Skuad Timnas Malaysia U-23 di SEA Games Serba Minimalis dan Bikin Pesimis

AKURAT.CO Menjelang gelaran sepak bola SEA Games 33 di Thailand, kekhawatiran soal kesiapan Timnas Malaysia U23 semakin menguat. Salah satu keraguan datang dari mantan pemain timnas, Nasir, yang pernah membela Malaysia pada periode 1975–1984. Di usianya yang kini 70 tahun, Nasir mengaku pesimistis dengan peluang Malaysia menghadapi tim kuat seperti Vietnam.
“Saya risau dengan kemampuan kita untuk menewaskan Vietnam,” ujar Nasir kepada New Straits Times. “Mereka tim yang tangguh, sementara U23 kita belum menunjukkan performa yang meyakinkan di kualifikasi terakhir.”
Pandangan Nasir merujuk pada hasil minor Malaysia yang tersingkir dari ASEAN U23 Championship 2025 dan Kualifikasi Piala Asia U23 2026. Ia menilai pemusatan latihan yang baru dimulai pada 25 November terlalu mepet, tanpa agenda uji coba internasional untuk memperbaiki kelemahan.
“Selepas dua turnamen itu, adakah tim ini bermain uji coba di luar negeri untuk memperbaiki permainan? Tidak,” kritiknya. Ia juga menyoroti minimnya komunikasi publik dari staf pelatih. “Tak ada konferensi pers, tak ada informasi tentang progres tim. Pemain pun baru dipanggil pada 25 November—itu sangat terlambat.”
Meski terdengar keras, Nasir menegaskan kritik tersebut bukan untuk menjatuhkan, tapi memotivasi.
“Kalau ada yang bilang kalian tak akan tembus semifinal, buktikan sebaliknya. Bermainlah sepenuh hati,” tegasnya.
Dari sisi pemain, penyerang Haqimi Azim Rosli mengakui tantangan yang menanti. Ia menyebut Vietnam sebagai tim kuat karena status juara AFF dan lolos ke Piala Asia, namun menegaskan fokus utama tetap pada laga pembuka melawan Laos.
“Vietnam memang kuat, tapi kami tak boleh memandang rendah Laos,” ujar Azim yang akan tampil untuk kedua kalinya di SEA Games.
Kekuatan Malaysia juga dipertanyakan karena komposisi skuad. Dari total 23 pemain, hanya enam yang berasal dari liga kasta tertinggi, Malaysia Super League, sementara sisanya bermain di divisi dua.
Kondisi ini berbeda jauh dengan para pesaing mereka. Vietnam menjalani pemusatan latihan di Qatar dan mengikuti turnamen U22 Panda Cup melawan tim kuat seperti China, Korea Selatan, dan Uzbekistan. Sementara Laos memiliki keuntungan karena mayoritas pemainnya baru tampil di Kualifikasi Piala Asia 2027.
Performa Malaysia di SEA Games juga tak menunjukkan perkembangan berarti dalam beberapa edisi terakhir. Kali terakhir mereka mencapai final adalah pada edisi 2017 ketika menjadi tuan rumah. Sementara medali emas terakhir didapat pada SEA Games 2011 di Indonesia.
Situasi tim nasional Malaysia makin rumit setelah Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) menghadapi persoalan baru: tujuh pemain naturalisasi yang diskors FIFA akibat penyalahgunaan dokumen kini menuntut kompensasi jutaan dolar atas hilangnya pendapatan selama masa larangan bermain.
Sementara itu, negara pesaing telah menyusun strategi ambisius. Tuan rumah Thailand menargetkan 241 medali emas dari 580 nomor, sementara Indonesia membangun skuad kuat dengan memasukkan lima pemain naturalisasi asal Belanda untuk mempertahankan emas cabor sepak bola.
Dengan persiapan seadanya, skuad yang relatif muda, serta tekanan besar dari publik, Malaysia menuju SEA Games 33 dalam posisi sebagai underdog. Namun, bagi sebagian pendukung dan legenda seperti Nasir, justru di situlah kesempatan Malaysia membalikkan keadaan—jika para pemain mampu menjadikan keraguan sebagai bahan bakar motivasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









