritik tajam terhadap FIFA, yang dinilai bungkam atas tewasnya atlet dalam aksi demonstrasi.

Salah satu korban adalah Mojtaba Torshiz, mantan pemain Tractor Tabriz. Ia dan istrinya dilaporkan tewas dalam protes di Qaemshahr, Provinsi Mazandaran, Iran utara, pada Kamis. Sumber setempat menyebut pasangan tersebut ditembak aparat keamanan, namun otoritas Iran belum memberikan penjelasan resmi terkait insiden itu.

Beberapa laporan menyebut istri Torshiz, Arezoo Madani, sebenarnya masih hidup namun mengalami luka parah. Pasangan tersebut memiliki dua anak. Sepanjang kariernya, Torshiz pernah membela sejumlah klub Iran, termasuk Nassaji Mazandaran, Tractor Tabriz, Fajr Sepasi Shiraz, dan Mes Kerman.

Mantan kapten tim nasional Iran, Masoud Shojaei, mengecam FIFA melalui unggahan di Instagram. Ia mempertanyakan sikap badan sepak bola dunia itu yang dinilai diam atas kematian atlet selama protes berlangsung.

Kritik serupa disampaikan Saeid Mahmoudizad Azari, mantan CEO sejumlah klub sepak bola Iran. Dalam unggahannya di media sosial, ia menyebut tindakan aparat sebagai kejahatan serius dan menuding pemerintah memberi label “perusuh” dan “teroris” kepada demonstran untuk membenarkan kekerasan.

Korban lainnya adalah Rebin Moradi, pesepakbola muda berusia 17 tahun yang bermain untuk tim junior Saipa. Ia tewas ditembak di Parand, dekat Teheran. Ayah Moradi mengatakan hasil forensik menunjukkan anaknya ditembak dari jarak dekat dari arah belakang, dengan peluru menembus dada hingga merenggut nyawanya.

Laporan juga menyebut aparat sempat mensyaratkan pelepasan jenazah Moradi dengan permintaan agar ayahnya memberikan wawancara kepada televisi pemerintah dan menyatakan anaknya tewas akibat ulah “perusuh”. Sehari kemudian, televisi negara menayangkan wawancara tersebut, di mana sang ayah dengan suara bergetar mengatakan putranya ditembak dari jarak dekat.

Selain itu, Amir Mohammad Kouhkan, penjaga gawang futsal sekaligus pelatih, dilaporkan tewas akibat tembakan langsung saat protes jalanan di Provinsi Fars. Beberapa jam sebelum tewas, ia sempat mengunggah cuplikan film Taxi Driver di Instagram.

Organisasi-organisasi HAM internasional berulang kali memperingatkan meningkatnya jumlah korban tewas dalam protes Iran, termasuk remaja dan atlet. Mereka mendesak dilakukan penyelidikan independen, transparan, dan bertaraf internasional atas kematian para demonstran.

Gelombang protes terbaru di Iran dipicu aksi pedagang di pusat perbelanjaan Alaeddin, Teheran, yang memprotes lonjakan harga pangan akibat hiperinflasi. Aksi tersebut kemudian menyebar ke berbagai kota dan direspons dengan tindakan represif aparat keamanan, termasuk pemadaman internet secara luas.

Menurut organisasi independen, jumlah korban tewas telah mencapai ribuan orang, memunculkan kekhawatiran akan menjadi salah satu periode paling berdarah dalam sejarah modern Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa dirinya mendapat jaminan dari “sumber tepercaya” bahwa pemerintah Iran telah menghentikan pembunuhan dan tidak akan melakukan eksekusi terhadap para demonstran, meski klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.